Aku masih saja tertegun di depan
layar lebar yang nampak gusar karena tak jua di jamah oleh jemari yang
seharusnya menari di atas papan qwerty. Layar lebar itu seolah tak sabar
menunggu pijatan-pijatan yang nantinya menghasilkan sebuah gagasan, atau bisa saja
layar lebar itu gusar karena enggan menunggu terlalu lama, sebab dayanya mulai
sayup dan harus lah kembali di isi. Ah, akhirnya layar lebar itu pun menyerah,
mati dengan sendirinya. Sebab itu, aku pun baru mulai menggerakan jemari dengan
di mulai nya pijatan di sudut kiri atas. Ya, Tombol power on.
Dari balik pintu tepat di belakang
tempatku kala itu, terdapat sepasang sepatu yang tengah menanti untuk di ajak
berlari kencang. Aku sadar, tapi aku enggan untuk menghampiri. Mungkin nanti
atau tidak sama sekali. Aku pun kembali melanjutkan sebuah gagasan menggunakan
papan qwerty, gagasan itu tak ubahnya semua pengalaman pribadi yang harusnya
menjadi rahasia hati namun kali ini aku mengunggahnya ke sebuah dinding yang ku
ramu seperti kamarku sendiri. Ku berikan stiker lucu yang kerap menggundang
mata pembaca ingin berlama-lama, ditambah dengan alunan musik yang sengaja aku
suguhkan, alunan cinta tentunya. Apalagi, beberapa bingkai foto yang ku tata
rapih dan akan berganti sesuai irama yang telah di setting, agar tidak jemu aku tambahkan beberapa gambar lucu tentang
aku dan keluargaku.
Akan tetapi, sayang…apa yang termuat
dalam dinding semu itu tak senada dengan dekorasi, kebanyakan bermuat kisah
sedih yang belakangan ini terjadi. Kisah yang benar-benar sedih bahkan aku
merasa hidup ku seperti dalam sebuah drama tanpa komedi yang di putar dari
durasi pertama hingga akhir. Tak lama seorang wanita menghampiri dan menyapaku.
Wanita patuh baya yang tak punya sedikitpun
guratan yang menunjukan akan hal itu. Tadinya.
Namun, belakangan ini yaa tepatnya sebulan belakangan ini guratan itu mulai
menunjukan dirinya tanpa ragu. Ini sih bukan karena wanita paruh baya itu tak
lagi menggunakan pelembab muka yang ber tagline
‘ age miracle ‘. Bahkan, setauku wanita itu tak pernah mengenakan pelembab
muka seperti itu. Jelas saja aku kenal betul, wanita itu adalah wanita yang
pernah mengeluarkan ku dalam rahim waktu. Tepatnya, 16 tahun yang lalu sebelum akhirnya aku sibuk dengan
dunia ku sendiri. Guratan di wajah Ibu itu timbul karena pikirannya mulai kalut
dengan masalah yang sedang Ia topang sendiri.
Sapanya kala itu mengejutkan ku,
padahal suaranya tak sampai mencengkam ke latar atau menggetarkan gelas-gelas
disekitarku. Sapanya lembut itu mengejutkan hati ku, menyuruhku untuk berhenti
sejenak untuk sekedar mengurus tiga orang adik yang sebenarnya sudah bisa mandi
dan makan sendiri. Hanya saja, wanita itu butuh sedikit waktu tanpa ingin diketahui
mereka. Aku tak lagi heran, sebab itu memang yang seharusnya dilakukan daripada
nanti adik-adik ku tahu dan ribut memperdebatkan untuk ikut.
Lepas itu, ku tengok seorang
laki-laki berjalan seraya membungkuk padahal Ia tak pernah berjalan seperti
itu. Tatapannya hanya berpusat pada satu titik, tepat di ubin-ubin putih
pelataran rumahku. Aku menatapnya sampai
benar-benar puas setelah itu hela nafasku panjang. Yang bisa merasakan tentang
apa yang ada di benak ku hanya aku seorang, aku tak membaginya pada siapapun.
“Hati-hati ya, bu.” Ucapku kala itu pada wanita tadi yang tengah menuntun
laki-laki itu yang tak lain adalah Abi ku, dibantu dengan seorang bapak-bapak
yang tak asing lagi di pelupuk mataku, sahabat baik Abi.
Habis itu, jemari ku kembali ku
letakan di atas papan qwerty dan mulai menari menceritakan yang barusan
terjadi. Padahal, aku di perintahkan untuk menjaga adik-adik ku tetapi aku
hanya melihat mereka sesekali lalu melanjutkan hobby ku tadi. Tak lama aku
menyadari, hari mulai nampak sayup menunjukan malam yang kian liar. Harusnya
untuk gadis seusiaku sudah terlelap dalam mimpi yang menggerogoti, tetapi tidak
denganku.
Esok hari tiba, namun masih saja aku
duduk di bangku berwarna hijau yang muat hanya untuk seorang diri yang biasa di
letakan berpasangan dengan meja belajar dan lampu pijar. Namun, aku mulai
menyadari sesuatu bahwa wanita malam itu tak jua pulang bersama lelaki yang
malam itu juga ku amati, tak lain tak bukan mereka kedua orangtuaku. Ku coba
hubungi Ibu, dan kabar tak sedap mengiris telingaku. Abi, masuk rumah sakit.
Ah, ini bagai mimpi buruk yang harus aku
alami. Padahal, ku ingat malam ini aku tidak sedang tidur jadi aku tak sedang
hanyut dalam mimpi yang menggerogoti. Aku mencoba tegar dan ku tutup telpon
tadi, aku merasa sendiri dalam hamparan pasir putih sambil di iringi matahari
yang sebentar lagi tergelincir di balik luasnya genangan air. Hingga akhirnya,
semua nampak gelap. Tak bercahaya tak berpenghuni.
Ku cium pipi halus dan ku belai
beberapa helai rambut hitam si bungsu yang tengah terlelap dalam mimpi yang
semestinya indah sebab si bungsu hanya mengerti tertawa dan bahagia. Namun
keberadaan ku di situ tak ubahnya menganggu dengan beberapa tetes air yang tak
jarang terjatuh dari sudut mata ku dan membasahi pipi halus itu.
“Kakak, kenapa kok nangis?” ujarnya
kala itu sambil membersihkan pipinya yang basah karena air mata yang tak
sanggup lagi ku bendung. Dengan sigap aku menjawab “enggak apa-apa, dede tidur
lagi aja.” Tanpa berpikir panjang si bungsu melanjutkan tidurnya, terlihat lucu
bagi ku. Kepolosannya membuat ku sedikit terhibur, bayangkan saja bagaimana
tidak… harusnya kalau kejadian tadi terjadi antara aku dan gadis seusiaku
pastilah gadis itu tak akan melanjutkan tidurnya dan malah memaksa ku untuk
menceritakan alasan mengapa air di pelupuk mataku mengalir. Aku tak marah pada
si bungsu, hanya hatiku sedikit menyesal membuatnya terbangun dan menjadi agak
sulit tidur lelap kembali.
***
Detak jarum jam yang lamban, seperti
kemarin juga. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul duabelas tengah malam. Angin
menusuk membuatnya menggigil. Mencucuk sumsum tulang. Membuat hasrat ingin
buang hayat kecil makin memuncak. Namun, tak seorang pun dapat ditepuk saat
itu. Akhirnya, air mengalir dengan derasnya membasahi seisi kasur.
Aku ingat betul waktu itu, aku sangat
menyesali kejadi saat itu. Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di ubin putih
dengan sehelai kain yang biasa aku gunakan untuk mengurangi dinginnya malam
yang makin liar. Tak biasanya aku tidur di ubin seperti itu, alih-alih ingin
membuat kenyamanan pada sang suami malah sesal yang aku dapati. Paginya, saat
aku tengok ke kasur putih yang letaknya persis disamping tempat ku tidur di
ubin kala itu, aku dapati keadaan suami yang sudah di luar kendali, dengan
pakaian yang sudah berserakan disana-sini akibat memaksakan diri membuang air
seni malam itu. Padahal, ku tau suamiku tak berdaya untuk melakukan itu
sendiri. Jangan kan untuk membuang air seni, untuk mengucapkan kata ‘aku cinta
kamu’ pun sudah tak disanggupi. Sebab, keadaannya tak lagi seperti dulu. Kini
Ia harus menghadapi penyakit yang makin hari menggerogoti, semua itu ulah gulungan
nikotin yang begitu ia gemari.
Ditambah lagi, matanya yang dulu
nampak bersinar dengan bulu mata yang lentik membuat ku jatuh cinta, kini mulai
tidak ku kenali. Matanya bengkak, katupnya mulai menutup karena selaput putih
yang keluar dari pelupuk matanya. Hati ku teriris melihat kondisi sang suami
saat itu. Aku merasa gagal menjadi istri, membiarkan suami menghisap gulungan
nikotin tiap waktu. Dampaknya baru terasa saat ini, saat usianya masuk kategori
paruh baya. Padahal, kami bercita-cita hidup sampai rambut berubah menjadi
putih seutuhnya.
Saat Ia menyadari akan kondisi mata
yang sulit untuk di ajak berkompromi, Ia mulai mengucapkan kata-kata yang sama
sekali tak ingin ku dengar.
“Bu, aku sudah ingin pergi” Ujarnya
sambil menggerakan jemari dengan susah payah untuk mendapati genggaman erat
telapak tanganku saat itu.
Namun bodohnya aku, aku tak menghiraukan
gerakan jemarinya. Aku biarkan jemari itu bergerak tanpa ada umpan balik yang
semestinya Ia dapati. Bukan aku enggan, hanya saja aku tak ingin jabatan tangan
itu menjadi yang terakhir kalinya. Aku masih mengharapkan miracle , barangkali Tuhan masih beri kami kesempatan untuk bersama
lebih lama lagi.
***
Begitulah cerita yang aku dengar setelah
beberapa hari bendera kuning mejeng di
sudut kiri gang rumah ku. Ku dengar cerita itu berkali-kali, awalnya hati ku
seperti hancur berkeping-keping. Lama-lama aku sadar, tak ada yang perlu di sesali.
Hanya saja, aku mulai membenci gumpalan asap putih yang bersumber dari gulungan
nikotin. Aku hanya merasa benda itu yang harusnya bertanggung jawab atas
kepergian Abi. Di tambah lagi, jika ku ingat malam itu, malam dimana Ibu, Abi,
dan sahabat Abi beranjak dari rumah dan aku tak sempat ikut menuntunnya ke
masuk kedalam mobil. Ah, ingin rasanya
aku mati. Malah kini, aku harus menuntun Abi untuk pergi ke perisitirahatannya
yang terakhir kali.
Akan tetapi, setelah bertahun-tahun
ku jalani, hidup tanpa Abi. Aku mulai mengerti bahwa waktu orangtua lebih
singkat dari waktu yang ku punya, sudah seharusnya aku lebih banyak berdiam
diri di dalam rumah bersama Ibu dan tiga adikku dan tidak memprioritaskan layar
lebar yang saban hari aku geluti, harusnya sesekali bicara pada keluarga dari
hati ke hati tentang apa-apa saja yang sudah ku lalui hari demi hari.
Sesederhana itu? Ya.. tapi itu jauh lebih berarti.
Bagus
BalasHapus