Selama napas
berembus, selalu ada cerita tentang wanita yang kesepian di sela-sela
hidup yang sebentar. Seperti itulah Kartini dalam menjalani
hidupnya. Padahal, Ia wanita yang amat beruntung mendapatkan pria yang pendiam,
tetapi menyenangkan.
Ditambah
lagi, pria itu seorang serdadu. Siapa yang tak bangga,
berdampingan dengan seorang serdadu. Katakan
saja, berdiam diri pun mereka tampak gagah.
Kediaman mereka pun menjadi idaman. Bayangkan saja seperti
kebanyakan gambar gedung-gedung di dalam buku, megah dan mewah. Sering sekali,
Kartini duduk di balkon rumahnya sambil menunggu senja. Ia begitu menyukai
senja.
“Mengapa kau selalu berdiam diri di sini?”
ujar sang suami mengejutkannya.
“Aku sangat mencintai senja.
Entah mengapa
senja tampak suci di mata. Begitu indah tanpa pengecualian. Senja begitu tenang,
tetapi menyenangkan,
seperti halnya dirimu,” jawab
Kartini.
Kartini menjawab sambil mata menatap langit yang mulai tampak kemerah-merahan
dengan balutan warna oranye. Ditambah
lagi, gumpalan awan yang sedikit demi sedikit tampak kebiruan.
Suaminya hanya tersenyum sambil merangkul bahu Kartini dengan lembut
dan penuh
kasih sayang.
“Namun, senja tak pernah bisa
berlama-lama,” ucap
Kartini tiba-tiba.
“Ya, senja persis sepertimu. Tak pernah bisa berlama-lama,”
lanjutnya cukup membuat pikiran suaminya kalut.
“Aku pergi untuk mencari nafkah, selain
itu tidak,” ucapnya agak serius.
“Pergilah mencari nafkah sebanyak yang Kau
inginkan, asal jangan Kau cari gadis perawan seperti yang Kau
idamkan karena itu begitu menyakitkan,” jawab Kartini sambil
tertawa kecil, seraya memancing sedikit emosi sang suami.
“Ah, mana pernah aku berbuat sekeji itu. Aku mendambamu
sejak dulu bahkan aku tak
butuh toleransi dalam mencintaimu,” ujar
sang serdadu
membuat hati Kartini berbunga.
Tak
terasa langit mulai gelap. Gumpalan
awan yang tadinya kebiruan sedikit demi sedikit berubah menjadi kehitaman menandakan senja telah habis, malam pun tiba.
“Ayo, kita turun sayang. Udara malam
di sini
cukup dingin,” ucap suami Kartini sambil membelai lembut rambut Kartini.
Kartini pun beranjak
dari kursi berbahan dasar kayu jati beralaskan bantal yang sebenarnya masih
mengiurkannya untuk berlama-lama di sana. Akan tetapi,
kenyamanan itu tak mereka hiraukan, kalah dengan embusan angin
yang perlahan membangkitkan bulu kuduk mereka.
Mereka beranjak dari tempatnya masing-masing,
lalu bergandengan tangan
diiringi rembulan yang tampak bersinar melihat kemesraan mereka. Namun, dalam hati mereka
sadar betul tak ada cinta yang abadi. Jika sewaktu-waktu
harus dipisahkan, mereka pasti tak bisa menghilangkan kenangan ini, berada di
balkon sambil mengabadikan cinta dalam hitungan detik saat terbenamnya
matahari.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di ruang televisi, tetapi Kartini masih dalam lamunannya.
Entah apa itu, yang tampak memenuhi ruang sempit di kepalanya, sedangkan
sang suami mulai memandangi penuh birahi, maklum, malam
ini waktunya sunah dipenuhi. Sungguh ini surga duniawi bagi pasangan yang diridai sang ilahi.
Kartini yang sedari tadi melamun, menyadari akan maksud hati
sang suami.
“Mari, kita ciptakan buah hati,” ucap
Kartini sambil
tersenyum.
Sang suami pun membalas senyumnya “Sebelum
itu, Kau pijatkan dulu
punggungku malam ini, Istriku,” jawabnya sambil menggoda.
“Itu sudah kewajibanku, Suamiku,”
sahutnya sambil mengambil minyak pijat yang diletakkan di
kotak putih yang biasa menempel di dinding.
Dengan lembut Kartini memijat punggung sang
suami, yang kala itu tampak lelah.
Memang
kelelahan akan terasa bila malam menjelang. Urat syaraf sang suami tampak
tegang. Akan tetapi, semua seolah hilang saat bersama Kartini. Bagai
menemukan kesegaran baru setelah seharian ditimpa beban negara.
Lama kartini menyadari sang suami tertidur saat dipijat.
Kartini pun beranjak pergi dari sofa yang Ia duduki.
Kartini
mulai berjalan menapaki malam yang kelam di luar rumah. Tak lama kemudian, Ia
berpapasan dengan ibu tua yang tak asing di matanya. Ibu itu jauh lebih lama
mengenal Kartini daripada sang suami. Bukan ibu secara biologis,
tetapi kedudukannya setara di hati
Kartini. Ibu tua itu adalah pembantu Kartini sejak kecil hingga kini.
Keduanya
tak pernah sungkan untuk merangkul saat salah satu
di antara
mereka di posisi yang buruk.
Tanpa basa-basi,
Ibu tua itu menemani Kartini mengitari kompleks, meski
tanpa tujuan yang jelas. Kartini pun hanya tersenyum,
tetapi tak mengatakan sepatah
katapun. Entah, ada yang aneh dengan Kartini belakangan ini. Tak lama berjalan,
mereka melintasi sebuah warung kecil di pinggir jalan yang dipenuhi
sopir-sopir yang sedang duduk-duduk melepas lelah dengan
wajah berkilat karena keringat. Tak ada yang
salah dengan pemandangan itu, hanya saja kecantikan Kartini membuat mata para
lelaki itu tertuju padanya.
Ibu tua yang menemani Kartini
perlahan mulai khawatir dengan situasi seperti itu.
Bagaimanapun, Kartini adalah majikannya yang patut Ia lindungi, meski
supir-supir tadi hanya mengamati
Kartini sekali-kali.
“Non, kita pulang saja, sudah larut malam.
Lagipula,
Non mau kemana?” tanya ibu tua tersebut.
Kartini yang dari tadi tak menghiraukan pandangan para
lelaki tadi hanya menjawab.
“Entah, Bi. Aku ingin mencari udara sejuk saja.”
“Tapi… ini sudah malam. Sebaiknya,
Non tidur
di rumah menemani
suami yang baru saja pulang dari Samarinda.”
Mendengar hal itu, Kartini pun menyadari
bahwa sang suami ingin ditemani olehnya. Mereka pun bergegas pulang menuju
rumah. Rupanya, sesampainya di rumah, sang
suami sudah tertidur lelap. Terdengar
dengkuran keras hingga telinga agak tersiksa mendengarnya.
Melihat sang suami yang tampak nyenyak,
Kartini pun menghampiri dengan perlahan dan mencium pipinya, tetapi hal itu sama sekali tak mengganggunya.
Pagi pun tiba, matahari mulai menampakkan
kilaunya tanpa malu-malu. Cahayanya mulai memantul melalui jendela kamar yang
berukuran seperti pintu. Maklum ini rumah elit bergaya klasik. Sayangnya,
matahari kalah pagi dengan Kartini. Ia sudah bangun
sebelum subuh tadi untuk menyiapkan sarapan pagi, membersihkan seisi rumah, dan
menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan sang suami untuk tempur hari ini. Sementara, sang serdadu masih berbaring di atas kasur putih,
berbalut selimut tebal mulai mengumpulkan tenaga untuk bangun dan mandi. Setelah itu, sang suami duduk di
meja makan yang telah dipenuhi dengan beragam makanan yang
disiapkan oleh Kartini. Namun, sang suami lebih terarik dengan roti isi berbalut lelehan
kacang daripada makanan berat, seperti nasi.
Kartini tak tinggal diam. Ia
mencoba membujuk sang suami untuk memakan beberapa suap nasi agar garbanya
lebih terisi, tetapi sang suami tetap tak minat
untuk mencicipi sesuap nasi. Hal ini
dikarenakan sang
suami tampak dikejar waktu. Ia harus tiba di markas pukul delapan
pagi, sedangkan jarum jam kini menunjukan pukul tujuh lewat
seperempat. Kartini sangat memaklumi, serdadu tak mempunyai waktu selonggar PNS
di perkantoran atau tak bisa sebebas musisi yang punya waktu 24 jam di rumah
untuk bekerja sambil ditemani sang istri.
Setelah
sarapan
selesai, sang suami berpamitan kepada Kartini. Agak haru, tetapi tak seperti dulu. Hal itu
sudah menjadi hal biasa bagi keduanya. Namun,
beberapa pesan selalu disampaikan sang suami kepada Kartini. Ah, kebahagiaan mereka tampaknya
hakiki. Aku iri.
Akan tetapi, cerita itu kudengar beberapa puluh tahun yang
lalu. Aku tak tahu lagi, bagaimana kelanjutan cinta mereka,
setelah aku pergi melanjutkan S2 ku di luar negeri. Kali ini,
kepulanganku ke Indonesia ingin menemui Kartini yang tak lain adalah sahabat
dekatku. Kami janji untuk bertemu di sebuah kedai dekat dengan kampus kami
sewaktu bergelut di dunia sastra dulu. Kedai Hotplane Remaja namanya.
Sudah lama sekali aku tak ke sini,
kurang lebih lima belas tahun. Tempat ini tak banyak berubah, hanya
bangunannya terkesan lebih tua seolah mengimbangi umurku yang kian menua. Lama
aku menunggu Kartini di sana, tanpa disadari telah kuhabiskan
tiga piring pisang cokes, kegemaranku. Beberapa menit kemudian,
aku melihat
seorang gadis tersenyum kepadaku dari kejauhan. Agak sedikit membingungkan
memang karena aku tak mengenal gadis itu,
tetapi wajahnya seperti pernah
kulihat. Lama kumemandanginya yang sedang menyeberangi jalan
menuju ke arahku. Aku menyadari wajah gadis itu mirip sekali dengan Kartini.
“Apakah itu Kartini? Masa iya, Kartini menjadi semakin muda?
Padahal,
kami lahir pada tahun yang sama,” gumamku dalam hati.
Gadis
itu pun tiba lebih dulu di mejaku.
“Assalamualaikum…” salamnya mengejutkanku.
Ia berucap salam sambil menyodorkan tangannya seolah ingin bersalaman denganku. Gadis ini sungguh mengingatkanku kepada
Kartini.
“Iya, Nak. Siapa namamu? Dan, ada keperluan apa kamu menghampiriku?” ucapku
tanpa basa-basi.
“Namaku Kartika, aku anak dari sahabat lamamu,
Kartini,” jawabnya singkat.
“Oh, kamu anaknya. Pantas,
wajahmu mirip sekali dengannya. Dimana Ibumu,
Nak?”
“Aku bingung harus menceritakannya
darimana. Yang jelas, Ia tidak
bisa menemuimu hari ini karena ada keperluan mendadak pagi tadi.
Sebagai
gantinya, aku yang datang menemuimu,” jelas Kartika
seolah mencari alasan.
“Oh begitu… Baiklah,
Kau
atau Kartini sama saja, sebab wajah kalian persis,
hanya Kartini lebih gemuk dan agak
sedikit tua,” jawabku mencoba mencairkan suasana.
Gadis
itu yang mengaku bernama Kartika, tampak tertawa kecil
mendengar ucapanku. Tak lama kemudian, Ia
menanyakan sesuatu hal kepadaku.
“Ibu, masih ingin melanjutkan novel yang sedang Ibu garap
tentang kedua orangtuaku, bukan?”
“Ya, tentu saja. Aku ingin menjadi saksi atas kebahagiaan
yang kalian capai hingga kini,” jawabku bersemangat,
mengingat novel yang akan ku garap akan digandrungi
oleh pembaca yang gemar kisah roman yang dibalut nilai agama yang
baik.
“Baiklah, Bu.
Kau
memang pantas mengetahui tentang apa yang terjadi di dalam
keluargaku. Tampaknya, aku juga membutuhkan teman
berbagi sepertimu,” jawabnya membuatku heran.
“Sampai di mana novelmu sekarang?” tanya Kartika kepadaku.
“Terakhir aku membahas tentang kepergian ayahmu ke
Samarinda. Ya, kisah ini juga kudengar dari Kartini melalui email yang sering kami
lakukan selama aku berada di Jerman,” jawabku.
“Oke, langsung saja pada bagian penting dalam hidupku,” lugasnya.
Dulu, ayah
dan ibu memang menjadi keluarga idaman setiap orang yang mendengarnya, tetapi keadaan berubah sejak
kelahiranku. Kelahiranku adalah fase pertama di mana Ibu berjuang sendiri
tanpa genggaman tangan Ayah. Aku menyesali akan hal itu.
Andai aku mengetahui
akan lahir
begitu menyusahkan Ibu, mungkin aku tak ingin lahir ke dunia ini.
Ceritanya membuat hatiku agak
teriris, tetapi aku tak menggubrisnya. Kubiarkan Ia melanjutkan kisah hidupnya. Aku melihat ada air terbendung di sudut matanya.
Ayah yang kala itu berada di
Samarinda betul-betul tidak mengetahui bahwa Ibu sedang hamil.
Apalagi,
ketika Ibu sedang melakukan proses persalinan. Bukan Ibu
tidak berusaha memberi tahu, tetapi ayah yang tidak bisa dihubungi selama
hampir sepuluh bulan berada di sana. Lama ayah tak kunjung pulang ke rumah.
Hingga aku
beranjak besar, usiaku lima tahun saat itu. Aku tak kunjung bertemu dengan
ayahku. Kata Ibu, ayahku sibuk bekerja.
Saat
itu aku masih anak-anak, yang percaya akan jawaban Ibu begitu saja. Ketika
aku beranjak dewasa, tiba di masa aku akhir baliqh,
tetapi belum juga aku bertemu
dengan ayahku. Aku hanya mengetahui wajahnya melalui foto. Itupun sedikit sekali
foto ayah yang ada di rumah. Sekalipun
ada, sulit sekali aku menemukannya. Terkadang,
diselipkan di bawah bantal oleh ibu atau di bawah tumpukan dokumen di laci
kamar Ibu. Suatu hari, di mana aku mulai merindukan ayahku.
Ingin kumelihatnya di dalam foto. Aku terus mencoba mencari di beberapa tempat
biasa Ibu menyembunyikannya, tetapi tak ada juga. Kupikir Ibu
membuangnya atau meletakkannya di gudang.
Ibu bersikap seperti itu karena Ibu
kecewa dengan Ayah yang tak kunjung pulang ke rumah.
Untuk menengokku
saja tak sempat, kata Ibu, waktu itu menjelaskan alasannya,
mengapa foto Ayah selalu saja Ia sembunyikan. Aku
menyadari, ada satu tempat yang tak pernah kusinggahi di rumah ini,
yaitu gudang. ‘Siapa tahu foto ayah ada di sana,’
pikirku kala itu.
Kartika terus bercerita tanpa
memberiku sedikitpun cela untuk berbicara atau sekadar
bertanya. Akan tetapi, kulihat matanya kian memerah dan bendungan air itu mulai tak sanggup lagi bertahan di sudut
matanya. Setetes air mata gugur. Melihat itu, aku semakin
tak tega untuk memberinya jeda, meski hanya koma.
Kubiarkan Ia melanjutkan ceritanya hingga Ia sampai ke puncak. Entah bahagia
atau kecewa.
Beberapa saat kemudian, Kartika
melanjutkan ceritanya, tentu setelah Ia menghapus air mata di
wajahnya dengan sehelai tissue yang kini berada di
genggamannya.
Aku
bergegas menuju gudang yang letaknya ada di balkon rumahku.
Aku membuka
pintu gudang dengan susah payah. Maklum, sudah berkarat.
Tak banyak
orang yang membuka gudang itu, kecuali Ibu dan Bibi.
Setelah berhasil kubuka, agak sulit untuk menemukan foto ayah. Barang
di sana
kebanyakan alat-alat perang dan pakaian loreng-loreng milik ayah yang sudah
lusuh.
Yang kutahu, ayahku adalah seorang serdadu atau sebut saja abdi negara.
Setelah cukup mengotori tanganku
dengan debu akibat mengobrak-abrik seisi gudang,
kutemukan tumpukan dokumen yang sudah hampir menjadi abu termakan oleh waktu. Ada
banyak foto, koran, dan beberapa dokumen yang tidak aku mengerti apa isinya. Ada
beberapa foto yang menarik perhatianku, yaitu foto kebersamaan ayah dan ibuku
yang tampak begitu serasi dan harmonis. Tak sampai hati aku
membayangkannya, begitu angkuhnya ayahku hingga tak mau menemui aku dan
ibuku selama belasan tahun.
“Ah, derai air matanya makin deras.
Apa yang
harus aku lakukan?” ujarku dalam hati. Seraya ingin
menghentikan sejenak pembicaraan ini, tetapi aku tak bisa.
Akan
tetapi, ada satu hal yang begitu menyayat hatiku dalam
beberapa tumpukan itu. Koran.
“Koran?” ucapku sigap
“Iya, koran. Koran yang mampu menjawab pertanyaan yang selama ini
berada dalam pikiran dan nuraniku.”
“Apa isi koran itu?” pungkasku.
“Koran itu… Ya, koran itu berisikan berita
tentang seorang serdadu yang di masukan ke bui karena diketahui mempunyai
penyakit kelainan seksual (Pedofilia). Itu adalah ayahku,” mendengar hal itu, aku tak mampu lagi berkata-kata bahkan untuk menangis pun aku seolah tak
sanggup. Apakah benar yang ada dalam koran yang dibaca Kartika?
Aku masih tak
percaya Kamto mempunyai kelainan seperti itu. Gumamku dalam hati.
Tiba-tiba,
Kartika menyodorkan selembar koran yang berisi tentang ayahnya. Aku termangu.
“Setelah kubaca koran itu, aku langsung berteriak hingga
bibi menemuiku ke atas dan langsung memelukku sambil mengucapkan kata sabar dan
istighfar untukku,” lanjutnya
berusaha tegar.
Parahnya, beberapa tahun belakangan ini ibuku gila dan masuk
ke salah satu rumah sakit jiwa di Jakarta. Awalnya,
kupikir Ibuku gila karena ayahku yang tak kunjung pulang ke rumah.
Ternyata, setelah kubaca koran itu aku baru mengerti… Ibuku gila
karena ulah ayahku yang menyisakan aib yang tak berkesudahan.
Mereka memandang
Ibuku dengan cara yang berbeda, bak menelanjanginya dari
ujung rambut hingga kaki. Selain itu, ada tanggungan moral kepada beberapa
keluarga yang anaknya menjadi korban pelecehan oleh ayahku. Kini, aku hidup
bersama bibi yang sudah mengurus Ibuku sejak kecil dan juga
mengurusku sekarang. Ia lebih dari seorang pembantu.
Ia sudah
kuanggap nenek sendiri.
Aku hanya
bisa menangis meratapi nasib keluarga sahabatku yang tragis. Apakah
mungkin aku sanggup untuk melanjutkan tulisanku dan menjadikannya sebuah novel?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar