Minggu, 29 Maret 2015

(Cerpen) SERDADU

Selama napas berembus, selalu ada cerita tentang wanita yang kesepian di sela-sela hidup yang sebentar. Seperti itulah Kartini dalam menjalani hidupnya. Padahal, Ia wanita yang amat beruntung mendapatkan pria yang pendiam, tetapi menyenangkan. Ditambah lagi, pria itu seorang serdadu. Siapa yang tak bangga, berdampingan dengan seorang serdadu. Katakan saja, berdiam diri pun mereka tampak gagah.

Kediaman mereka pun menjadi idaman. Bayangkan saja seperti kebanyakan gambar gedung-gedung di dalam buku, megah dan mewah. Sering sekali, Kartini duduk di balkon rumahnya sambil menunggu senja. Ia begitu menyukai senja.

“Mengapa kau selalu berdiam diri di sini?” ujar sang suami mengejutkannya.

“Aku sangat mencintai senja. Entah mengapa senja tampak suci di mata. Begitu indah tanpa pengecualian. Senja begitu tenang, tetapi menyenangkan, seperti halnya dirimu, jawab Kartini.

Kartini menjawab sambil mata menatap langit yang mulai tampak kemerah-merahan dengan balutan warna oranye. Ditambah lagi, gumpalan awan yang sedikit demi sedikit tampak kebiruan. Suaminya hanya tersenyum sambil merangkul bahu Kartini dengan lembut dan penuh kasih sayang. 

“Namun, senja tak pernah bisa berlama-lama,ucap Kartini tiba-tiba.

“Ya, senja persis sepertimu. Tak pernah bisa berlama-lama,” lanjutnya cukup membuat pikiran suaminya kalut.

“Aku pergi untuk mencari nafkah, selain itu tidak,” ucapnya agak serius.

“Pergilah mencari nafkah sebanyak yang Kau inginkan, asal jangan Kau cari gadis perawan seperti yang Kau idamkan karena itu begitu menyakitkan,” jawab Kartini sambil tertawa kecil, seraya memancing sedikit emosi sang suami.

“Ah, mana pernah aku berbuat sekeji itu. Aku mendambamu sejak dulu bahkan aku tak 
butuh toleransi dalam mencintaimu,” ujar sang serdadu membuat hati Kartini berbunga.

Tak terasa langit mulai gelap. Gumpalan awan yang tadinya kebiruan sedikit demi sedikit berubah menjadi kehitaman menandakan senja telah habis, malam pun tiba.

“Ayo, kita turun sayang. Udara malam di sini cukup dingin,” ucap suami Kartini sambil membelai lembut rambut Kartini.

 Kartini pun beranjak dari kursi berbahan dasar kayu jati beralaskan bantal yang sebenarnya masih mengiurkannya untuk berlama-lama di sana. Akan tetapi, kenyamanan itu tak mereka hiraukan, kalah dengan embusan angin yang perlahan membangkitkan bulu kuduk mereka.

Mereka beranjak dari tempatnya masing-masing, lalu bergandengan tangan diiringi rembulan yang tampak bersinar melihat kemesraan mereka. Namun, dalam hati mereka sadar betul tak ada cinta yang abadi. Jika sewaktu-waktu harus dipisahkan, mereka pasti tak bisa menghilangkan kenangan ini, berada di balkon sambil mengabadikan cinta dalam hitungan detik saat terbenamnya matahari.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di ruang televisi, tetapi Kartini masih dalam lamunannya. Entah apa itu, yang tampak memenuhi ruang sempit di kepalanya, sedangkan sang suami mulai memandangi penuh birahi, maklum, malam ini waktunya sunah dipenuhi. Sungguh ini surga duniawi bagi pasangan yang diridai sang ilahi. Kartini yang sedari tadi melamun, menyadari akan maksud hati sang suami.

“Mari, kita ciptakan buah hati,” ucap Kartini sambil tersenyum.

Sang suami pun membalas senyumnya “Sebelum itu, Kau pijatkan dulu punggungku malam ini, Istriku,” jawabnya sambil menggoda.

“Itu sudah kewajibanku, Suamiku,” sahutnya sambil mengambil minyak pijat yang diletakkan di kotak putih yang biasa menempel di dinding.

Dengan lembut Kartini memijat punggung sang suami, yang kala itu tampak lelah. Memang kelelahan akan terasa bila malam menjelang. Urat syaraf sang suami tampak tegang. Akan tetapi, semua seolah hilang saat bersama Kartini. Bagai menemukan kesegaran baru setelah seharian ditimpa beban negara.

Lama kartini menyadari sang suami tertidur saat dipijat. Kartini pun beranjak pergi dari sofa yang Ia duduki. Kartini mulai berjalan menapaki malam yang kelam di luar rumah. Tak lama kemudian, Ia berpapasan dengan ibu tua yang tak asing di matanya. Ibu itu jauh lebih lama mengenal Kartini daripada sang suami. Bukan ibu secara biologis, tetapi kedudukannya setara di hati Kartini. Ibu tua itu adalah pembantu Kartini sejak kecil hingga kini. Keduanya tak pernah sungkan untuk merangkul saat salah satu di antara mereka di posisi yang buruk.   
          
          Tanpa basa-basi, Ibu tua itu menemani Kartini mengitari kompleks, meski tanpa tujuan yang jelas. Kartini pun hanya tersenyum, tetapi tak mengatakan sepatah katapun. Entah, ada yang aneh dengan Kartini belakangan ini. Tak lama berjalan, mereka melintasi sebuah warung kecil di pinggir jalan yang dipenuhi sopir-sopir yang sedang duduk-duduk melepas lelah dengan wajah berkilat karena keringat. Tak ada yang salah dengan pemandangan itu, hanya saja kecantikan Kartini membuat mata para lelaki itu tertuju padanya.
       
      Ibu tua yang menemani Kartini perlahan mulai khawatir dengan situasi seperti itu. Bagaimanapun, Kartini adalah majikannya yang patut Ia lindungi, meski supir-supir tadi hanya mengamati Kartini sekali-kali.

“Non, kita pulang saja, sudah larut malam. Lagipula, Non mau kemana?” tanya ibu tua tersebut.

Kartini yang dari tadi tak menghiraukan pandangan para lelaki tadi hanya menjawab.

Entah, Bi. Aku ingin mencari udara sejuk saja.”

“Tapi… ini sudah malam. Sebaiknya, Non tidur di rumah menemani suami yang baru saja pulang dari Samarinda.”

Mendengar hal itu, Kartini pun menyadari bahwa sang suami ingin ditemani olehnya. Mereka pun bergegas pulang menuju rumah. Rupanya, sesampainya di rumah, sang suami sudah tertidur lelap. Terdengar dengkuran keras hingga telinga agak tersiksa mendengarnya. Melihat sang suami yang tampak nyenyak, Kartini pun menghampiri dengan perlahan dan mencium pipinya, tetapi hal itu sama sekali tak mengganggunya.

Pagi pun tiba, matahari mulai menampakkan kilaunya tanpa malu-malu. Cahayanya mulai memantul melalui jendela kamar yang berukuran seperti pintu. Maklum ini rumah elit bergaya klasik. Sayangnya, matahari kalah pagi dengan Kartini. Ia sudah bangun sebelum subuh tadi untuk menyiapkan sarapan pagi, membersihkan seisi rumah, dan menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan sang suami untuk tempur hari ini. Sementara, sang serdadu masih berbaring di atas kasur putih, berbalut selimut tebal mulai mengumpulkan tenaga untuk bangun dan mandi. Setelah itu, sang suami duduk di meja makan yang telah dipenuhi dengan beragam makanan yang disiapkan oleh Kartini. Namun, sang suami lebih terarik dengan roti isi berbalut lelehan kacang daripada makanan berat, seperti nasi.
           
         Kartini tak tinggal diam. Ia mencoba membujuk sang suami untuk memakan beberapa suap nasi agar garbanya lebih terisi, tetapi sang suami tetap tak minat untuk mencicipi sesuap nasi. Hal ini dikarenakan sang suami tampak dikejar waktu. Ia harus tiba di markas pukul delapan pagi, sedangkan jarum jam kini menunjukan pukul tujuh lewat seperempat. Kartini sangat memaklumi, serdadu tak mempunyai waktu selonggar PNS di perkantoran atau tak bisa sebebas musisi yang punya waktu 24 jam di rumah untuk bekerja sambil ditemani sang istri.

        Setelah sarapan selesai, sang suami berpamitan kepada Kartini. Agak haru, tetapi tak seperti dulu. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi keduanya. Namun, beberapa pesan selalu disampaikan sang suami kepada Kartini. Ah, kebahagiaan mereka tampaknya hakiki. Aku iri.

Akan tetapi, cerita itu kudengar beberapa puluh tahun yang lalu. Aku tak tahu lagi, bagaimana kelanjutan cinta mereka, setelah aku pergi melanjutkan S2 ku di luar negeri. Kali ini, kepulanganku ke Indonesia ingin menemui Kartini yang tak lain adalah sahabat dekatku. Kami janji untuk bertemu di sebuah kedai dekat dengan kampus kami sewaktu bergelut di dunia sastra dulu. Kedai Hotplane Remaja namanya.

            Sudah lama sekali aku tak ke sini, kurang lebih lima belas tahun. Tempat ini tak banyak berubah, hanya bangunannya terkesan lebih tua seolah mengimbangi umurku yang kian menua. Lama aku menunggu Kartini di sana, tanpa disadari telah kuhabiskan tiga piring pisang cokes, kegemaranku. Beberapa menit kemudian, aku melihat seorang gadis tersenyum kepadaku dari kejauhan. Agak sedikit membingungkan memang karena aku tak mengenal gadis itu, tetapi wajahnya seperti pernah kulihat. Lama kumemandanginya yang sedang menyeberangi jalan menuju ke arahku. Aku menyadari wajah gadis itu mirip sekali dengan Kartini.

“Apakah itu Kartini? Masa iya, Kartini menjadi semakin muda? Padahal, kami lahir pada tahun yang sama,” gumamku dalam hati.

Gadis itu pun tiba lebih dulu di mejaku.

“Assalamualaikum…” salamnya mengejutkanku.

Ia berucap salam sambil menyodorkan tangannya seolah ingin bersalaman denganku. Gadis ini sungguh mengingatkanku kepada Kartini.

“Iya, Nak. Siapa namamu? Dan, ada keperluan apa kamu menghampiriku? ucapku tanpa basa-basi.

“Namaku Kartika, aku anak dari sahabat lamamu, Kartini,jawabnya singkat.

“Oh, kamu anaknya. Pantas, wajahmu mirip sekali dengannya. Dimana Ibumu, Nak?”

“Aku bingung harus menceritakannya darimana. Yang jelas, Ia tidak bisa menemuimu hari ini karena ada keperluan mendadak pagi tadi. Sebagai gantinya, aku yang datang menemuimu,jelas Kartika seolah mencari alasan.

“Oh begitu… Baiklah, Kau atau Kartini sama saja, sebab wajah kalian persis, hanya  Kartini lebih gemuk dan agak sedikit tua,” jawabku mencoba mencairkan suasana.

Gadis itu yang mengaku bernama Kartika, tampak tertawa kecil mendengar ucapanku. Tak lama kemudian, Ia menanyakan sesuatu hal kepadaku.

“Ibu, masih ingin melanjutkan novel yang sedang Ibu garap tentang kedua orangtuaku, bukan?”

“Ya, tentu saja. Aku ingin menjadi saksi atas kebahagiaan yang kalian capai hingga kini,” jawabku bersemangat, mengingat novel yang akan ku garap akan digandrungi oleh pembaca yang gemar kisah roman yang dibalut nilai agama yang baik.

“Baiklah, Bu. Kau memang pantas mengetahui tentang apa yang terjadi di dalam keluargaku. Tampaknya, aku juga membutuhkan teman berbagi sepertimu,jawabnya membuatku heran.

“Sampai di mana novelmu sekarang?” tanya Kartika kepadaku.

“Terakhir aku membahas tentang kepergian ayahmu ke Samarinda. Ya, kisah ini juga kudengar dari Kartini melalui email yang sering kami lakukan selama aku berada di Jerman, jawabku.

“Oke, langsung saja pada bagian penting dalam hidupku,lugasnya.
            
            Dulu, ayah dan ibu memang menjadi keluarga idaman setiap orang yang mendengarnya, tetapi keadaan berubah sejak kelahiranku. Kelahiranku adalah fase pertama di mana Ibu berjuang sendiri tanpa genggaman tangan Ayah. Aku menyesali akan hal itu. Andai aku mengetahui akan lahir begitu menyusahkan Ibu, mungkin aku tak ingin lahir ke dunia ini.

Ceritanya membuat hatiku agak teriris, tetapi aku tak menggubrisnya. Kubiarkan Ia melanjutkan kisah hidupnya. Aku melihat ada air terbendung di sudut matanya.

            Ayah yang kala itu berada di Samarinda betul-betul tidak mengetahui bahwa Ibu sedang hamil. Apalagi, ketika Ibu sedang melakukan proses persalinan. Bukan Ibu tidak berusaha memberi tahu, tetapi ayah yang tidak bisa dihubungi selama hampir sepuluh bulan berada di sana. Lama ayah tak kunjung pulang ke rumah. Hingga aku beranjak besar, usiaku lima tahun saat itu. Aku tak kunjung bertemu dengan ayahku. Kata Ibu, ayahku sibuk bekerja.
          
       Saat itu aku masih anak-anak, yang percaya akan jawaban Ibu begitu saja. Ketika aku beranjak dewasa, tiba di masa aku akhir baliqh, tetapi belum juga aku bertemu dengan ayahku. Aku hanya mengetahui wajahnya melalui foto. Itupun sedikit sekali foto ayah yang ada di rumah. Sekalipun ada, sulit sekali aku menemukannya. Terkadang, diselipkan di bawah bantal oleh ibu atau di bawah tumpukan dokumen di laci kamar Ibu. Suatu hari, di mana aku mulai merindukan ayahku. Ingin kumelihatnya di dalam foto. Aku terus mencoba mencari di beberapa tempat biasa Ibu menyembunyikannya, tetapi tak ada juga. Kupikir Ibu membuangnya atau meletakkannya di gudang.
       
        Ibu bersikap seperti itu karena Ibu kecewa dengan Ayah yang tak kunjung pulang ke rumah. Untuk menengokku saja tak sempat, kata Ibu, waktu itu menjelaskan alasannya, mengapa foto Ayah selalu saja Ia sembunyikan. Aku menyadari, ada satu tempat yang tak pernah kusinggahi di rumah ini, yaitu gudang. Siapa tahu foto ayah ada di sana,’ pikirku kala itu.
            Kartika terus bercerita tanpa memberiku sedikitpun cela untuk berbicara atau sekadar bertanya. Akan tetapi, kulihat matanya kian memerah dan bendungan air itu mulai tak sanggup lagi bertahan di sudut matanya. Setetes air mata gugur. Melihat itu, aku semakin tak tega untuk memberinya jeda, meski hanya koma. Kubiarkan Ia melanjutkan ceritanya hingga Ia sampai ke puncak. Entah bahagia atau kecewa.   
     
       Beberapa saat kemudian, Kartika melanjutkan ceritanya, tentu setelah Ia menghapus air mata di wajahnya dengan sehelai tissue yang kini berada di genggamannya.
Aku bergegas menuju gudang yang letaknya ada di balkon rumahku. Aku membuka pintu gudang dengan susah payah. Maklum, sudah berkarat. Tak banyak orang yang membuka gudang itu, kecuali Ibu dan Bibi. Setelah berhasil kubuka, agak sulit untuk menemukan foto ayah. Barang di sana kebanyakan alat-alat perang dan pakaian loreng-loreng milik ayah yang sudah lusuh. Yang kutahu, ayahku adalah seorang serdadu atau sebut saja abdi negara.

            Setelah cukup mengotori tanganku dengan debu akibat mengobrak-abrik seisi gudang, kutemukan tumpukan dokumen yang sudah hampir menjadi abu termakan oleh waktu. Ada banyak foto, koran, dan beberapa dokumen yang tidak aku mengerti apa isinya. Ada beberapa foto yang menarik perhatianku, yaitu foto kebersamaan ayah dan ibuku yang tampak begitu serasi dan harmonis. Tak sampai hati aku membayangkannya, begitu angkuhnya ayahku hingga tak mau menemui aku dan ibuku selama belasan tahun.

“Ah, derai air matanya makin deras. Apa yang harus aku lakukan?” ujarku dalam hati. Seraya ingin menghentikan sejenak pembicaraan ini, tetapi aku tak bisa. 

Akan tetapi, ada satu hal yang begitu menyayat hatiku dalam beberapa tumpukan itu. Koran.

“Koran?” ucapku sigap

“Iya, koran. Koran yang mampu menjawab pertanyaan yang selama ini berada dalam pikiran dan nuraniku.”

“Apa isi koran itu?” pungkasku.

“Koran itu… Ya, koran itu berisikan berita tentang seorang serdadu yang di masukan ke bui karena diketahui mempunyai penyakit kelainan seksual (Pedofilia). Itu adalah ayahku,mendengar hal itu, aku tak mampu lagi berkata-kata bahkan untuk menangis pun aku seolah tak sanggup. Apakah benar yang ada dalam koran yang dibaca Kartika? 

Aku masih tak percaya Kamto mempunyai kelainan seperti itu. Gumamku dalam hati.
Tiba-tiba, Kartika menyodorkan selembar koran yang berisi tentang ayahnya. Aku termangu.  

“Setelah kubaca koran itu, aku langsung berteriak hingga bibi menemuiku ke atas dan langsung memelukku sambil mengucapkan kata sabar dan istighfar untukku,lanjutnya berusaha tegar.

Parahnya, beberapa tahun belakangan ini ibuku gila dan masuk ke salah satu rumah sakit jiwa di Jakarta. Awalnya, kupikir Ibuku gila karena ayahku yang tak kunjung pulang ke rumah. Ternyata, setelah kubaca koran itu aku baru mengerti… Ibuku gila karena ulah ayahku yang menyisakan aib yang tak berkesudahan. Mereka memandang Ibuku dengan cara yang berbeda, bak menelanjanginya dari ujung rambut hingga kaki. Selain itu, ada tanggungan moral kepada beberapa keluarga yang anaknya menjadi korban pelecehan oleh ayahku. Kini, aku hidup bersama bibi yang sudah mengurus Ibuku sejak kecil dan juga mengurusku sekarang. Ia lebih dari seorang pembantu. Ia sudah kuanggap nenek sendiri. 

Aku hanya bisa menangis meratapi nasib keluarga sahabatku yang tragis. Apakah mungkin aku sanggup untuk melanjutkan tulisanku dan menjadikannya sebuah novel?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar