Minggu, 29 Maret 2015

(Cerpen) Angan

Ceritakan padaku tentang penantiaan, tanyanya pada ku. ah terlalu banyak kau tau tentang itu. Kali ini aku ingin bercerita tentang angan. Angan yang akan membawamu kepada semua cerita. Jadi? Ujarnya penasaran. Biar angan yang menceritakan semuanya padamu.

Siang itu dikamar hotel kami bersenda gurau, membicarakan berita yang ada di koran pagi itu. Koran datang setiap hari digantung di pintu kamar dan aku selalu menggambilnya, bukan untuk kubaca melainkan aku menghormati pelayanan hotel saja. Tapi tidak untuk kali ini, koran itu aku ambil dan kubaca secara seksama. Tak lama dia datang, dan berbaring disebelahku. Aku tersipu malu namun dia terlihat amat nyaman.

            Ditaruhnya sebuah bantal dipunggungku dan meletakan kepalanya di atas bantal. Aku yang tengah membaca koran saat itu hanya terdiam seolah asik membaca koran. Beberapa saat kemudian Ia melihatku dengan amat penasaran tentang apa yang ada dalam berita pagi ini.

            “George, sungguh malang nasibmu menjadi korban ketidak adilan hukum pada masanya. Di Hukum mati dengan cara di dudukan pada sebuah kursi listrik oleh aparat negara yang sebenarnya lebih pantas dipanggil keparat Negara. Tujuhpuluhtahun sudah kasus ini baru mendapat keadilan dan pengakuan ketidak salahannya. Tapi semua itu seolah terlambat harusnya Ia sudah berumur 84 tahun kini.” Ujarnya mengagetkan ku yang sedang asik membaca berita dihalaman sebelah.

            “Aku malah belum baca” Ujarku sambil menoleh kearahnya
           
“Mana pernah kamu membaca apa yang aku baca”

            “Ah, kamu ini..” balasku seolah merasa tersindir oleh ucapannya

“Parahnya faktor utama George di hukum mati adalah perbedaan warna kulitnya dengan orang-orang yang sedang mengeksekusinya kala itu. Mereka fikir orang yang berkulit putih selalu benar apa? Tambahnya lagi.

“Ya, setidaknya untuk orang berkulit hitam seperti yang didekatku ini terkesan sangar dan keras” Ujarku meledeknya.

“Meledek kamu ya songong” Katanya sambil menjitak kepalaku.

Tak lama kemudian seorang wanita yang dari tadi ada bersamaku didalam kamar hotel pun melangkah ke kamar mandi. Tanpa basa basi melihat sikon itu, pria tadi yang menceritakan tentang George kepadaku mulai memegang tanganku erat. Aku hanya terdiam seolah terbiasa oleh hal itu.
                                                                             
                                                                              **** 

Aku jadi teringat sesuatu, pria ini telah lama bersamaku. Kami menghabiskan masa-masa bahagia bersamanya di ibu kota. Tinggal di apartemen dekat dengan kantor kami dan mempunyai anak-anak yang lucu dan pandai. Tinggal di apartemen adalah pilihannya.

“Aku ingin kita tinggal selama beberapa tahun disini, sambil kita mengumpulkan pundi-pundi untuk membeli rumah mewah dikawasan ini” Ujarnya saat itu

“Semua ku lakukan demi anak-anak kita, aku ingin melihat mereka dalam waktu yang panjang setiap harinya. Kalau kita mencari rumah yang jauh dari kantor kita kan kehabisan waktu dijalan dengan kemacetan dan gaji yang habis dijalan. Sedangkan untuk saat ini tabunganku belum cukup untuk membeli rumah mewah dikawasan seperti ini, apartemen adalah solusi terbaik” Katanya menjelaskan

            Iya juga sih, jawabku singkat.

Sepulang kantor Ia selalu tiba dirumah membawa makanan dan mainan untuk anak-anak. Ia begitu menyayangi mereka dan juga aku. Entah mengapa Ia melakukan itu semua.

Sayang, cintaku, ibu dari anak-anakku lagi apa? Ujarnya dalam sebuah pesan singkat Pesan itu selalu membuatku tersenyum.

                                                                               *** 
           
Tak lama wanita yang baru saja masuk ke kamar mandi pun keluar dan segera membereskan pakaian dan kopernya. Tanpa basa-basi aku pun beranjak dari kasur dan meninggalkan lembaran koran yang tadi kubaca dikasur beserta bungkus permen yang berserakan. Laki-laki yang bersama ku tadi pun beranjak dari tempatnya dan bergegas untuk mandi. Setalah melihatnya beranjak dari tempat nya aku pun membersihkan bungkus permen yang berserakan itu dan merapihkan lembaran koran yang habis ku baca.

“Tuh kan, kamu memang bersih” Ujarnya mengagetkanku

“Biasa aja, ini kan sampah sendiri jadi harus dibersihkan sendiri” Jawabku

Ia hanya tersenyum dan kemudian masuk kekamar mandi. Setelah semua dirasa beres, kami bertiga keluar dari kamar hotel dan pulang menggunakan inova. Diperjalanan pulang lagi-lagi laki-laki itu menggenggam tanganku, sesekali aku berusaha menolak namun tak jarang aku membiar hal ini larut begitu saja.

Sesampainya dirumah aku menerima sebuah pesan singkat bertuliskan sayangku.
Ya siapa lagi kalau bukan laki-laki tadi. Semua pesan singkat darinya yang ku terima selalu kubalas dengan ramah. Hingga suatu hari kami terperangkap dalam sebuah alur yang begitu rumit. Membahas hal yang selalu kita bicarakan berulang-ulang. Laki-laki itu begitu keras dengan semua pendapatnya. Aku sedikit lelah tapi aku tak pernah marah.
Sampai pada akhirnya aku membalas pesannya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

“Aku lagi nunggu dijemput pacarku”

“yaudah hati-hati” balasnya singkat.

Pesannya hanya menggantung disitu, sampai malam tak ada pesan indah yang masuk ke ponsel ku. Aku mencoba menghubunginya lebih dulu tak biasanya aku bersikap seperti ini. Setelah lama menunggu balasan, jawaban yang kudapat begitu menyebalkan. Entah mengapa Ia marah padaku.

            Lusa, senin pagi. Kami bertemu dikantor tingkah begitu dingin kepadaku, aku menanggapinya biasa saja tapi tak sedikit pikiran tentangnya memenuhi ruang sesak dikepalaku. Aku pulang lebih dulu hari ini, tanpa diantarnya sampai parkiran. Sesampai dirumah aku tak berusaha menghubunginya lagi karena sudah beberapa kali ku coba untuk menghubunginnya namun jawaban yang kudapat selalu dingin.

            Hingga malam pun tiba, saat lampu-lampu rumah mulai padam dan pintu-pintu rumah mulai terkunci aku mendapat pesan singkat darinya bertuliskan aku sakit. Membaca pesannya aku sedikit panik, ku pikir terjadi sesuatu padanya. Ternyata semua aman, hanya sakit biasa. Pembicaraan lewat pesan pun berlangsung sunyi tak ada canda tawa didalamnya. Malah tak jarang ungkapan perpisahan terlontar didalam pesan-pesannya itu. Aku menanggapinya cemas, tapi lama kelamaan aku merasa lelah. Aku mencoba menuruti keinginannya dan tak membalas pesannya lagi selama beberapa jam.
           
Hingga pagi pun tiba, tak ada dering khas yang biasanya muncul dari ponselku. Padahal, aku melihatnya sedang online tapi Ia tak menyapaku. Ah sudahlah, ujarku sepontan.

            Beberapa jam kemudian, terdengar dering telpon dari ponselku. Segera ku angkat dan seperti biasa memulai percakapan dengan ucapan assalamualaikum.  Percakapan kami diponsel pun terkesan biasa, tak seperti beberapa minggu belakangan ini yang selalu dipenuhi canda tawa dan angannya untuk bersamaku dalam sebuah apartemen bersama anak-anak yang lucu dan pandai.

                                                                                   
                                                                           ***

           Tiap kali ku ingat angannya untuk tinggal bersamaku disebuah apartemen bersama anak-anak yang lucu dan pandai yang selalu Ia lontarkan didalam percakapan panjang kami ditelpon aku hanya bisa menjawab, apa boleh buat kita berbeda. Aku masih terlalu muda untuk itu, sedangkan kau pantas mendapatkan yang lebih baik dan sesuai. Kami selalu cekcok tentang apa yang sudah sama-sama kita ketahui. Tak jarang kami menunjukan sikap egois kami terhadap masalah ini. Ia yang egois untuk tetap ingin bersamaku sampai kapanpun dan menjadikanku halal baginya. Aku yang egois untuk tetap bersamanya sebagai adik sampai Ia bahagia mendapatkan wanita yang sesuai dengannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar