Ceritakan padaku tentang penantiaan, tanyanya pada ku. ah terlalu banyak kau tau tentang itu. Kali ini aku ingin
bercerita tentang angan. Angan yang akan membawamu kepada semua cerita. Jadi?
Ujarnya penasaran. Biar angan yang menceritakan semuanya padamu.
Siang itu dikamar hotel
kami bersenda gurau, membicarakan berita yang ada di koran pagi itu. Koran
datang setiap hari digantung di pintu kamar dan aku selalu menggambilnya, bukan
untuk kubaca melainkan aku menghormati pelayanan hotel saja. Tapi tidak untuk
kali ini, koran itu aku ambil dan kubaca secara seksama. Tak lama dia datang,
dan berbaring disebelahku. Aku tersipu malu namun dia terlihat amat nyaman.
Ditaruhnya
sebuah bantal dipunggungku dan meletakan kepalanya di atas bantal. Aku yang
tengah membaca koran saat itu hanya terdiam seolah asik membaca koran. Beberapa
saat kemudian Ia melihatku dengan amat penasaran tentang apa yang ada dalam
berita pagi ini.
“George, sungguh malang nasibmu menjadi korban ketidak
adilan hukum pada masanya. Di Hukum mati dengan cara di dudukan pada sebuah
kursi listrik oleh aparat negara yang sebenarnya lebih pantas dipanggil keparat
Negara. Tujuhpuluhtahun sudah kasus ini baru mendapat keadilan dan pengakuan
ketidak salahannya. Tapi semua itu seolah terlambat harusnya Ia sudah berumur
84 tahun kini.” Ujarnya mengagetkan ku yang sedang asik membaca berita
dihalaman sebelah.
“Aku malah belum baca” Ujarku sambil menoleh kearahnya
“Mana
pernah kamu membaca apa yang aku baca”
“Ah, kamu ini..” balasku seolah merasa tersindir oleh
ucapannya
“Parahnya faktor utama George di hukum mati adalah perbedaan
warna kulitnya dengan orang-orang yang sedang mengeksekusinya kala itu. Mereka
fikir orang yang berkulit putih selalu benar apa? Tambahnya lagi.
“Ya,
setidaknya untuk orang berkulit hitam seperti yang didekatku ini terkesan
sangar dan keras” Ujarku meledeknya.
“Meledek kamu ya
songong” Katanya sambil menjitak kepalaku.
Tak lama kemudian seorang wanita yang
dari tadi ada bersamaku didalam kamar hotel pun melangkah ke kamar mandi. Tanpa
basa basi melihat sikon itu, pria tadi yang menceritakan tentang George
kepadaku mulai memegang tanganku erat. Aku hanya terdiam seolah terbiasa oleh
hal itu.
****
Aku
jadi teringat sesuatu, pria ini telah lama bersamaku. Kami menghabiskan
masa-masa bahagia bersamanya di ibu kota. Tinggal di apartemen dekat dengan
kantor kami dan mempunyai anak-anak yang lucu dan pandai. Tinggal di apartemen
adalah pilihannya.
“Aku
ingin kita tinggal selama beberapa tahun disini, sambil kita mengumpulkan
pundi-pundi untuk membeli rumah mewah dikawasan ini” Ujarnya saat itu
“Semua
ku lakukan demi anak-anak kita, aku ingin melihat mereka dalam waktu yang
panjang setiap harinya. Kalau kita mencari rumah yang jauh dari kantor kita kan
kehabisan waktu dijalan dengan kemacetan dan gaji yang habis dijalan. Sedangkan
untuk saat ini tabunganku belum cukup untuk membeli rumah mewah dikawasan
seperti ini, apartemen adalah solusi terbaik” Katanya menjelaskan
Iya
juga sih, jawabku singkat.
Sepulang kantor Ia selalu tiba dirumah
membawa makanan dan mainan untuk anak-anak. Ia begitu menyayangi mereka dan
juga aku. Entah mengapa Ia melakukan itu semua.
Sayang,
cintaku, ibu dari anak-anakku lagi apa? Ujarnya dalam sebuah pesan singkat Pesan
itu selalu membuatku tersenyum.
***
Tak lama wanita yang
baru saja masuk ke kamar mandi pun keluar dan segera membereskan pakaian dan
kopernya. Tanpa basa-basi aku pun beranjak dari kasur dan meninggalkan lembaran
koran yang tadi kubaca dikasur beserta bungkus permen yang berserakan.
Laki-laki yang bersama ku tadi pun beranjak dari tempatnya dan bergegas untuk
mandi. Setalah melihatnya beranjak dari tempat nya aku pun membersihkan bungkus
permen yang berserakan itu dan merapihkan lembaran koran yang habis ku baca.
“Tuh kan, kamu memang
bersih” Ujarnya mengagetkanku
“Biasa aja, ini kan
sampah sendiri jadi harus dibersihkan sendiri” Jawabku
Ia hanya tersenyum dan
kemudian masuk kekamar mandi. Setelah semua dirasa beres, kami bertiga keluar
dari kamar hotel dan pulang menggunakan inova. Diperjalanan pulang lagi-lagi
laki-laki itu menggenggam tanganku, sesekali aku berusaha menolak namun tak
jarang aku membiar hal ini larut begitu saja.
Sesampainya dirumah aku
menerima sebuah pesan singkat bertuliskan sayangku.
Ya siapa lagi kalau bukan laki-laki
tadi. Semua pesan singkat darinya yang ku terima selalu kubalas dengan ramah.
Hingga suatu hari kami terperangkap dalam sebuah alur yang begitu rumit.
Membahas hal yang selalu kita bicarakan berulang-ulang. Laki-laki itu begitu
keras dengan semua pendapatnya. Aku sedikit lelah tapi aku tak pernah marah.
Sampai pada akhirnya
aku membalas pesannya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
“Aku
lagi nunggu dijemput pacarku”
“yaudah hati-hati”
balasnya singkat.
Pesannya hanya
menggantung disitu, sampai malam tak ada pesan indah yang masuk ke ponsel ku.
Aku mencoba menghubunginya lebih dulu tak biasanya aku bersikap seperti ini.
Setelah lama menunggu balasan, jawaban yang kudapat begitu menyebalkan. Entah
mengapa Ia marah padaku.
Lusa,
senin pagi. Kami bertemu dikantor tingkah begitu dingin kepadaku, aku
menanggapinya biasa saja tapi tak sedikit pikiran tentangnya memenuhi ruang
sesak dikepalaku. Aku pulang lebih dulu hari ini, tanpa diantarnya sampai
parkiran. Sesampai dirumah aku tak berusaha menghubunginya lagi karena sudah
beberapa kali ku coba untuk menghubunginnya namun jawaban yang kudapat selalu
dingin.
Hingga
malam pun tiba, saat lampu-lampu rumah mulai padam dan pintu-pintu rumah mulai
terkunci aku mendapat pesan singkat darinya bertuliskan aku sakit. Membaca
pesannya aku sedikit panik, ku pikir terjadi sesuatu padanya. Ternyata semua
aman, hanya sakit biasa. Pembicaraan lewat pesan pun berlangsung sunyi tak ada
canda tawa didalamnya. Malah tak jarang ungkapan perpisahan terlontar didalam
pesan-pesannya itu. Aku menanggapinya cemas, tapi lama kelamaan aku merasa
lelah. Aku mencoba menuruti keinginannya dan tak membalas pesannya lagi selama
beberapa jam.
Hingga
pagi pun tiba, tak ada dering khas yang biasanya muncul dari ponselku. Padahal,
aku melihatnya sedang online tapi Ia tak menyapaku. Ah sudahlah, ujarku
sepontan.
Beberapa
jam kemudian, terdengar dering telpon dari ponselku. Segera ku angkat dan
seperti biasa memulai percakapan dengan ucapan assalamualaikum. Percakapan kami diponsel pun terkesan biasa,
tak seperti beberapa minggu belakangan ini yang selalu dipenuhi canda tawa dan
angannya untuk bersamaku dalam sebuah apartemen bersama anak-anak yang lucu dan
pandai.
***
Tiap
kali ku ingat angannya untuk tinggal bersamaku disebuah apartemen bersama
anak-anak yang lucu dan pandai yang selalu Ia lontarkan didalam percakapan
panjang kami ditelpon aku hanya bisa menjawab, apa boleh buat kita berbeda. Aku
masih terlalu muda untuk itu, sedangkan kau pantas mendapatkan yang lebih baik
dan sesuai. Kami selalu cekcok tentang apa yang sudah sama-sama kita ketahui.
Tak jarang kami menunjukan sikap egois kami terhadap masalah ini. Ia yang egois
untuk tetap ingin bersamaku sampai kapanpun dan menjadikanku halal baginya. Aku
yang egois untuk tetap bersamanya sebagai adik sampai Ia bahagia mendapatkan
wanita yang sesuai dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar