Senin, 30 Maret 2015

(Cerpen) Abi


Aku masih saja tertegun di depan layar lebar yang nampak gusar karena tak jua di jamah oleh jemari yang seharusnya menari di atas papan qwerty. Layar lebar itu seolah tak sabar menunggu pijatan-pijatan yang nantinya menghasilkan sebuah gagasan, atau bisa saja layar lebar itu gusar karena enggan menunggu terlalu lama, sebab dayanya mulai sayup dan harus lah kembali di isi. Ah, akhirnya layar lebar itu pun menyerah, mati dengan sendirinya. Sebab itu, aku pun baru mulai menggerakan jemari dengan di mulai nya pijatan di sudut kiri atas. Ya, Tombol power on. 

Dari balik pintu tepat di belakang tempatku kala itu, terdapat sepasang sepatu yang tengah menanti untuk di ajak berlari kencang. Aku sadar, tapi aku enggan untuk menghampiri. Mungkin nanti atau tidak sama sekali. Aku pun kembali melanjutkan sebuah gagasan menggunakan papan qwerty, gagasan itu tak ubahnya semua pengalaman pribadi yang harusnya menjadi rahasia hati namun kali ini aku mengunggahnya ke sebuah dinding yang ku ramu seperti kamarku sendiri. Ku berikan stiker lucu yang kerap menggundang mata pembaca ingin berlama-lama, ditambah dengan alunan musik yang sengaja aku suguhkan, alunan cinta tentunya. Apalagi, beberapa bingkai foto yang ku tata rapih dan akan berganti sesuai irama yang telah di setting, agar tidak jemu aku tambahkan beberapa gambar lucu tentang aku dan keluargaku.

Akan tetapi, sayang…apa yang termuat dalam dinding semu itu tak senada dengan dekorasi, kebanyakan bermuat kisah sedih yang belakangan ini terjadi. Kisah yang benar-benar sedih bahkan aku merasa hidup ku seperti dalam sebuah drama tanpa komedi yang di putar dari durasi pertama hingga akhir. Tak lama seorang wanita menghampiri dan menyapaku.

 Wanita patuh baya yang tak punya sedikitpun guratan yang menunjukan akan hal itu.  Tadinya. Namun, belakangan ini yaa tepatnya sebulan belakangan ini guratan itu mulai menunjukan dirinya tanpa ragu. Ini sih bukan karena wanita paruh baya itu tak lagi menggunakan pelembab muka yang ber tagline ‘ age miracle ‘. Bahkan, setauku wanita itu tak pernah mengenakan pelembab muka seperti itu. Jelas saja aku kenal betul, wanita itu adalah wanita yang pernah mengeluarkan ku dalam rahim waktu. Tepatnya, 16 tahun yang lalu sebelum akhirnya aku sibuk dengan dunia ku sendiri. Guratan di wajah Ibu itu timbul karena pikirannya mulai kalut dengan masalah yang sedang Ia topang sendiri.

Sapanya kala itu mengejutkan ku, padahal suaranya tak sampai mencengkam ke latar atau menggetarkan gelas-gelas disekitarku. Sapanya lembut itu mengejutkan hati ku, menyuruhku untuk berhenti sejenak untuk sekedar mengurus tiga orang adik yang sebenarnya sudah bisa mandi dan makan sendiri. Hanya saja, wanita itu butuh sedikit waktu tanpa ingin diketahui mereka. Aku tak lagi heran, sebab itu memang yang seharusnya dilakukan daripada nanti adik-adik ku tahu dan ribut memperdebatkan untuk ikut.

Lepas itu, ku tengok seorang laki-laki berjalan seraya membungkuk padahal Ia tak pernah berjalan seperti itu. Tatapannya hanya berpusat pada satu titik, tepat di ubin-ubin putih pelataran rumahku.  Aku menatapnya sampai benar-benar puas setelah itu hela nafasku panjang. Yang bisa merasakan tentang apa yang ada di benak ku hanya aku seorang, aku tak membaginya pada siapapun. “Hati-hati ya, bu.” Ucapku kala itu pada wanita tadi yang tengah menuntun laki-laki itu yang tak lain adalah Abi ku, dibantu dengan seorang bapak-bapak yang tak asing lagi di pelupuk mataku, sahabat baik Abi.

Habis itu, jemari ku kembali ku letakan di atas papan qwerty dan mulai menari menceritakan yang barusan terjadi. Padahal, aku di perintahkan untuk menjaga adik-adik ku tetapi aku hanya melihat mereka sesekali lalu melanjutkan hobby ku tadi. Tak lama aku menyadari, hari mulai nampak sayup menunjukan malam yang kian liar. Harusnya untuk gadis seusiaku sudah terlelap dalam mimpi yang menggerogoti, tetapi tidak denganku.

Esok hari tiba, namun masih saja aku duduk di bangku berwarna hijau yang muat hanya untuk seorang diri yang biasa di letakan berpasangan dengan meja belajar dan lampu pijar. Namun, aku mulai menyadari sesuatu bahwa wanita malam itu tak jua pulang bersama lelaki yang malam itu juga ku amati, tak lain tak bukan mereka kedua orangtuaku. Ku coba hubungi Ibu, dan kabar tak sedap mengiris telingaku. Abi, masuk rumah sakit.

Ah, ini bagai mimpi buruk yang harus aku alami. Padahal, ku ingat malam ini aku tidak sedang tidur jadi aku tak sedang hanyut dalam mimpi yang menggerogoti. Aku mencoba tegar dan ku tutup telpon tadi, aku merasa sendiri dalam hamparan pasir putih sambil di iringi matahari yang sebentar lagi tergelincir di balik luasnya genangan air. Hingga akhirnya, semua nampak gelap. Tak bercahaya tak berpenghuni.

Ku cium pipi halus dan ku belai beberapa helai rambut hitam si bungsu yang tengah terlelap dalam mimpi yang semestinya indah sebab si bungsu hanya mengerti tertawa dan bahagia. Namun keberadaan ku di situ tak ubahnya menganggu dengan beberapa tetes air yang tak jarang terjatuh dari sudut mata ku dan membasahi pipi halus itu.

“Kakak, kenapa kok nangis?” ujarnya kala itu sambil membersihkan pipinya yang basah karena air mata yang tak sanggup lagi ku bendung. Dengan sigap aku menjawab “enggak apa-apa, dede tidur lagi aja.” Tanpa berpikir panjang si bungsu melanjutkan tidurnya, terlihat lucu bagi ku. Kepolosannya membuat ku sedikit terhibur, bayangkan saja bagaimana tidak… harusnya kalau kejadian tadi terjadi antara aku dan gadis seusiaku pastilah gadis itu tak akan melanjutkan tidurnya dan malah memaksa ku untuk menceritakan alasan mengapa air di pelupuk mataku mengalir. Aku tak marah pada si bungsu, hanya hatiku sedikit menyesal membuatnya terbangun dan menjadi agak sulit tidur lelap kembali.
***
Detak jarum jam yang lamban, seperti kemarin juga. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul duabelas tengah malam. Angin menusuk membuatnya menggigil. Mencucuk sumsum tulang. Membuat hasrat ingin buang hayat kecil makin memuncak. Namun, tak seorang pun dapat ditepuk saat itu. Akhirnya, air mengalir dengan derasnya membasahi seisi kasur.

Aku ingat betul waktu itu, aku sangat menyesali kejadi saat itu. Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di ubin putih dengan sehelai kain yang biasa aku gunakan untuk mengurangi dinginnya malam yang makin liar. Tak biasanya aku tidur di ubin seperti itu, alih-alih ingin membuat kenyamanan pada sang suami malah sesal yang aku dapati. Paginya, saat aku tengok ke kasur putih yang letaknya persis disamping tempat ku tidur di ubin kala itu, aku dapati keadaan suami yang sudah di luar kendali, dengan pakaian yang sudah berserakan disana-sini akibat memaksakan diri membuang air seni malam itu. Padahal, ku tau suamiku tak berdaya untuk melakukan itu sendiri. Jangan kan untuk membuang air seni, untuk mengucapkan kata ‘aku cinta kamu’ pun sudah tak disanggupi. Sebab, keadaannya tak lagi seperti dulu. Kini Ia harus menghadapi penyakit yang makin hari menggerogoti, semua itu ulah gulungan nikotin yang begitu ia gemari.

Ditambah lagi, matanya yang dulu nampak bersinar dengan bulu mata yang lentik membuat ku jatuh cinta, kini mulai tidak ku kenali. Matanya bengkak, katupnya mulai menutup karena selaput putih yang keluar dari pelupuk matanya. Hati ku teriris melihat kondisi sang suami saat itu. Aku merasa gagal menjadi istri, membiarkan suami menghisap gulungan nikotin tiap waktu. Dampaknya baru terasa saat ini, saat usianya masuk kategori paruh baya. Padahal, kami bercita-cita hidup sampai rambut berubah menjadi putih seutuhnya.

Saat Ia menyadari akan kondisi mata yang sulit untuk di ajak berkompromi, Ia mulai mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ingin ku dengar.

“Bu, aku sudah ingin pergi” Ujarnya sambil menggerakan jemari dengan susah payah untuk mendapati genggaman erat telapak tanganku saat itu.

Namun bodohnya aku, aku tak menghiraukan gerakan jemarinya. Aku biarkan jemari itu bergerak tanpa ada umpan balik yang semestinya Ia dapati. Bukan aku enggan, hanya saja aku tak ingin jabatan tangan itu menjadi yang terakhir kalinya. Aku masih mengharapkan miracle , barangkali Tuhan masih beri kami kesempatan untuk bersama lebih lama lagi.

***
Begitulah cerita yang aku dengar setelah beberapa hari bendera kuning mejeng di sudut kiri gang rumah ku. Ku dengar cerita itu berkali-kali, awalnya hati ku seperti hancur berkeping-keping. Lama-lama aku sadar, tak ada yang perlu di sesali. Hanya saja, aku mulai membenci gumpalan asap putih yang bersumber dari gulungan nikotin. Aku hanya merasa benda itu yang harusnya bertanggung jawab atas kepergian Abi. Di tambah lagi, jika ku ingat malam itu, malam dimana Ibu, Abi, dan sahabat Abi beranjak dari rumah dan aku tak sempat ikut menuntunnya ke masuk kedalam mobil.  Ah, ingin rasanya aku mati. Malah kini, aku harus menuntun Abi untuk pergi ke perisitirahatannya yang terakhir kali.  



Akan tetapi, setelah bertahun-tahun ku jalani, hidup tanpa Abi. Aku mulai mengerti bahwa waktu orangtua lebih singkat dari waktu yang ku punya, sudah seharusnya aku lebih banyak berdiam diri di dalam rumah bersama Ibu dan tiga adikku dan tidak memprioritaskan layar lebar yang saban hari aku geluti, harusnya sesekali bicara pada keluarga dari hati ke hati tentang apa-apa saja yang sudah ku lalui hari demi hari. Sesederhana itu? Ya.. tapi itu jauh lebih berarti. 

1 komentar: