Minggu, 29 Maret 2015

(Cermat) Memori

Aku masih saja tertegun di depan layar lebar yang nampak gusar karena tak jua di jamah oleh jemari yang seharusnya menari di atas papan qwerty. Layar lebar itu seolah tak sabar menunggu pijatan-pijatan yang nantinya menghasilkan sebuah gagasan, atau bisa saja layar lebar itu gusar karena enggan menunggu terlalu lama, sebab dayanya mulai sayup dan harus lah kembali di isi. Ah, akhirnya layar lebar itu pun menyerah, mati dengan sendirinya. Sebab itu, aku pun baru mulai menggerakan jemari dengan di mulai nya pijatan di sudut kiri atas. Ya, Tombol power on. Dengan itu, aku kembali melanjutkan sebuah gagasan menggunakan papan qwerty, gagasan itu tak ubahnya semua pengalaman pribadi yang harusnya menjadi rahasia hati.

Namun, kali ini aku mengunggahnya ke sebuah dinding yang ku ramu seperti kamarku sendiri. Ku berikan stiker lucu yang kerap menggundang mata pembaca ingin berlama-lama, ditambah dengan alunan musik yang sengaja aku suguhkan, alunan cinta tentunya. Apalagi, beberapa bingkai foto yang ku tata rapih dan akan berganti sesuai irama yang telah di setting, agar tidak jemu aku tambahkan beberapa gambar lucu tentang aku dan keluargaku. Dinding itu lebih dikenal orang dgn sebutan blogger.


Dari balik pintu, tepat di belakang aku duduk kala itu, terdapat sepasang sepatu yang tengah menanti untuk di ajak berlari kencang mengelilingi desa kecil ini, ya desa yang letaknya kaki GunungJati dengan hamparan sawah hijau dan awan putih menggumpal yang nampak suci. Aku sadar diluar sana begitu indah, tapi aku enggan untuk menghampiri, mungkin nanti atau tidak sama sekali. Sebab, aku masih ingin lebih lama berdiam diri merangkum semua memori dirumah ini lewat akun blogger pribadiku sebelum akhirnya rumah ini ditempati oleh orang yang tak ku kenali. Ah, Rumah ini laksana surga yang tak berpenghuni yang menyisahkan berjuta memori. Sebelum akhirnya, nenek, ayah, dan kakek ku menghadap sang Illahi. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar