Aku masih saja tertegun di depan
layar lebar yang nampak gusar karena tak jua di jamah oleh jemari yang
seharusnya menari di atas papan qwerty. Layar lebar itu seolah tak sabar
menunggu pijatan-pijatan yang nantinya menghasilkan sebuah gagasan, atau bisa saja
layar lebar itu gusar karena enggan menunggu terlalu lama, sebab dayanya mulai
sayup dan harus lah kembali di isi. Ah, akhirnya layar lebar itu pun menyerah,
mati dengan sendirinya. Sebab itu, aku pun baru mulai menggerakan jemari dengan
di mulai nya pijatan di sudut kiri atas. Ya, Tombol power on. Dengan itu, aku
kembali melanjutkan sebuah gagasan menggunakan papan qwerty, gagasan itu tak
ubahnya semua pengalaman pribadi yang harusnya menjadi rahasia hati.
Namun, kali ini aku mengunggahnya ke
sebuah dinding yang ku ramu seperti kamarku sendiri. Ku berikan stiker lucu
yang kerap menggundang mata pembaca ingin berlama-lama, ditambah dengan alunan
musik yang sengaja aku suguhkan, alunan cinta tentunya. Apalagi, beberapa
bingkai foto yang ku tata rapih dan akan berganti sesuai irama yang telah di setting, agar tidak jemu aku tambahkan
beberapa gambar lucu tentang aku dan keluargaku. Dinding itu lebih dikenal
orang dgn sebutan blogger.
Dari balik pintu, tepat di belakang aku
duduk kala itu, terdapat sepasang sepatu yang tengah menanti untuk di ajak
berlari kencang mengelilingi desa kecil ini, ya desa yang letaknya kaki
GunungJati dengan hamparan sawah hijau dan awan putih menggumpal yang nampak
suci. Aku sadar diluar sana begitu indah, tapi aku enggan untuk menghampiri,
mungkin nanti atau tidak sama sekali. Sebab, aku masih ingin lebih lama berdiam
diri merangkum semua memori dirumah ini lewat akun blogger pribadiku sebelum
akhirnya rumah ini ditempati oleh orang yang tak ku kenali. Ah, Rumah ini
laksana surga yang tak berpenghuni yang menyisahkan berjuta memori. Sebelum
akhirnya, nenek, ayah, dan kakek ku menghadap sang Illahi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar