Saya merasa
bahagia tiap kali membaca lembar demi lembar buku kumpulan cerpen yang dimuat oleh
Badan Bahasa, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kumpulan cerpen yang
dimaksud merupakan kumpulan cerpen hasil karya remaja tingkat sekolah menengah
atas yang di kumpulkan melalui sayembara cerpen pada tahun 2013. Ini layaknya
sebuah suplemen yang cukup menggairahkan budaya menulis kreatif di kalangan
remaja. Suplemen tersebut menjadi bukti makin banyaknya remaja yang kini gemar
dan manir menulis karya sastra.
Namun, adakah instansi dan komunitas yang mengapresiasikan karya
sastra remaja? Pertanyaan semacam ini masih banyak menjadi pertanyaan dibenak
remaja.
Jika dikaitkan
dengan persoalan itu. Minimnya informasi tentang keberadaan komonitas atau
wadah penampung karya sastra menjadi keluhan. Padahal, jelas kumpulan cerpen
remaja garapan Badan Bahasa ini menjadi salah satu bukti bahwa adanya instansi
dan komunitas yang menjadi wadah penampung karya sastra remaja saat ini dan
tidak seburuk yang di duga. Pasalnya, remaja kebanyakan beranggapan bahwa wadah
yang bisa mengapresiasikan karya sastra remaja sangat jarang. Hanya terbatas
pada penerbit atau media yang bergerak dibidang nya saja itupun kebanyakan
karya yang dimuat adalah karya garapan penulis ternama atau berstatus
pendidikan yang tinggi.
Hal itu tak
ubahnya menciutkan kepercayaan diri
remaja untuk menyalurkan karya sastranya karena dinilai tidak memiliki porsi
persaingan yang seimbang. Artinya, biasanya di sebuah penerbit dan media yang
bergerak dibidang ini tidak memberikan ruang khusus untuk remaja memuat karya
sastranya, semuanya di pukul rata. Siapa saja bisa mengirim karyanya dan hasil
pemuatan pun pastilah dinilai tidak seimbang bagi remaja.
Tidak banyak
yang mengetahui adanya instansi dan komunitas kini kian marak, yang sudah
memberikan perhatian lebih bagi peningkatan apresiasi sastra para remaja.
Bahkan, tak jarang mereka juga memberi pengatahuan dan sejarah sastra, disamping
mengapresiasi karya-karya sastra, mengajak remaja untuk menulis karya sastra.
Setidaknya,
melalui kegiatan seminar yang kerap kali di adakan di instansi terkait, selain
itu mereka juga tak segan untuk membuka forum terbuka perihal pengetahuan
maupun sejarah tentang sastra yang mereka tuangkan di situs resmi milik mereka.
Sedangkan untuk komunitas yang bergerak dibidang sastra, biasanya mereka
membuat semacam sanggar sastra guna menjadi solusi untuk remaja yang minat di
bidang karya tulis sastra namun masih minim secara kemampuan dalam mengolah ide
menjadi sebuah sastra yang baik dan menarik.
Upaya yang
sungguh-sungguh untuk memperbanyak porsi menjadi wadah apresiasi karya sastra
remaja juga terlihat pada buku-buku hasil sayembara yang di garap oleh Badan
Bahasa yang berjudul “Anak yang Tak Kembali” Antologi Cerpen tahun 2013,
Majalah Nuansa dan masih banyak lagi. Apalagi, jika membaca beberapa buku
tersebut saya menilai karya sastra karangan remaja kini mengalami kemajuan dan
sesuai dengan perkembangan sastra dan zaman terkini. Remaja hanya tinggal
sedikit saja di arahkan untuk membaca karya-karya sastra lain dari
pengarang-pengarang ternama agar karya sastra mereka semakin luas cakupannya
tidak hanya seputar kehidupan sosial dan cinta melainkan juga mampu membuat
karya sastra bertemakan pendidikan, kebudayaan dan lainnya.
Namun pertanyaan lain juga sering muncul di benak remaja personal
sulitnya karya tulis sastra mereka menjadi karya pilihan yang di muat? Nah,
aspek apa saja yang menjadi penilian dalam pemuatan karya tulis sastra remaja?
Jika
berbicara segi penilaian karya remaja seperti apa yang nantinya bisa di muat
tentunya aspek kebahasaan menempati porsi yang yang tinggi dalam hal ini.
Instansi dan komunitas tentunya senada dengan penerbit maupun industri lainnya
yang tidak sembarang memuat sebuah karya garapan remaja tanpa di landasi
kebahasaan yang baik dalam arti tidak mengandung unsur SARA. Sedangkan dalam
seminar maupun sanggar seperti yang di jelaskan sebelumnya, tentunya untuk segi
penilaian aspek-aspek lainnya juga menjadi pertimbangan seperti mendengarkan
dan berbicara/cara menyampaikan sebuah karya pada audiens. Jadi, semua aspek penguasaan bahasa Indonesia mendapatkan
porsi yang seimbang dalam apresiasi karya sastra remaja.
Pada
akhirnya, Instansi dan komunitas menjadi tumpuan secara tidak langsung dalam
hal apresiasi karya sastra remaja guna meningkatkan minat baca dan tulis remaja
terhadap karya sastra. Namun, masyarakat sebenarnya juga harus juga turut beperan
dalam hal ini. Jika saja, apresiasi dan pengetahuan akan adanya wadah penyalur
karya sastra remaja yang tidak di ketahui secara merata dikarena informasi yang
ada tidak dibeberkan oleh pihak-pihak yang mengetahui maka remaja akan
kebingungan untuk menyalurkan karyanya kemana sehingga ini menjadi pemicu utama
untuk remaja malas menulis karya sastra. Jika untuk memberikan informasi kepada
generasi muda saja enggan maka wadah apresiasi karya sastra akan menuai
kegagalan karena kurangnya keberagaman kreatifitas karya sastra yang dapat
dimuat.
Selain itu
remaja juga di tuntut untuk lebih jeli mencari informasi. Karena kini tak ada
lagi alasan minimnya kesempatan bagi remaja untuk menyalurkan karya sastra.
Informasi ini dapat mudah di ketahui jika remaja rajin mengupgrade informasi melalui media sosial/jejaring internet dan tak
segan bertanya pada guru, orangtua, kakak maupun kerabat mereka perihal ini.
Jadikan
pengapresiasian karya sastra adalah tradisi kompetitif bagi para remaja baik
karya yang berupa resensi sastra maupun karya kreatif (cerpen dan puisi), guna untuk
merangsang budaya baca dan tulis remaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar