Minggu, 29 Maret 2015

(Esai) Instansi dan komunitas menjadi tumpuan remaja secara tidak langsung

Saya merasa bahagia tiap kali membaca lembar demi lembar buku kumpulan cerpen yang dimuat oleh Badan Bahasa, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kumpulan cerpen yang dimaksud merupakan kumpulan cerpen hasil karya remaja tingkat sekolah menengah atas yang di kumpulkan melalui sayembara cerpen pada tahun 2013. Ini layaknya sebuah suplemen yang cukup menggairahkan budaya menulis kreatif di kalangan remaja. Suplemen tersebut menjadi bukti makin banyaknya remaja yang kini gemar dan manir menulis karya sastra.

Namun, adakah instansi dan komunitas yang mengapresiasikan karya sastra remaja? Pertanyaan semacam ini masih banyak menjadi pertanyaan dibenak remaja.

Jika dikaitkan dengan persoalan itu. Minimnya informasi tentang keberadaan komonitas atau wadah penampung karya sastra menjadi keluhan. Padahal, jelas kumpulan cerpen remaja garapan Badan Bahasa ini menjadi salah satu bukti bahwa adanya instansi dan komunitas yang menjadi wadah penampung karya sastra remaja saat ini dan tidak seburuk yang di duga. Pasalnya, remaja kebanyakan beranggapan bahwa wadah yang bisa mengapresiasikan karya sastra remaja sangat jarang. Hanya terbatas pada penerbit atau media yang bergerak dibidang nya saja itupun kebanyakan karya yang dimuat adalah karya garapan penulis ternama atau berstatus pendidikan yang tinggi.

Hal itu tak ubahnya menciutkan kepercayaan diri remaja untuk menyalurkan karya sastranya karena dinilai tidak memiliki porsi persaingan yang seimbang. Artinya, biasanya di sebuah penerbit dan media yang bergerak dibidang ini tidak memberikan ruang khusus untuk remaja memuat karya sastranya, semuanya di pukul rata. Siapa saja bisa mengirim karyanya dan hasil pemuatan pun pastilah dinilai tidak seimbang bagi remaja.

Tidak banyak yang mengetahui adanya instansi dan komunitas kini kian marak, yang sudah memberikan perhatian lebih bagi peningkatan apresiasi sastra para remaja. Bahkan, tak jarang mereka juga memberi pengatahuan dan sejarah sastra, disamping mengapresiasi karya-karya sastra, mengajak remaja untuk menulis karya sastra.

Setidaknya, melalui kegiatan seminar yang kerap kali di adakan di instansi terkait, selain itu mereka juga tak segan untuk membuka forum terbuka perihal pengetahuan maupun sejarah tentang sastra yang mereka tuangkan di situs resmi milik mereka. Sedangkan untuk komunitas yang bergerak dibidang sastra, biasanya mereka membuat semacam sanggar sastra guna menjadi solusi untuk remaja yang minat di bidang karya tulis sastra namun masih minim secara kemampuan dalam mengolah ide menjadi sebuah sastra yang baik dan menarik.

Upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbanyak porsi menjadi wadah apresiasi karya sastra remaja juga terlihat pada buku-buku hasil sayembara yang di garap oleh Badan Bahasa yang berjudul “Anak yang Tak Kembali” Antologi Cerpen tahun 2013, Majalah Nuansa dan masih banyak lagi. Apalagi, jika membaca beberapa buku tersebut saya menilai karya sastra karangan remaja kini mengalami kemajuan dan sesuai dengan perkembangan sastra dan zaman terkini. Remaja hanya tinggal sedikit saja di arahkan untuk membaca karya-karya sastra lain dari pengarang-pengarang ternama agar karya sastra mereka semakin luas cakupannya tidak hanya seputar kehidupan sosial dan cinta melainkan juga mampu membuat karya sastra bertemakan pendidikan, kebudayaan dan lainnya.

Namun pertanyaan lain juga sering muncul di benak remaja personal sulitnya karya tulis sastra mereka menjadi karya pilihan yang di muat? Nah, aspek apa saja yang menjadi penilian dalam pemuatan karya tulis sastra remaja?

Jika berbicara segi penilaian karya remaja seperti apa yang nantinya bisa di muat tentunya aspek kebahasaan menempati porsi yang yang tinggi dalam hal ini. Instansi dan komunitas tentunya senada dengan penerbit maupun industri lainnya yang tidak sembarang memuat sebuah karya garapan remaja tanpa di landasi kebahasaan yang baik dalam arti tidak mengandung unsur SARA. Sedangkan dalam seminar maupun sanggar seperti yang di jelaskan sebelumnya, tentunya untuk segi penilaian aspek-aspek lainnya juga menjadi pertimbangan seperti mendengarkan dan berbicara/cara menyampaikan sebuah karya pada audiens. Jadi, semua aspek penguasaan bahasa Indonesia mendapatkan porsi yang seimbang dalam apresiasi karya sastra remaja.

Pada akhirnya, Instansi dan komunitas menjadi tumpuan secara tidak langsung dalam hal apresiasi karya sastra remaja guna meningkatkan minat baca dan tulis remaja terhadap karya sastra. Namun, masyarakat sebenarnya juga harus juga turut beperan dalam hal ini. Jika saja, apresiasi dan pengetahuan akan adanya wadah penyalur karya sastra remaja yang tidak di ketahui secara merata dikarena informasi yang ada tidak dibeberkan oleh pihak-pihak yang mengetahui maka remaja akan kebingungan untuk menyalurkan karyanya kemana sehingga ini menjadi pemicu utama untuk remaja malas menulis karya sastra. Jika untuk memberikan informasi kepada generasi muda saja enggan maka wadah apresiasi karya sastra akan menuai kegagalan karena kurangnya keberagaman kreatifitas karya sastra yang dapat dimuat.

Selain itu remaja juga di tuntut untuk lebih jeli mencari informasi. Karena kini tak ada lagi alasan minimnya kesempatan bagi remaja untuk menyalurkan karya sastra. Informasi ini dapat mudah di ketahui jika remaja rajin mengupgrade informasi melalui media sosial/jejaring internet dan tak segan bertanya pada guru, orangtua, kakak maupun kerabat mereka perihal ini.


Jadikan pengapresiasian karya sastra adalah tradisi kompetitif bagi para remaja baik karya yang berupa resensi sastra maupun karya kreatif (cerpen dan puisi), guna untuk merangsang budaya baca dan tulis remaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar