Minggu, 29 Maret 2015

(Cerpen) Silih Andi

“Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tersenyum lagi nak ”

Anakku, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? Dan sesedih apakah perasaan seorang anak dikala terluka , dan aku hanya bisa melihat mu dari balik jendela ? Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam kerajaan maupun rakyat sedang membutuhkan ku, ketika suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan, ribuan rakyat mengelilingi kerajaan dan berteriak-teriak seolah memanggil nama ku meskipun itu semua hanyalah nurani ku . Duapuluhempat jam ku habiskan demi rakyat ku , hingga kau melihat ku dalam waktu yang serba sebentar . Sepanjang angin berembus baginda terus berbicara dibalik jendela .

Waktu terus susut, jam terpojok ke angka lima tapi senja belum turun dan baginda pun hingga kini tak beralih dari jedela itu . Sedangkan pangeran yang sedang direnungkan baginda sedang mengadikan kesaktiannya pada bela diri kegemarannya .

"Sepanjang angin berembus, akankah kau merindukanku?” lagi-lagi baginda membicarakan putranya , Puang Andi .
Ah, rindu memang seperti paksaan, ketika sang baginda melambai-lambaikan tangan untuk putranya namun Puang Andi tetap tak acuh, seolah lambaian baginda hanya sebuah kebisingan angin semata . Bahkan melihat semua itu langit pun seakan memperlihatkan warna merah pada langit dengan lapisan awan tipis membentuk garis-garis menggumpal yang artistik dengan warna merah saling tindih. Senja tak seperti biasanya..
            
Pada masa itu , mitos menjadi hal penting dimana ketika warna langit berubah menjadi warna orange bahkan mendekati merah sekali pertanda bahwa langit sedang marah . Namun Pangeran, Puang Andi seolah lupa akan mitos kepercayaan penduduk setempat. Puang Andi, adalah sosok laki-laki tangguh yang tak gentar dengan apapun . Ia begitu congkak akan kesaktiannya. Kalau boleh diomong buah jatuh tak jauh dari potohnya , tentulah baginda Silih Andi yang mewariskan itu pada pangeran Puang Andi tapi tidak dengan ke angkuhan dan kesombongannya . Entah dari mana ia belajar menjadi angkuh dan sombong , mungkinkah harta yang mengajarkannya ?

    Namun belum selesai keangkuhan sang pangeran pada ayahannya sendiri, ia kembali memperlihatkan kejahatannya pada seekor harimau yang tidak lain tidak bukan adalah binatang kesayangan sang baginda yang dipercayakannya untuk menjaga pangeran dari segala marabahaya. Cabikan demi cabikan, hantaman demi hantaman seolah sudah menjadi makanan sehari-hari sang harimau . Sungguh malang nasib harimau, salah berdarah tak salahpun terluka,begitulah lakon yang harus didapat tiap kali mencoba bersahaja dengan sang pangeran .

“Perlunya tanah leluhur dipertahankan, jangan biarkan orang lain menduduki tanahmu.” Kalimat itu terlontar dari bibir anak sang raja . Raja yang disegani pada masa itu, raja yang dicintai oleh rakyatnya.  Padahal, yang dilakukan oleh sang harimau ialah mencoba berbagi tempat tidur oleh seekor harimau lain yang kebetulan berada pada hutan tepat dimana sang pangeran Puang Andi berlatih bela diri . Dari subuh sampai siang bahkan hingga senja hampir hilang pangeran terus berada di tempat itu untuk menyempurnakan kesaktiannya . Lalu tak lama pulang ke kerajaan, merebahkan diri seorang diri sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kegiatan bela dirinya .

Tragisnya setiap kali sang pangeran bertemu seorang manusia saja, orang itu langsung menghindar dan mengambil langkah seribu tapi jika di amati orang itu akan berenti dikesepian , jauh dari pangeran, Puang Andi sambil terengah-engah tak lama berkata “Laknat, hampir saja…” belum selesai ucapannya pangeran puang datang menghampir orang itu . “ Datang, atau ku buat lebih sengsara ” mudah sekali ditebak, ucapan itu tak lain datangnya dari mulut sang pangeran. Tak lama hentakan tanah seolah menunjukan ada yang datang. Bukan, bukan orang itu melainkan sang harimau putih kepunyaan sang pangeran . “Apa…. Apa maksudmu? Lagi-lagi berani-beraninya kau membela orang lain ketimbang aku, ingat kau ini utusan baginda, ayahku!! Dasar bintang tak berguna! Dengan nada tinggi kata-kata itu terus di lontarkan , selalu disetiap kondisi seperti ini Pangeran Puang berkata hal itu pada sang harimau . Entah apalagi yang dilakukannya, kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan seolah menjadi cerminan didikan sang baginda pada pangeran Puang, padahal kenyatannya tidak seperti itu.

“Barangkali hidup tidak mengenal kompromi, hal apa pun harus dilakukan dengan penuh pengorbanan ,tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup dengan watak anak semata wayang yang seperti ini lagi-lagi cinta dan kasih sayang orangtua kepada anak menjadi acuan ku untuk terus bertahan tanggungan akhirat ku adalah Puang” Ujar Baginda Silih Andi .

Beberapa waktu kemudian, sang pangeran menyadari bahwa orang tadi sudah melarikan diri karena sibuk mencabik dan menghajar sang harimau putih , sang pangeran lupa bahwasanya lawannya kali itu ialah orang tadi bukan harimau putih miliknya ini . “Ah sial, lagi-lagi kau membuat lawan ku lari.” Dasar binatang tak berguna! Pergi kau!
         
         Tak lama sang harimaupun pergi berlalu meninggalkan Pangeran Puang. Sang pangeran pun melanjutkan perjalanan menelusuri hutan seorang diri, tak masalah baginya. Di perjalanan mencari buruan terlihat banyak warga sedang bergerombolan di sekitar pohon besar namun perlahan meraka semua lari ketika sang pangeran menghampiri . Rupanya ada ukiran kata pada pohon besar itu yang bertuliskan “Nanti malam akan dimakamkan. Kalau sempat, hadirlah., tertanda pulan .

Membaca secercah ukiran dipohon itu pangeran hanya senyum seringai dan berjalan pulang ke kerajaan . Padahal sang pangeran tahu bahwa pulan adalah adik sepupu nya sendiri, dan yang wafat tadi tidak lain tidak bukan ialah pamannya , adik dari baginda Silih Andi yang baru saja hampir ia habisi dihutan tadi . Hal itu di tebak oleh pangeran karena keluarga yang dimiliki pulan ialah ayahnya karena ibunya telah wafat lebih dulu dan pulan adalah anak semata wayang.   

“Belum ku lawan sudah tewas, dasar rakyat jelata tetapi apa penyabab ia tewas . Bahkan ku sentuh kulitnya saja belum.” Ujar pangeran Puang Andi dalam hati.

 “Dan… Sudah puluhan tahun Aku tidak bertemu oleh pulan, tinggal dimana dia”?  Ujar sang pangeran ketika menyadari akan kehadiran pulan secara tiba-tiba disekitar istana kerajaan milik ayahnya ini setelah puluhan tahun tidak pernah terdengar kabarnya.

“Ahh sudah lah perduli apa ku soal itu , itu tandanya kesaktianku sudah bertambah. Buktinya saja paman ku belum juga ku sentuh sudah tewas hahahahaha ….”   Lagi-lagi iblis seolah menguasai hati sang pangeran .

Setiba di kerajaan, dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakan sang pangeran masuk oleh para pengawal kerajaan namun tak sedikitpun pangeran memberikan senyuman pada  pengawal-pengawal itu . Berjalan angkuh sudah menjadi citra negative sang pangeran dimata rakyat dan seluruh orang yang mengenalinya . Atribut kerajaan yang ia kenakan membuatnya begitu congkak, ditambah lagi kemahirannya dalam bela diri . Hampir setiap orang yang ia temui di jalan ia jadikan mangsa/lawan nya dalam mengukur kehebatan bela dirinya itu sebabnya orang tadi (pamannya) tiba-tiba mengambil langkah seribu begitu melihat sang pangeran,Puang . Hal itu di karenakan siapa saja yang sudah menjadi sasarannya pasti akan berujung pada kematian , sudah ratusan rakyat di sekitar kerajaan sang baginda Silih tewas di tangan anak semata wayangnya, Puang Andi . 

“Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau”. Katanya memperkenalkan diri kepada sang pangeran yang sedang berjalan di lorong kerajaan .

“Siapa kau? Lalu bagaimana kau bisa masuk ke dalam kerajaan sesukamu” Ujar Puang Andi .

Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. “Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya melanjutkan.

“Wajahmu masih seperti dulu,” katanya lagi .

“Tidakkah engkau peduli akan kabar ku ?” Kabar tentang adik sepupumu yang ibu nya kau bunuh saat sedang mengajarkan ku bela diri .

Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benak sang pangeran , Pulan nama wanita itu yang tidak lain ialah wanita yang mengukir pesan di sebuah pohon pada hutan tadi .

“Sudah puluhan tahun….. hiks hiks hikss .” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. “Aku tidak mungkin hidup sendirian , sudikah kau membunuhku juga wahai pangeran agung yang amat tangguh”? Ujarnya dengan dadak sesak dan terlihat batinnya bergejolak .

Nampaknya luapan emosi yang diberikan seorang pulan pada sang pangeran, Puang andi tak berdampak pada perubahan pola pikir atau perasaan sang pangeran . Ketika mendengar luapan emosi darinya Puang Andi hanya terdiam lalu kembali berjalan di lorong kerajaan menuju ruang tidurnya tanpa satu kata pun terlontar .

Malam telah berlalu matahari mulai muncul , cahaya sinarnya yang tepat disebelah timur sangat terang menyinari kerajaan pada hari itu .

“Apa yang kau lakukan nak, embun hampir habis namun kalau belum juga selesai berlatih”? Ujar baginda Silih Andi kepada pangeran Puang .

“Apalagi kalau bukan memantap kan ilmu bela diri ku agar aku dapat menjadi satu-satunya yang memiliki kesaktian abadi”. Ujar pangeran Puang kepada ayahandanya .

Baginda tersenyum dan mengangguk-angguk lalu berkata “ Setelah waktu itu tiba tebus lah segala dosamu pada rakyat dan makhluk dibumi ini jadilah pangeran yang melindungi negeri ini nak”

“Haha.. perduli apa ku soal itu semua , liat saja nanti akan ku sempurnakan ilmuku lalu akan ku kusai jagad raya”. Ujar pangeran Puang Andi dalam hati .

Tak lama setelah baginda pergi dengan kereta kencananya menuju kota dan bertemu para rakyatnya , sang harimau putih datang menghampiri pangeran Puang Andi . Dengan luka yang tak pernah hilang disetiap harinya dikarenakan oleh ulah kejam sang pangeran yang selalu mencabik, mencambuk dan menjadikannya sasaran untuk berlatih bela diri .

Dan di tempat yang berbeda sang baginda Silih Andi sedang menantau kegiatan rakyatnya setiap hari dan sesekali membantu mereka dalam berkerja . Baginda Silih Andi adalah sosok raja yang agung, ramah dan sangat mengayomi rakyatnya . Antara rakyat dan raja seolah tak ada kedudukan yang memisahkan. Sampai salah seorang rakyat bertanya pada baginda ketika baginda sedang membantunya menggangkat kayu untuk dijualnya kepasar .

“Wahai baginda raja , bolehkan saya tahu apa yang ada pada lengan baginda? Nampak ada banyak luka disekitar lengan dan tubuh baginda sepertinya”. Ujar nya

“Bukan apa-apa ini hanya luka biasa akibat berburu di hutan”. Balas sang baginda .

“Kalau begitu izinkan saya untuk mengobati luka-luka yang ada pada tubuh baginda dengan beberapa racikan herbal yang saya punya”. Pinta nya kepada baginda

“Tidak, tidak perlu terimakasih atas tawaran mu namun luka-luka ini akan kering dengan sendirinya”. Kata baginda Silih sambil merangkul rakatnya itu .

“Baiklah saya akan teruskan perjalanan untuk melihat aktivitas lainnya” Ujar baginda

“Hati-hati di jalan yang mulia, terimakasih atas segala bantuan dan perhatian mu pada rakyat kecil seperti kami.” Ujar salah satu rakyat tadi .

Baginda hanya tersenyum mendengar ucapan dari orang itu . Baginda Silih Andi memang sangat baik berbeda dengan anaknya Puang Andi . Tak lama ketika di dalam kereta kencana baginda lagi-lagi merasakan sakit pada tubuhnya seperti tecabik kemudian timbul lah memar dan luka-luka lagi . Lalu, Pulan yang ternyata sedang ikut serta di dalam kereta kencana itu berkata pada baginda “Wahai baginda, sulit ku melihat ini semua ini sebabnya aku dan ayah pergi jauh dari istana agar melupakan ini semua. Sampai kapan baginda kuat dan sanggup menderita seperti ini semua?”

Baginda menjawab “ Maafkan saya pulan, bersabar lah tunggu sampai senja selesai” .

“Lalu, senja mana yang kau tunggu sudah puluhan tahun kau melewati senja namun tak ada senja yang kau maksud”. Ujar Pulan dengan berlinang air mata seolah ikut merasakan penderitaan baginda Silih Andi .

Mendengar ucapan Pulan baginda hanya tersenyum dan terus menahan rasa sakit yang ia alami, luka-luka yang ada pada tubuh baginda semakin bertambah bahkan kini sampai bagian wajah pun timbul garis merah seperti cambukan .
        
           Sedangkan di kerajaan sang Pangeran Puang Andi sedang asik berlatih bela diri ditemani oleh harimau putih miliknya . Harimau putih itu nampak kelelahan dan kesakitan karena dijadikan lawan bertarungnya. Namun harimau itu sangat setia menemani pangeran seperti halnya yang diperintahkan oleh sang baginda kepadanya . Tak lama senja pun kembali tiba saat senja tiba sang baginda raja kembali ke istana bersama Pulan , pengawal-pengawal dan kereta kecananya . Setiba baginda di istana sang pangeran berserta harimau putihnya menghampiri baginda dan berkata : “Ayahanda Silih, telah kusempurnakan ilmu bela diriku , kini saatnya ayahanda menjawab tantangan ananda beberapa puluhan tahun silam . Kini di ujung senja ini anada siap bertarung dengan mu demi mendapatkan kesaktian abadi dan satu-satunya dibumi ini.”
     
          Mendengar maklumat  tersebut, pandangan Baginda Silih menerawang jauh. Dulu alasan beliau meminta ananda Puang Andi untuk menyempurnakan ilmu nya dahulu sebelum bertarung dengan nya adalah seonggok alasan agar Pangeran Puang Andi tidak terluka dan kalah pada pertarungan antara ayah dan anak itu . Namun, selain itu kini  ini yang di khawatirkan Baginda Silih ialah Bagaimana bila salah satu harus terbunuh? Bagaimana bila dirinya yang terbunuh lalu rakyat marah? Atau bagaimana bila putranya yang terbunuh?Bagai menang menjadi arang kalah menjadi abu.  Begitu risau hati Baginda Silih memikirkan maklumat yang disampaikan putranya tersebut. Baginda tidak ingin sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam lingkungan kerajaan.
  
        Mendengar perkataan sang pangeran , Pulan yang merupakan adik sepupu pangeran Puang Andi sangat kecewa dan sangat marah kepada sang pangeran .  Tiba-tiba dengan lantang ia berkata:

 “Tidak kah kau bisa berbuat baik hanya pada satu orang saja yaitu ayah mu pangeran. Tidak kan nurani mu berfikir tentang kasih orangtua tiada batasnya . Kini baginda Silih bukanlah seorang yang sakti seperti yang kamu kira pangeran . Pusat kekuatannya sudah ia serahkan pada harimau putih peliharaan mu itu sejak kamu mulai mengatakan untuk mengadadakan pertarungan pada baginda . Maka setiap kali harimau itu terluka saat sedang berlatih dengan mu atau pun sedang dalam kondisi terancam ayahanda mu merasakan luka dan ketakutan yang di rasakan harimau itu . Tidakah kau lihat luka yang ada pada harimau itu sangat sama dengan luka-luka yang ada pada tubuh dan wajah sang baginda, bahkan untuk menanyakan hal itu saja kau enggan dan tidak kah kau tahu mengapa ayahku mati secara tiba-tiba setelah betemu dengan mu? Biar semua orang tahu ini bahwa ayah ku mati bunuh diri setelah kejadian itu karena tidak tega melihat kakanya,Baginda Silih dalam wujud seekor harimau putih milikmu yang kau cambuk kau pukul pada saat itu dikala membela dirinya saat kau mengejarnya ”.

Mendengar pengakuan tersebut Puang Andi menangis merintih-rintih karena selama ini, selama puluhan tahun Puang Andi merawat harimau putih dengan tidak wajar , memukulnya dengan cambuk , memberinya makanan basi dan menjadikannya pelampiasan ketika dia marah dengan siapapun. “Apa yang aku lakukan selama ini kepada harimau itu berarti aku melukai ayahanda ku secara perlahan……….”. Ujar sang Pangeran
Tak lama ia kembali berucap :
“Maka dari itu lebih baik aku membunuhnya secara langsung ” Ujar Puang Andi sambil mencabik-cabik harimau putih itu dengan berlinang air mata buaya .
Dan senja pun usai dengan tragis .
Tamat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar