“Sabarlah, tunggu
sampai senja selesai. Dan kau boleh tersenyum lagi nak ”
Anakku, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap
perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu
berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya
matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar
sungai? Dan sesedih apakah perasaan seorang anak dikala terluka , dan aku hanya
bisa melihat mu dari balik jendela ? Selama beberapa hari terakhir, sementara
itu, semua gerakan baik di dalam kerajaan maupun rakyat sedang membutuhkan ku, ketika
suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan,
ribuan rakyat mengelilingi kerajaan dan berteriak-teriak seolah memanggil nama
ku meskipun itu semua hanyalah nurani ku . Duapuluhempat jam ku habiskan demi
rakyat ku , hingga kau melihat ku dalam waktu yang serba sebentar . Sepanjang
angin berembus baginda terus berbicara dibalik jendela .
Waktu terus susut, jam terpojok ke angka lima tapi senja
belum turun dan baginda pun hingga kini tak beralih dari jedela itu . Sedangkan
pangeran yang sedang direnungkan baginda sedang mengadikan kesaktiannya pada
bela diri kegemarannya .
"Sepanjang angin berembus, akankah kau merindukanku?”
lagi-lagi baginda membicarakan putranya , Puang Andi .
Ah, rindu memang
seperti paksaan, ketika sang baginda melambai-lambaikan tangan untuk putranya
namun Puang Andi tetap tak acuh, seolah lambaian baginda hanya sebuah
kebisingan angin semata . Bahkan melihat semua itu langit pun seakan
memperlihatkan warna merah pada langit dengan lapisan awan tipis membentuk
garis-garis menggumpal yang artistik dengan warna merah saling tindih. Senja
tak seperti biasanya..
Pada masa itu , mitos menjadi hal
penting dimana ketika warna langit berubah menjadi warna orange bahkan mendekati merah sekali pertanda bahwa langit sedang
marah . Namun Pangeran, Puang Andi seolah lupa akan mitos kepercayaan penduduk
setempat. Puang Andi, adalah sosok laki-laki tangguh yang tak gentar dengan
apapun . Ia begitu congkak akan kesaktiannya. Kalau boleh diomong buah jatuh
tak jauh dari potohnya , tentulah baginda Silih Andi yang mewariskan itu pada
pangeran Puang Andi tapi tidak dengan ke angkuhan dan kesombongannya . Entah
dari mana ia belajar menjadi angkuh dan sombong , mungkinkah harta yang
mengajarkannya ?
Namun belum selesai keangkuhan sang
pangeran pada ayahannya sendiri, ia kembali memperlihatkan kejahatannya pada
seekor harimau yang tidak lain tidak bukan adalah binatang kesayangan sang
baginda yang dipercayakannya untuk menjaga pangeran dari segala marabahaya.
Cabikan demi cabikan, hantaman demi hantaman seolah sudah menjadi makanan
sehari-hari sang harimau . Sungguh malang nasib harimau, salah berdarah tak
salahpun terluka,begitulah lakon yang harus didapat tiap kali mencoba bersahaja
dengan sang pangeran .
“Perlunya tanah leluhur dipertahankan, jangan biarkan orang
lain menduduki tanahmu.” Kalimat itu terlontar dari bibir anak sang raja . Raja
yang disegani pada masa itu, raja yang dicintai oleh rakyatnya. Padahal, yang dilakukan oleh sang harimau
ialah mencoba berbagi tempat tidur oleh seekor harimau lain yang kebetulan
berada pada hutan tepat dimana sang pangeran Puang Andi berlatih bela diri . Dari
subuh sampai siang bahkan hingga senja hampir hilang pangeran terus berada di
tempat itu untuk menyempurnakan kesaktiannya . Lalu tak lama pulang ke
kerajaan, merebahkan diri seorang diri sampai waktu mengantar subuh dan
mengulangi ritual siklus kegiatan bela dirinya .
Tragisnya setiap kali sang pangeran bertemu seorang manusia
saja, orang itu langsung menghindar dan mengambil langkah seribu tapi jika di
amati orang itu akan berenti dikesepian , jauh dari pangeran, Puang Andi sambil
terengah-engah tak lama berkata “Laknat, hampir saja…” belum selesai ucapannya
pangeran puang datang menghampir orang itu . “ Datang, atau ku buat lebih
sengsara ” mudah sekali ditebak, ucapan itu tak lain datangnya dari mulut sang
pangeran. Tak lama hentakan tanah seolah menunjukan ada yang datang. Bukan,
bukan orang itu melainkan sang harimau putih kepunyaan sang pangeran . “Apa….
Apa maksudmu? Lagi-lagi berani-beraninya kau membela orang lain ketimbang aku,
ingat kau ini utusan baginda, ayahku!! Dasar bintang tak berguna! Dengan nada
tinggi kata-kata itu terus di lontarkan , selalu disetiap kondisi seperti ini
Pangeran Puang berkata hal itu pada sang harimau . Entah apalagi yang
dilakukannya, kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan seolah menjadi
cerminan didikan sang baginda pada pangeran Puang, padahal kenyatannya tidak
seperti itu.
“Barangkali hidup tidak mengenal kompromi, hal apa pun harus
dilakukan dengan penuh pengorbanan ,tetapi usia yang di atas enam puluhan itu
cukup melelahkan untuk bertahan hidup dengan watak anak semata wayang yang
seperti ini lagi-lagi cinta dan kasih sayang orangtua kepada anak menjadi acuan
ku untuk terus bertahan tanggungan akhirat ku adalah Puang” Ujar Baginda Silih
Andi .
Beberapa waktu kemudian, sang pangeran menyadari bahwa orang
tadi sudah melarikan diri karena sibuk mencabik dan menghajar sang harimau
putih , sang pangeran lupa bahwasanya lawannya kali itu ialah orang tadi bukan
harimau putih miliknya ini . “Ah sial, lagi-lagi kau membuat lawan ku lari.”
Dasar binatang tak berguna! Pergi kau!
Tak lama sang harimaupun pergi
berlalu meninggalkan Pangeran Puang. Sang pangeran pun melanjutkan perjalanan
menelusuri hutan seorang diri, tak masalah baginya. Di perjalanan mencari
buruan terlihat banyak warga sedang bergerombolan di sekitar pohon besar namun
perlahan meraka semua lari ketika sang pangeran menghampiri . Rupanya ada ukiran
kata pada pohon besar itu yang bertuliskan “Nanti malam akan dimakamkan. Kalau
sempat, hadirlah., tertanda pulan .
Membaca secercah ukiran dipohon itu pangeran hanya senyum
seringai dan berjalan pulang ke kerajaan . Padahal sang pangeran tahu bahwa
pulan adalah adik sepupu nya sendiri, dan yang wafat tadi tidak lain tidak bukan
ialah pamannya , adik dari baginda Silih Andi yang baru saja hampir ia habisi
dihutan tadi . Hal itu di tebak oleh pangeran karena keluarga yang dimiliki
pulan ialah ayahnya karena ibunya telah wafat lebih dulu dan pulan adalah anak
semata wayang.
“Belum ku lawan sudah tewas, dasar rakyat jelata tetapi apa
penyabab ia tewas . Bahkan ku sentuh kulitnya saja belum.” Ujar pangeran Puang
Andi dalam hati.
“Dan… Sudah puluhan
tahun Aku tidak bertemu oleh pulan, tinggal dimana dia”? Ujar sang pangeran ketika menyadari akan
kehadiran pulan secara tiba-tiba disekitar istana kerajaan milik ayahnya ini
setelah puluhan tahun tidak pernah terdengar kabarnya.
“Ahh sudah lah perduli apa ku soal itu , itu tandanya
kesaktianku sudah bertambah. Buktinya saja paman ku belum juga ku sentuh sudah
tewas hahahahaha ….” Lagi-lagi iblis
seolah menguasai hati sang pangeran .
Setiba di kerajaan, dengan keramahan yang tidak dibuat-buat
dipersilakan sang pangeran masuk oleh para pengawal kerajaan namun tak
sedikitpun pangeran memberikan senyuman pada
pengawal-pengawal itu . Berjalan angkuh sudah menjadi citra negative
sang pangeran dimata rakyat dan seluruh orang yang mengenalinya . Atribut
kerajaan yang ia kenakan membuatnya begitu congkak, ditambah lagi kemahirannya
dalam bela diri . Hampir setiap orang yang ia temui di jalan ia jadikan
mangsa/lawan nya dalam mengukur kehebatan bela dirinya itu sebabnya orang tadi
(pamannya) tiba-tiba mengambil langkah seribu begitu melihat sang
pangeran,Puang . Hal itu di karenakan siapa saja yang sudah menjadi sasarannya
pasti akan berujung pada kematian , sudah ratusan rakyat di sekitar kerajaan
sang baginda Silih tewas di tangan anak semata wayangnya, Puang Andi .
“Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak
jauh dari tepi Danau”. Katanya memperkenalkan diri kepada sang pangeran yang
sedang berjalan di lorong kerajaan .
“Siapa kau? Lalu bagaimana kau bisa masuk ke dalam kerajaan
sesukamu” Ujar Puang Andi .
Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali.
“Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu
kelas pula,” katanya melanjutkan.
“Wajahmu masih seperti dulu,” katanya lagi .
“Tidakkah engkau peduli akan kabar ku ?” Kabar tentang adik
sepupumu yang ibu nya kau bunuh saat sedang mengajarkan ku bela diri .
Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benak sang pangeran ,
Pulan nama wanita itu yang tidak lain ialah wanita yang mengukir pesan di
sebuah pohon pada hutan tadi .
“Sudah puluhan tahun….. hiks hiks hikss .” Agak sulit baginya
berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. “Aku tidak mungkin hidup sendirian ,
sudikah kau membunuhku juga wahai pangeran agung yang amat tangguh”? Ujarnya
dengan dadak sesak dan terlihat batinnya bergejolak .
Nampaknya luapan emosi yang diberikan seorang pulan pada sang
pangeran, Puang andi tak berdampak pada perubahan pola pikir atau perasaan sang
pangeran . Ketika mendengar luapan emosi darinya Puang Andi hanya terdiam lalu
kembali berjalan di lorong kerajaan menuju ruang tidurnya tanpa satu kata pun
terlontar .
Malam telah berlalu matahari mulai muncul , cahaya sinarnya
yang tepat disebelah timur sangat terang menyinari kerajaan pada hari itu .
“Apa yang kau lakukan nak, embun hampir habis namun kalau
belum juga selesai berlatih”? Ujar baginda Silih Andi kepada pangeran Puang .
“Apalagi kalau bukan memantap kan ilmu bela diri ku agar aku
dapat menjadi satu-satunya yang memiliki kesaktian abadi”. Ujar pangeran Puang
kepada ayahandanya .
Baginda tersenyum dan mengangguk-angguk lalu berkata “
Setelah waktu itu tiba tebus lah segala dosamu pada rakyat dan makhluk dibumi
ini jadilah pangeran yang melindungi negeri ini nak”
“Haha.. perduli apa ku soal itu semua , liat saja nanti akan
ku sempurnakan ilmuku lalu akan ku kusai jagad raya”. Ujar pangeran Puang Andi
dalam hati .
Tak lama setelah baginda pergi dengan kereta kencananya
menuju kota dan bertemu para rakyatnya , sang harimau putih datang menghampiri
pangeran Puang Andi . Dengan luka yang tak pernah hilang disetiap harinya
dikarenakan oleh ulah kejam sang pangeran yang selalu mencabik, mencambuk dan
menjadikannya sasaran untuk berlatih bela diri .
Dan di tempat yang berbeda sang baginda Silih Andi sedang
menantau kegiatan rakyatnya setiap hari dan sesekali membantu mereka dalam
berkerja . Baginda Silih Andi adalah sosok raja yang agung, ramah dan sangat
mengayomi rakyatnya . Antara rakyat dan raja seolah tak ada kedudukan yang
memisahkan. Sampai salah seorang rakyat bertanya pada baginda ketika baginda
sedang membantunya menggangkat kayu untuk dijualnya kepasar .
“Wahai baginda raja , bolehkan saya tahu apa yang ada pada
lengan baginda? Nampak ada banyak luka disekitar lengan dan tubuh baginda
sepertinya”. Ujar nya
“Bukan apa-apa ini hanya luka biasa akibat berburu di hutan”.
Balas sang baginda .
“Kalau begitu izinkan saya untuk mengobati luka-luka yang ada
pada tubuh baginda dengan beberapa racikan herbal yang saya punya”. Pinta nya
kepada baginda
“Tidak, tidak perlu terimakasih atas tawaran mu namun
luka-luka ini akan kering dengan sendirinya”. Kata baginda Silih sambil
merangkul rakatnya itu .
“Baiklah saya akan teruskan perjalanan untuk melihat
aktivitas lainnya” Ujar baginda
“Hati-hati di jalan yang mulia, terimakasih atas segala bantuan
dan perhatian mu pada rakyat kecil seperti kami.” Ujar salah satu rakyat tadi .
Baginda hanya tersenyum mendengar ucapan dari orang itu .
Baginda Silih Andi memang sangat baik berbeda dengan anaknya Puang Andi . Tak
lama ketika di dalam kereta kencana baginda lagi-lagi merasakan sakit pada
tubuhnya seperti tecabik kemudian timbul lah memar dan luka-luka lagi . Lalu,
Pulan yang ternyata sedang ikut serta di dalam kereta kencana itu berkata pada
baginda “Wahai baginda, sulit ku melihat ini semua ini sebabnya aku dan ayah
pergi jauh dari istana agar melupakan ini semua. Sampai kapan baginda kuat dan
sanggup menderita seperti ini semua?”
Baginda menjawab “ Maafkan saya pulan, bersabar lah tunggu
sampai senja selesai” .
“Lalu, senja mana yang kau tunggu sudah puluhan tahun kau
melewati senja namun tak ada senja yang kau maksud”. Ujar Pulan dengan
berlinang air mata seolah ikut merasakan penderitaan baginda Silih Andi .
Mendengar ucapan Pulan baginda hanya tersenyum dan terus
menahan rasa sakit yang ia alami, luka-luka yang ada pada tubuh baginda semakin
bertambah bahkan kini sampai bagian wajah pun timbul garis merah seperti
cambukan .
Sedangkan di kerajaan sang Pangeran
Puang Andi sedang asik berlatih bela diri ditemani oleh harimau putih miliknya
. Harimau putih itu nampak kelelahan dan kesakitan karena dijadikan lawan
bertarungnya. Namun harimau itu sangat setia menemani pangeran seperti halnya
yang diperintahkan oleh sang baginda kepadanya . Tak lama senja pun kembali
tiba saat senja tiba sang baginda raja kembali ke istana bersama Pulan ,
pengawal-pengawal dan kereta kecananya . Setiba baginda di istana sang pangeran
berserta harimau putihnya menghampiri baginda dan berkata : “Ayahanda Silih, telah kusempurnakan ilmu bela diriku , kini saatnya
ayahanda menjawab tantangan ananda beberapa puluhan tahun silam . Kini di ujung
senja ini anada siap bertarung dengan mu demi mendapatkan kesaktian abadi dan
satu-satunya dibumi ini.”
Mendengar
maklumat tersebut, pandangan Baginda
Silih menerawang jauh. Dulu alasan beliau meminta ananda Puang Andi untuk
menyempurnakan ilmu nya dahulu sebelum bertarung dengan nya adalah seonggok
alasan agar Pangeran Puang Andi tidak terluka dan kalah pada pertarungan antara
ayah dan anak itu . Namun, selain itu kini
ini yang di khawatirkan Baginda Silih ialah Bagaimana bila salah satu
harus terbunuh? Bagaimana bila dirinya yang terbunuh lalu rakyat marah? Atau
bagaimana bila putranya yang terbunuh?Bagai menang menjadi arang kalah menjadi
abu. Begitu risau hati Baginda Silih
memikirkan maklumat yang disampaikan putranya tersebut. Baginda tidak ingin
sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam lingkungan kerajaan.
Mendengar
perkataan sang pangeran , Pulan yang merupakan adik sepupu pangeran Puang Andi
sangat kecewa dan sangat marah kepada sang pangeran . Tiba-tiba dengan lantang ia berkata:
“Tidak kah kau bisa berbuat baik hanya pada
satu orang saja yaitu ayah mu pangeran. Tidak kan nurani mu berfikir tentang
kasih orangtua tiada batasnya . Kini baginda Silih bukanlah seorang yang sakti
seperti yang kamu kira pangeran . Pusat kekuatannya sudah ia serahkan pada
harimau putih peliharaan mu itu sejak kamu mulai mengatakan untuk mengadadakan
pertarungan pada baginda . Maka setiap kali harimau itu terluka saat sedang
berlatih dengan mu atau pun sedang dalam kondisi terancam ayahanda mu merasakan
luka dan ketakutan yang di rasakan harimau itu . Tidakah kau lihat luka yang
ada pada harimau itu sangat sama dengan luka-luka yang ada pada tubuh dan wajah
sang baginda, bahkan untuk menanyakan hal itu saja kau enggan dan tidak kah kau
tahu mengapa ayahku mati secara tiba-tiba setelah betemu dengan mu? Biar semua
orang tahu ini bahwa ayah ku mati bunuh diri setelah kejadian itu karena tidak
tega melihat kakanya,Baginda Silih dalam wujud seekor harimau putih milikmu
yang kau cambuk kau pukul pada saat itu dikala membela dirinya saat kau
mengejarnya ”.
Mendengar pengakuan tersebut Puang Andi
menangis merintih-rintih karena selama ini, selama puluhan tahun Puang Andi
merawat harimau putih dengan tidak wajar ,
memukulnya dengan cambuk , memberinya makanan basi dan menjadikannya
pelampiasan ketika dia marah dengan siapapun. “Apa yang aku lakukan selama ini
kepada harimau itu berarti aku melukai ayahanda ku secara perlahan……….”. Ujar
sang Pangeran
Tak lama ia kembali berucap :
“Maka dari itu lebih baik aku membunuhnya secara langsung
” Ujar Puang Andi sambil mencabik-cabik harimau putih itu dengan berlinang air
mata buaya .
Dan senja pun usai dengan tragis .
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar