Dibenakku selalu ada pesta-pesta yang
tak selesai. Teman-teman bernyanyi di tengah cahaya lilin. Sedangkan aku hanya
berdiam diri di kamar ku dengan tumpukan kertas yang tak sabar ingin dibaca.
Aku sama sekali tidak menyesali sikap ku ini, hanya saja aku mulai risih
mendengar cemooh beberapa teman ku malam ini. Sebenarnya itu bukan cemooh,
hanya saja mereka sedikit gusar karena aku lebih memilih melanjutkan
pekerjaanku malam ini ketimbang bernyanyi di tengah cahaya lilin di malam
minggu.
“Bagaimana
bisa, naskah Majalah KokiKata berantakan begini?”
“Ini sama saja, perusakan bahasa.
Sudah tau KokiKata dikhususkan untuk anak-anak, tetapi ejaan dan bahasa banyak
kesalahan.”
“Jangan merusak bahasa anak-anak
karena nafsu hura-hura semalam. Semua ada porsinya.”
Ku dengar kalimat itu berkali-kali dari balik pintu Redaksi. Gosip
beredar, naskah itu dikerjaan oleh temanku yang semalam suntuk bernyanyi di
tengah cahaya lilin. Tak lama gadis seusiaku menghampiri dengan suara yg sudah
akrab di telingaku.
“Maafkan aku, aku ingin bisa menjadi seperti dirimu mencintai
pekerjaan sampai ke ulu hati, bahkan tak koyak saat gemerlap pesta malam tadi.”
“Tugas kita ini meminimalisir terjadinya kesalahan, bukan
membuat kesalahan kita menjadi biang keladi, kalau sudah begini lain kali
jangan ulangi sebab anak-anak butuh naskah yang mudah di mengerti.” Ujarku
sedikit menasehati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar