Sabtu, 04 April 2015

(Cermin) Biang Keladi

Dibenakku selalu ada pesta-pesta yang tak selesai. Teman-teman bernyanyi di tengah cahaya lilin. Sedangkan aku hanya berdiam diri di kamar ku dengan tumpukan kertas yang tak sabar ingin dibaca. Aku sama sekali tidak menyesali sikap ku ini, hanya saja aku mulai risih mendengar cemooh beberapa teman ku malam ini. Sebenarnya itu bukan cemooh, hanya saja mereka sedikit gusar karena aku lebih memilih melanjutkan pekerjaanku malam ini ketimbang bernyanyi di tengah cahaya lilin di malam minggu.
            
            “Bagaimana bisa, naskah Majalah KokiKata berantakan begini?”

“Ini sama saja, perusakan bahasa. Sudah tau KokiKata dikhususkan untuk anak-anak, tetapi ejaan dan bahasa banyak kesalahan.”

“Jangan merusak bahasa anak-anak karena nafsu hura-hura semalam. Semua ada porsinya.”

Ku dengar kalimat itu berkali-kali dari balik pintu Redaksi. Gosip beredar, naskah itu dikerjaan oleh temanku yang semalam suntuk bernyanyi di tengah cahaya lilin. Tak lama gadis seusiaku menghampiri dengan suara yg sudah akrab di telingaku.

“Maafkan aku, aku ingin bisa menjadi seperti dirimu mencintai pekerjaan sampai ke ulu hati, bahkan tak koyak saat gemerlap pesta malam tadi.”


“Tugas kita ini meminimalisir terjadinya kesalahan, bukan membuat kesalahan kita menjadi biang keladi, kalau sudah begini lain kali jangan ulangi sebab anak-anak butuh naskah yang mudah di mengerti.” Ujarku sedikit menasehati.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar