Jumat, 05 Juni 2015

(CERPEN) Beranjak Dari Realita

DENGAN HATI berat aku tuliskan cerita ini untuk kalian. Sudah sepatutnya cerita ini ditujukan pada kalian, sebuah cerita yang memilukan dan menyedihkan. Kalian, yang terlahir dengan harta dan tahta orangtua. Pernahkah membayangkan jika kalian terlahir dari rahim ibu yang tidak punya apa-apa selain rasa syukur yang teramat berlebihan? Apakah di antara kita ada yang bisa memilih akan terlahir dari rahim yang mana, orangtua yang seperti apa dan tingkat kesenjangan sosial dikelas mana?
            
    Tidakkah kalian yang terlahir dibawah atap keluarga yang aman, bisa merasakan pilu hidup yang dialami orang-orang disekitar kalian? yang setiap hari kalian santap hasil jerih payahnya, hasil keringatnya, hasil usahanya yang tidak dibayar sesuai dengan yang mereka kerjakan. Ya. Mereka para nelayan, petani, dan sejenis mereka lainnya. Mungkin ada di antara mereka yang yatim–piatu, yang tidak mendapat perlindungan dari rasa lapar yang paling menyiksa. Padahal, padi yang mereka panen setiap harinya. Ladang yang mereka bajak setiap harinya adalah sumber asupan pokok negara kita ini? Namun mengapa justru mereka-mereka sendiri yang sulit memakan padi itu dalam bentuk nasi. Nasi yang dalam jumlah banyak, dan berkualitas baik seperti yang mereka harapkan disetiap proses penggarapannya.

Yang mereka makan adalah nasi yang belum pantas disebut nasi. Ditambahlagi, lauk-pauk yang mereka makan tidak lebih banyak dan tidak lebih besar dari padi-padi dalam segumpal genggam tangan. Kalian tahu yang aku maksud? Teri! Kalian mengerti? Lauk-pauk yang mereka makan tidak pernah berkombinasi. Hanya nasi putih dan kumpulan teri yang dimakan untuk dibagi-bagi dengan seisi rumah. Biasanya, terdiri atas ibu, ayah, nenek, kakek, dan beberapa anak yang masih bisa dihitungan dengan jari. Akan tetapi, kalian tahu sendiri jumlah anak hitungan jari jika ingin dikatakan sedikit ya kisaran dua sampai tiga. Lah. Ini. Kasusnya beda lagi. Jumlah anak hitungan jari mencapai lima sampai tujuh kepala. Bayangkan. Memakan nasi dengan kumpulan teri yang dibagi-bagi.

Sayangnya, bagaimana pun baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini, masih ada saja yang kalian rasa kurang. Sedangkan, mereka yang berada dalam kekurangan ingin berbebas dari kekurang itu. Ralat bukan terbebas. Hanya butuh sedikit keringanan. Kalian? Malah selalu ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang hidup dalam kecukupan ingin lebih cukup lagi. Dari semua perasaaan kurang itu, dari semua hasrat ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah itu, kalian menghalalkan segala perbuatan. Bahkan, rela mengambil recehan-recehan dari tangan petani, nelayan,dan sejenis mereka lainnya. Tak sadar?  Sudah berapa program pemerintah yang mengatas namakan bangsa dan Negara?

Sudah berapa banyak kebijakan yang dibuat berdasarkan kepentingan rakyat? Namun sudah berapa banyak juga program yang kalian jalankan kemudian kalian persulit prosedurnya? Jika di antara mereka ingin membuat Kartu Jakarta Sehat saja misalnya kalian buat rumit segala macam prosesnya, parahnya selalu saja ada kotak hijau disamping petugas yang melayani. Kotak itu tak ubahnya sebuah basa-basi rakyat, banyak diantara mereka kulihat memasukkan selembar uang dua ribu rupiah sampai dengan dua puluh ribu rupiah kedalamnya alih-alih sebagai ucapan terimakasih dan ataupun tidak enak hati. Sudahlah jangan basa-basi lagi personal ini. Kalau memang tidak ada maksud mengambil recehan dari tangan mereka-mereka untuk apa kalian letakan kotak hijau itu disamping meja kalian. Tidakkah itu kewajiban kalian? Tidakkah gaji kalian dibayar include untuk menangani masalah-masalah rakyat seperti ini.

Seluruh lapisan masyarakat hidup dalam kekurangan, kelaparan, dan kemiskinan. Sayur-mayur. Lauk-pauk hasil tangkapan mereka jatuh ketangan pedangang dengan harga yang tidak seberapa. Memang kehidupan disekitar mereka, hanya golongan pedagang yang dapat hidup baik dari kemiskinan dan kelaparan itu. Sedangkan, mereka para petani, nelayan dan semacam dari mereka. Masih butuh pekerjaan tambahan untuk sekedar mengisi perut dan melanjutkan hidup yang ekspektasinya dalam hitungan hari. Ada yang mencari tambahan dengan menjadi penenun batik, buruh, dan tukang cuci ditetangganya sendiri. Batik yang mereka buat dengan modal orang lain kualitasnya sangat terjamin. Sayangnya, mereka tak pernah punya cukup uang untuk membeli kain mori;bahan baku batik yang berbuat dari kapas; yang harganya tak pernah bisa mereka sanggupi. Untuk itu, mereka rela menjadi penenun batik dengan upah paling sepuluh ribu sehari. Padahal, kalau mereka buat sendiri dengan modal sendiri penghasilan yang mereka dapatkan bisa mencapai ratusan ribu.
Apa yang kalian rasakan wahai orang-orang berdasi yang tak pernah melirik kehidupan rakyat seperti mereka-mereka ini? Mengaku-aku bisa merasakan kehidupan mereka padahal mengalami secara langsung saja tidak pernah. Baiknya kalian tidak perlu banyak berorasi, segara buatkan mereka-mereka ini koperasi dengan persyaratan yang benar-benar dapat mereka sanggupi. Bukan dengan persyaratan yang menurut kalian;harus mereka sanggupi; Mengerti? Aku rasa ini solusi terbaik dalam menangangi permasalah rakyat kecil seperti mereka-mereka ini.


Andai saja, aku ini seorang wanita berusia matang dengan harta dan tahta ditangan seperti Ibu Megawati Soekarno Putri. Aku pasti sudah melaksanakan apa-apa saja yang bisa kulakukan untuk meringankan beban-beban mereka itu. Sayangnya, aku ini hanya wanita belia yang belum mempunyai harta dan tahta. Aku hanya hidup dengan rangkaian kata yang kubuat dari realita. Jangan tersingung mengapa aku menyebut satu nama seperti diatas tadi, aku ini wanita yang baru mencicipi kepala dua, yang aku tau sosok pemimpin wanita di negeri kita ini siapa lagi kalau bukan Kartini dan Megawati.  

Jakarta, 06 Juni 2015. Cerita ini dibuat atas pembicaraan kecil bersama Mas Lalu Hilman Afriandi staff ahli DPD RI. 

Rabu, 13 Mei 2015

(FriendshipNeverEnds) Langkah Kaki



Tiga Belas Mei 2015, Cuaca cukup muram. Air hujan mengguyur jalan aspal daerah rumahku. Aku hampir mati gaya mensiasati hari ini. Hingga kuputuskan untuk menjelajahi dunia semu di depan layar lebar kegemaranku. Kalian pasti tau, ya laptop pribadiku.

Kucoba membuka beberapa situs mulai dari situs yang memuat tentang berita, sosial media, bahkan sampai situs porno yang tak sengaja muncul di layar lebarku. Ah, aku benci sekali ini hal ini. Selalu saja muncul situs atau iklan yang memuat gambar-gambar keji yang tak pantas di pertontoni. Akhirnya kuputuskan untuk mencari hal yang agak berbau manusiawi dan bernilai positif tinggi.

Kumulai dengan mengetik beberapa huruf di atas papan qwerty, kutuliskan kata ‘Lomba Menulis’ pada sudut kanan atas yang di lengkapi dengan symbol kaca pembesar. Kurasa semua orang hampir mengenali, symbol itu berarti “searching” dalam sebuah jaringan komunikasi. Nah, yang kubuka itu terdapat disalah satu jejaring sosial yang dinamakan Twitter.

Kemudian muncul lah beberapa link lomba menulis yang bisa ku ikuti namun sayangnya akun @nulisbuku dan @Tiket.com lebih menarik perhatianku. Padahal, deadline pengumpulan naskah yang tertera agaknya menyesakkan hati. Aku dituntut untuk menggerakan jemari di atas papan qwerty pada tanggal di hari ini, untuk sekedar menarasikan sebuah kisah persahabatan yang tak akan berakhir atau sebut saja dengan tema #FrienshipNeverEnds.
Ah, aku merasa kudet. Mengapa hari ini menjadi batas pengumpulan naskah yang terakhir kali? Sungguh ironi.
        
    Dengan itu, tanpa basa basi aku langsung mencari isnpirasi lewat berbagai tulisan cerita pendek yang sering kubaca. Dan sambil melihat beberapa gambar diriku dengan sahabat-sahabatku, namun aku tertarik pada satu gambar. Ya gambar sepasang kaki. Kuputuskan untuk menjadikan gambar itu inspirasi dalam menulis cerpen kali ini. Gambar itu adalah dua buah pasang kaki yang disampingnya terdapat dua buah tas wanita yang diletakan di pelataran alun-alun Bandung. Gambar itu ku ambil sendiri, alih-alih menjadi moment yang nantinya mungkin akan sangat berarti. Kedua pasang kaki itu adalah kaki yang sudah hampir tiga tahun berjalan beriringan. Singkatnya, kedua pasang kaki itu adalah kaki ku dan sahabat baikku. Aku menggenakan flatshoes berwarna merah dengan tas ilustrasi Marlyn Mondroe sedangkan sahabat ku mengenakan sepatu cats putih yang panjangnya sampai ke mata kaki dan tas berwarna hitam pekat ke gemarannya.

            Pernah aku mengunduh gambar ini ke instagram dan ku tambahi caption “Kemana kaki kita akan melangkah lagi?” ditambah hastag #Resolusi #Mahasiswa #2015 . Caption yang ku tulis bukan sekedar dereta kata yang tak bermakna. Aku sangat berharap kaki-kaki ini akan melangkah lebih jauh lagi, dengan biaya sendiri bukan lagi menadah pada kedua orang tua.

            Keberadaan ku di Bandung kala itu bukan sekedar untuk refreshing  semata. Melainkan kami mempunyai urusan yang agaknya perlu di prioritaskan. Kampus ku mempunyai program perkuliahan yang agak berbeda dengan kebanyakan kampus lain. Biasanya kampus lain mengadakan Magang Industri hanya satu kali selama perkuliahan tetapi kampusku mengadakan Magang Industri dua kali selama duduk di bangku perkuliahan. Dan ini cukup membuat kalut pikiranku, sebab magang industri yang kedua ini cukup panjang, yakni tiga bulan lamanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengajak sahabatku ini berkelana ke Bandung berdua saja, alih-alih melamar magang di Balai Bahasa Bandung.

            Namun, betapa cerobohnya kami saat itu. Hingga lupa memikirkan tempat yang akan kami huni selama berada disana.

“Tan, terus kita nginap dimana malam ini” Ujar sahabatku itu saat kami sudah menduduki kursi kereta kelas eksekutif.

“Oh iya, MasyaALLAH gak kepikiran. Main berangkat aja kita” Ujarku agak kaget.
Padahal saat itu jarum jam menunjukan pukul sembilan malam dan di perkirakan kami akan tiba di Bandung larut malam. Kira-kira dua jam setelah berangkatan itu. Memang, keberangkatan kami di Bandung tidak dipersiapkan matang-matang awalnya hanya terlontar biasa saja saat kami sedang bersama. Tanpa di duga, rencana berubah menjadi agak sakral dan dilaksanakan hari itu juga.

“Sudah, tidak usah dikuatirkan kalian langsung aja check in atas nama kamu” ujar seorang pria di sebuah telpon yang tengah ku genggam.

“Ah, terimakasih.. baiknya abang ku ini” saut ku pada pria di telpon itu.

“Jadi, malam ini kita di sponsori?” kata teman ku dengan sigap.
Suasana terkesan lebih tenang lepas itu tetapi tunggu dulu…beberapa pegawai kereta api menghampiri kami.

“maaf mba-mba kursi yang kalian duduki itu bukan milik kalian, silahkan pindah ke gerbong bisnis”

Ah, sial. Pegawai kereta api membuat kami agak malu hati. Kami pikir ini gerbong bisnis enggak taunya gerbong eksekutif. Suasanya berubah lagi, menjadi agak ramai dengan bunyi ketawa kami yang agaknya seperti suara ringkik kuda dimalam hari.

Esok hari pun tiba, kami langkahkan kaki menuju tempat yang sama sekali belum pernah aku pijaki. Balai Bahasa Bandung. Dengan agak sedikit nekat kami mencari nya dengan berjalan kaki, sebab kata kebanyakan pendudukan di kota ini, Balai Bahasa Bandung letaknya tak jauh dari hotel yang kami huni malam tadi.

            Sesampai disana, keringat mengalir dari ujung rambut sampai kaki. Dandanan yang tadinya rapih kini menjadi tak terkendali, agak basah dan kusut. Namun semua itu terbayar dengan sambutan hangat Ibu Kepala bidang Tata Usaha di Balai Bahasa Bandung. Permohonan Magang Industri kami di terima dengan senang hati. Ah, lega sekali.

Setelah itu kami melanjutkan langkah kaki menuju tempat-tempat wisata di kota ini, dengan menggunakan angkutan antar kota tentunya. Tak jarang kami dapati hal-hal lucu yang kami sendiri tak mengerti dan tak jarang kami berada di posisi moody. Namun tiga hari disana kami lalui dengan senang hati, meski berdua saja tak apa. Sebab aku tak butuh banyak teman untuk berjalan bersama kalau akhirnya saling sikut di sebuah persimpangan. Bagiku persahabatan tidak sama seperti cinta yang mudah guyah dan berubah-ubah hanya dengan beberapa perbedaan yang ada. Berbeda kulit, berbeda kelas sosial bahkan berbeda agama tak jadi kendala, asalkan tidak saling mengunjing satu sama lain dan memberikan senyum palsu saat-saat tertentu.  Aku hanya butuh gelak tawa yang tulus dalam sebuah persahabatan,  meski dengan siapapun berteman pasti mengalami fase sulit menyatukan diri. Setidaknya dengan Riri, aku seperti menemukan teman untuk mewujudkan resolusi ku di tahun ini. Ya, Riri adalah nama temanku yang ada didalam foto itu. Oh ya, resolusiku tahun ini adalah duduk di kursi sebuah perusahaan sebagai editor atau penulis handal, tentunya setelah aku dapati tali toga yang dipidahkan dari kiri ke kanan diberengi dengan gelar sarjana dibelakang namaku nanti. Lain itu, aku berharap persahabatan aku dan teman ku ini akan kekal sampai nanti. Meski banyak ketidak cocokan tak ku pungkiri. Namanya juga hidup banyak warna yang kerap tak solid tetapi disitulah nilai nya.

Kini, kami sudah sibuk dengan dunia kami sendiri. Tentunya dengan berbagai kesibukan menuju masa depan yang lebih baik. Lain waktu, kaki kami akan melangkah ke negeri sebrang dengan biaya sendiri. Jangan lupa di amini yaJ

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dannulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .


#FriendshipNeverEnds

Sabtu, 09 Mei 2015

(Cermat) Wejangan

Saat menatap kearahnya aku selalu berkata dalam hati

“aku jatuh cinta padamu kekasih, bukan karena paras indahmu semata tapi caramu menjamuku, seleraku dimanja hingga asam urat dan koletrolpun tak pernah singgah. Aku bersyukur hidupku teratur karenamu.”

Kau tahu? Ibu mu itu waktu mudanya juga tak mahir menjamu, hanya saja ia mulai bertemu dengan pria tampan sepertiku dan mulai mempelajari teori memasak lewat nenekmu, dan hasilnya kurasakan sampai saat ini. Betapa bahagianya hidup tanpa penyakit kecil yang mengganggu gerak tubuhmu. Pria seusiaku kebanyakkan mempunyai sederet pantangan soal makanan tapi tidak berlaku untukku. Ditambah lagi, ibumu selalu mengingatkanku untuk tidak selalu menghisap gulungan nikotin seperti yang ada ditangan suamimu itu. Ajarkanlah suamimu hidup sehat anakku, mulai dari sekarang jangan tunggu nanti. Bukankah akan indah bila kelak kau hidup seperti kami ini? Tetap bersama-sama sampai rambut kalian berdua memutih ditelan waktu.

Karena perut itu pusat, penyakit asalnya dari perut. Untuk itu perut harus kita jaga dengan makanan sehat tidak hanya sedap. Makanlah makanan dan berikanlah anak dan suamimu makanan buatan tanganmu sendiri itu lebih baik, terjamin kebersihannya. Jadi wanita itu tak hanya harus cantik dan baik, tapi juga musti apik memasak.

Meskipun kita sama-sama meyakini umur tak ada yang tahu, cuma tuhan yang bisa tentukan tapi sadarkan kamu anakku bahwa untuk urusan ini sedikitnya kita masih bisa interpensi. Dengan cara yang kubilang tadi.

Jangan jadikan rumah tanggamu dibangun hanya dengan cinta. Cinta itu seperti cuaca, mudah guyah dan berubah-ubah. Hati-hati suamimu akan jatuh cinta dengan wanita lain hanya karena kau tak mahir menjamunya dan mengarahkannya untuk hidup sehat lewat suguhan makanan yang kau ramu sendiri.
***
“Mah, kok melamun saja” ujar suamiku mengagetkan ku. Baru sadar, ternyata aku melamun cukup lama hingga makanan yang kusuguhkan tadi sudah habis dilahap oleh suamiku.


“Ehm,.. eh iya, Pah. Tadi tiba-tiba aku teringat oleh wejangan almarhum ayah mertuamu sebelas tahun silam, yang menasehatiku untuk terus menjaga makananmu agar kita berdua dapat hidup sampai rambut kita sama-sama menutih ditelan waktu. Dan kini, wejangannya terbukti. 




Cerita ini sedang diikutsertakan dalam kuis #CERMAT yang diadakan oleh Penerbit Mizan dengan tema : Hidup Sehat. Bandung, 10 Mei 2015. 

(Cermin) Maafkan aku

            Aku menadah padanya tiap waktu, tak perduli berapa banyak angka nol dibelakang itu. Yang ku tahu adalah kuliahku bisa berjalan lancar alih-alih menunjang prestasiku dikemudian hari. Meskipun pada praktiknya prestasiku tidak sebesar ekspetasiku. Lagi pula mereka tak perduli soal itu, yang penting aku kuliah dengan absensi baik dan ipk tidak pernah dibawah rata-rata, itu cukup aman kurasa. Dengan itu, aku bebas menadah kapanpun kumau.  
            Akan tetapi pernah suatu hari, aku meminta sesuatu yang kurasa sudah hakku. Permintaanku pun tidak lebih besar dari biasanya, juga tidak lebih cepat dari seharusnya. Tapi, mengapa senyum itu tidak kulihat lagi? Bahkan, mata itu tak lagi memandang dengan binar-binar mesra penuh cinta. Yang terlihat hanyalah tatapan lelah. Lelah melihat anaknya meminta setiap waktu, lelah melihat anaknya yang sudah beranjak kepala dua tetapi hanya hidup bergantung pada orangtua. Oh, ini yang kulihat entah benar apa tidak aku tak ingin bertanya.
Agak lama setelah itu, diangkatnya lengan perlahan-lahan dan dilengkungkan lengan itu, dan dimasukannya kedalam sebuah tas berwarna coklat untuk mengambil beberapa cetakan Peruri yang kuminta tadi sembari berkata “sampai kapan kuliahmu ini berakhir?” hela nafasnya panjang dan lebih kencang dari biasanya.  Aku hanya tertegun sambil menatap matanya yang memerah secara tiba-tiba. Dalam benakku, itu adalah pertanyaan yang sudah seharusnya tak perlu aku jawab toh sebenarnya ia sudah tau kapan waktunya aku akan wisuda dan memakai toga.

“Jadi benar dugaan kutadi.” Aku mengujarnya dalam hati dan menyesali duapuluh tahun yang kulewati secara cuma-cuma tanpa berusaha membantu meringankan biaya yang mereka tanggung dengan jumlah buah hati yang lebih dari yang dianjurkan pemerintah kita ini. Agaknya aku harus lebih tahu diri, hidup itu bukan soal hak asasi anak tetapi juga kewajiban anak.  Maafkan aku.


Cerita ini diikut sertakan dalam kuis yang diadakan oleh Penerbit Bentang Pustaka dengan tema Ibu. 

Minggu, 03 Mei 2015

(Cermat) Biarlah cinta kita...

            Sore itu, sepoi angin pantai seolah menyisir rambut yang mulai memutih ditelan usia, menerpa kerut-kerut wajah yang dipahat waktu. Duduk termenung memandang paras wanita belia menjadi hal yang ku damba apalagi wanita ini begitu ku cinta. Hadirnya membuatku hidup berwarna dan selalu mampu mengindera rasa. Manis dan pahit jadi idola, seperti kemesraan yang saling menyakiti? Tanyaku sendiri dalam hati. Ah, aku tidak perduli.

Tak lama ku lirik kearahnya, sedang asik menatap gelap laut malam hari sambil sesekali tersenyum saat kapal nelayan yang didekorasi dengan pernak-pernik lampu lalu lalang dihadapan kami. Barulah saat itu aku menyadari, bahwa hari mulai malam dan aku melewatkan detik-detik tergelincirnya matahari di tengah laut, itu semua ulah garis bibir wanita belia itu.  Senyumnya seperti lorong waktu, membuatku mengenang peristiwa lapuk beberapa bulan lalu saat wanita belia itu masih menjelma menjadi sembilu yang kerap menyayat hatiku dengan sikap dinginnya, saat itu ia masih saja belum berterima dicintai oleh pria seusiaku dan aku pun tak pernah perduli akan benang merah antara kami.


Dan kini bahagianya aku, aku dan dia duduk berdampingan sambil memandang kearah pantai dilantai dua sebuah rumah makan bergaya tradisional dengan suasana yang cukup romantis.Tak jarang kami saling menggulungkan jemari, membuat kemesraan yang saling menyakiti. Tapi siapa perduli. Meski aku ini pria berusia mencapai kepala empat tapi aku masih bisa mengimbangi wanita yang baru mencicipi usia kepala dua ini. Ya, tak dipungkiri perbedaan usia sejauh itu kerap membuat perih hati dan mengazab dijiwa saat kami mencoba memahami arti perasaan ini.  Bertengkar soal hal ini, bukan lagi sekali dua kali. Apalagi jika dipikir-pikir pasti banyak pria muda seusianya lalu lalang dihadapannya, tak jarang menggoda lewat pesan singkat di handphonenya. Aku pun sempat lelah jika membayangkan nantinya ia akan tergoda oleh salah satu diantara mereka. Tetapi lagi-lagi aku selalu menyakini diriku, bahwa cinta tak pernah mengenal lelah dan sia-sia. Semoga perasaan dan kesetiaannya tetap begini, sampai keadaan saling mengamini. Atau mungkin, biarlah perasaan ini akan terus memanjang meski perpisahan benar-benar datang.

Kamis, 30 April 2015

(Puisi) Teori Basi



Ku harap hujan turun lebih lama
Agaknya itu yang patut ku damba
Dari pada langit sumringah ditengah tikar airmata
Itu lebih menyakitkan daripada  jatuh cinta
           
Disaat seperti ini, yang aku butuhkan hanyalah aroma
            Bukan mawar ataupun melati
            Aku hanya butuh aroma harum tanah
            Bukan juga berarti aku berharap ada manusia ditaruh dipeti

Aku ingin hujan turun sepanjang hari
Suara gemuruh hujan seperti sorak sorai tepuk tangan manusia
Saat aku tengah bermimpi
Lewat lukisan yang ku buat setiap hari.
           
Saat hujan makin deras langit makin kelam
            Bintang-bintang berjatuhan
            Menjadi dekorasi alami bagi semesta ini
            Membuat adrenalinku berpacu tinggi

Aku ini manusia setengah mati
Hidup dengan banyak saraf-saraf yang yang tak lagi berfungsi
Yang aku andalkan hanya kidalku ini
Meski bau lelah mulai ku ciumi beberapa kali
           
Tak jarang aku duduk diatas sajadah suci
Sekedar untuk menangis atau merintih
Meski ku tau hal itu tidak ada gunanya sama sekali
Jika tak diimbangi dengan sujud dan rukuk berulang kali

            Tetapi gimana lagi
            Yang bisa dilakukan oleh seorang difabel sepertiku hanyalah ini
            Kaki dan tangan sudah tak ku kenali
            Meski aku masih punya kidalku ini
            Bagaimana bisa aku beribadah secara manusiawi

Seringkali aku berpegang pada teori basi
Yang bilang keterbatasan bukanlah penghalang lagi
Nyatanya? Yang merasain toh aku sendiri
Itu teori jangan diubar lagi
           
            Jangan mengimingiku dengan teori-teori basi
            Lebih baik kau beri aku sedikit peluang untuk bermimpi
            Misal, dengan cara kau menangkan karyaku dalam perlombaan kali ini
            Wahai tuan berjas hitam dan kemeja putih

Resahku tak jua menepi
Saat ku tau pengumuman lomba melukis adalah hari ini
Tapi kau membuangku ke benua yang sepi
Saat ku dengar kau memberi koper berisikan lembar yang dicetak di Peruri
Negara macam apa ini?
Kemenangan saja dapat dibeli

            Ingin rasanya ku beri dera pada mu
Wahai tuan yang ku maksud tadi
Namun sayang tuhan hanya menciptakan ku hanya dengan kidalku
Sungguh ironi, jika harus ku kotori kidalku untukmu.


Catatan : 
Puisi ini sedang diikut sertakan dalam lomba di Penerbit Kakaye Publishing.
Dengan tema : Impossible, keterbatasan menjadi tanpa batas
Jakarta 30 April, 2015 

Sabtu, 18 April 2015

(Cermin) Tulislah

Malam itu, aku terbangun dalam tidur ku yang belakangan ini tak nyenyak, ada sesuatu yang hilang dari hidupku, tak ada pesan yang masuk ke inbox ku. Secara gampang, kau boleh menyebut itu adalah kondisi dimana aku resah menanti pesan dari kekasihku. Aku putus asa dengan hubungan kami, sebab terakhir kali kami berkomunikasi, kami membicarakan hal yang membuat dadaku sesak, bisa dibilang aku dan dia sudah tak lagi jadi kita.

Mensiasati jemuku malam itu, aku putuskan mengambil papan qwerty milikku dan ku biarkan jemariku menari diatasnya. Tanpa sadar beberapa lembar telah ku isi penuh dengan rangkaian kata yang ku buat secara bercerita. Ku mulai karir ku dari situ, tak ada yang mengira bahwa tulisan yang ku buat dengan perasaan pilu justru mempertemukanku dengan karirku.

 Sebab itu, Kau tau? Aku pernah berada di posisimu, saat harapan menjadi pegangan, saat semangat tetap membara meski jemu melanda. Yang harus kamu lakukan adalah jangan pernah kenal lelah untuk berkarya, meski tak banyak yang membacanya. Terus berkarya tanpa henti, jangan pikiri tulisan mu berarti atau tidak dikemudian hari. Ujarku kala itu pada seorang anak magang diperusahaanku yang tengah terdiam menatap sampul buku yang ia buat sendiri dengan synopsis yang telah tercantum didalamnya alih-alih sebagai harapan bisa diterbitkan dikemudian hari. 

Rabu, 15 April 2015

(Cerpen) Curahan Hati

Aku hanya enggan kehabisan pembicaraan hingga aku merasa perlu jeda sesekali untuk tidak saling berkomunikasi. Namun tidakkah kau ingat aku pernah bicara sesuatu padamu, yang sebenarnya ini rahasia hati yakni, kerap kali yang ku ucapkan lain di hati?

Ah, aku rasa kamu lupa akan hal itu. Yang kamu tahu hanyalah ego dan gengsiku yang siapapun tak bisa tandingi. Padahal, sebenarnya kau salah mengerti maksud hatiku. Aku hanya merasa tak pantas bila seorang wanita belia seperti ku mengganggu pria dewasa seperti mu yang selalu didampingi setumpuk pekerjaan yang tak pernah berkesudahan dengan pesan-pesan yang tidak lebih penting dari gulungan nikotin yang selalu kau bawa kemanapun kau pergi.

Namun, dibalik penantian ku tiap hari yang tidak kau ketahui. Aku selalu merasa kebahagiaan milik ku sendiri dan terasa begitu dekat, sedekat jarak restoran dengan tepi laut tempat kita saling berpaut wajah kala itu. Hanya dengan dua kali kita berada di sana malam itu, namun kenangan yang ku simpan nampaknya akan ku ingat sampai puluhan tahun hidupku. Kedengarannya agak klise,tetapi tidakkah kau tau kebanyakan klise adalah yang berasal dari hati cuma cara meramu kalimat bak capres sedang orasi. Yang memberikan janji dan kebahagiaan tiada henti padahal ujung-ujungnya bikin masyarakat sakit hati. Mungkin persis seperti yang ku ucapkan tadi, tak jarang kau sakit hati dengan sikap ku yang agaknya lebih dingin, tak kenal posisi matahari dan bulan.

Jangan perduli, bagaimanapun sikap ku, sedingin apapun malam itu, dan berapa banyak orang yang melihat dengan mata telanjang saat kita sedang bergandengan tangan yang penting adalah aku cinta kamu sampai aku lupa diri. Mungkin kalimat itu yang paling tepat. Bagaimana tidak bisa-bisanya aku kerap melakukan hal yang diluar kebiasaanku, bahkan banyak hal yang ku lakukan pertama kali denganmu, masabodo nantinya akan ada dua, tiga, empat atau seterusnya, bagi ku kamu itu pemula yang harusnya sih menjadi yang pertama memutuskan tali skaral yang membentang digaris finish. Namun, aku sadar teori itu sudah tidak berlaku lagi. Lihat saja kebanyakan pembalap di paddock, sirkuit sentul yang berada di posisi paling depan saat bendera bercorak hitam putih di angkat keatas kenyataannya jarang sekali yang memenangkan pertandingan dan berdiri sambil mengalungkan medali yang dikelilingi wartawan untuk kemudian gambarnya dimuat di surat kabar. Ya, semoga saja aku salah atau paling tidak semoga saja tak ada yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya seperti yang aku bilang tadi.

Itu bagiku, lain bagi mu (mungkin). Yang aku yakini, kau tidak melakukan ini semua pertamanya dengan ku, aku mewajari tetapi aku masih menaruh harapan besar semoga saja aku salah. Eh, tapi aku mana mau perduli, yang lalu biarlah berlalu seperti katamu di ruangan tadi pagi. Meskipun disitu kau menegaskan pandangan itu hanya berlaku pada satu hal dan tidak berlaku untuk yang lain.

Harusnya kau tidak perlu menjelaskan, percuma saja ucapan itu sudah ku simpan dalam brangkas memori untuk sekedar menghapusnya saja aku enggan sebab aku menyimpannya di tumpukan kertas yang tidak ku ketahui berapa jumlahnya, tentunya tumpukan kertas yang berisi memori. Entah itu dengan yang sebelumnya ini, dengan yang sedang beriringan dengan ku kini atau pun dengan seseorang yang tengah kekeh menjadikan ku seorang istri, selain dirimu.

Beragam pria telah ku temui, bahkan aku menemukan yang sejatinya hampir dikatakan sempurna namun mengapa aku jatuh cinta lagi dengan pria seperti mu? Tidak ada yang salah, hanya saja eranya yang berbeda. Kau pasti mengerti maksudku dan kau sadar akan hal itu tapi kadang kita sama-sama tak memperdulikannya bahkan melupakannya. Padahal, itu benang merah dari ini semua. Dan kali ini aku setuju, jika dalam hati mu saat kau membaca tulisan ku ini, kau sesekali berucap “bukan hanya kamu yang pernah bertemu dengan beragam pria bahkan pernah mendapatkan yang hampir sempurna, aku juga pernah mengalami hal yang sama.” Itu sudah hukum alam. Kita dipertemukan dengan beragam orang di dunia ini dalam jangka waktu yang beragam dan kenangan yang beragam juga.

Aku menulis tulisan ini malam hari tepatnya esok malam, setelah aku panas tinggi. Aku hanya merasa kau sedikit tak ku kenali malam itu. Tak ku dapati keperdulianmu seperti waktu itu, agaknya aku perlu sedih soal ini tetapi setelah aku pikir-pikir harus nya memang bukan kamu yang menemani ku lewat pesan udara itu. Mungkin aku butuh Ibu, sebab aku sedang sendiri malam itu, di kamar yang ku sesewa untuk beberapa bulan di awal tahun duaribulimabelas ini-bacanya pelan-pelan agar tidak mudah protes kenapa aku menulisnya tanpa spasi- kalau kau protes gampang saja, aku tinggal jawab suka-suka aku, aku menulis itu karena aku suka melihat deretan huruf Calibri dengan 1,5 spasi dan aku gemar menulis tahun atau tanggal tanpa angka dan spasi sebab itu lebih terkesan dramatis serta agaknya membuat tulisanku lebih padat, tidak munafik setiap aku menulis aku ingin buru-buru melihat keterangan Word:1600 sebab batas minimal menulis cerita pendek bagiku adalah segitu, kurang dari itu anggap saja aku sedang menulis cerita hemat atau cerita mini seperti yang sering aku tulis untuk kuis di beberapa penerbit belakangan ini.

Saat aku menulis tulisan ini, kau sedang rindu aku? Atau pura-pura rindu? Ah, jangan begitu aku tidak lagi menaruh harapan soal kerinduan itu lagi, terserah saja kau mau menghubungi ku lagi atau tidak, aku tak punya wewenang untuk menyuruhmu menulis beberapa kata untukku. Hanya saja, jangan salahkan aku kalau akan ada seseorang yang bertingkah seperti dirimu di malam itu, menungguku hingga aku terbangun lagi dari tidur ku yang semu disebabkan oleh panas tinggi. Dan aku juga tak menyalahkan diriku kalau saja ada wanita yang akan bertingkah lebih dari yang aku lakukan untukmu, misalnya memberimu kabar tiap hari, menanyakan posisi mu menjelang malam hari, dan protes kalau saja kau tak membalas pesan-pesan yang masuk ke inbox mu itu.

Aku ini bisa apasih, definisi cinta bagiku saja terkesan egois. Aku merasa tak wajar saja bilamana wanita lebih dulu memberi kabar apalagi jika jawaban yang didapati beberapa jam setelah itu. Itu sih sudah kelewat basi. Padahal air putih saja aku liat exp nya sampai duatahun lebih, tetapi mengapa pesan yang ku kirim untukmu dan dibalas selang beberapa jam saja aku merasa itu basi dan tidak berlaku lagi, ya? Semoga kau sudah tak heran dengan sikapku ini dan aku harap kau mudah beradaptasi tapi kalau kenyataannya sebaliknya ya sialahkan saja aku tak bisa interpensi.

Omong-omong soal air putih aku senang sekali menyuruhmu untuk minum cairan itu, sebab itu baik untuk kesehatanmu. Jangan terlampau bebas minum cairan yang tidak mencantumkan lebel halal dikemasannya, sebab itu akan merugikanmu di hari tua nanti ya kalau sesekali sih boleh saja asal jangan diberlakukan semaumu. Kali-kali perlu juga memikirkan kesehatan dihari tua nanti, barangkali kita bisa bersama sampai rambut kita sama-sama memutih seutuhnya. Bukannya itu indah? Dan itu yang selalu membuatku iri di tengah keramaian ibu kota. Masih ada saja mereka-mereka yang berdampingan sampai rambut keduanya memutih seutuhnya, meskipun tidak banyak. Maka dari itu, populasi seperti itu harus di budidayakan oleh kita nanti. 

Setelah aku baca ulang tulisanku di atas, aku agak menasehati mu padahal yang banyak makan asam garamnya kehidupan ini ya kamu.

Jangan tersinggung ya, tulisanku dalam paragraf ini baru aku lanjutkan seminggu kemudian, aku agak tak bernafsu merangkai kata lagi untukmu. Sebab kita berada diposisi jeda saat itu, meski kita sama-sama tahu aku yang selalu memulai semua ini. Setidaknya kau harus tau apa yang terjadi selalu beralasan.


Omong-omong kita sudah dekat setengah tahun -kurang lebih- waktu yang cukup lama bagiku, namamu sudah melekat diingatanku. Kalau suatu hari nanti kau sempat membaca ini aku mohon jangan ingatkan kepadaku lagi, sebab aku ingin larut bersamamu hingga aku lupa pernah menulis ini pada bulan April di awal tahun duaribulimabelas. Semoga kita dekat sampai bulan bergilir, tahun berganti, dan keadaan saling mengamini. 

Minggu, 12 April 2015

(Cermat) Pilihan

Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini, paha kemana-mana, bahu terbuka apalagi dada menantang. Tetapi mengapa tatapan mereka seperti menelanjangi, kecewa berbalut amarah menjadi biang keladi. Padahal, baru akhir-akhir ini aku agak membuka bagian tubuhku yang masih disebut dengan aurat dalam kaidah islam. Apakah sesalah itu tindakanku kali ini? Padahal itu sama sekali tak merugikan mereka. Kendati ini merugikan diriku sendiri, tapi apa boleh buat aku melakukan ini semata-mata demi menghidupi keluargaku yang sudah puluhan tahun hidup dalam kerisauan yang selalu menghantui, saat menghadapi preman-preman dipasar yang tengah meminta uang palak. Aku pun tak lagi perlu bersedih hati, memikirkan nasib masa tuaku seperti kebanyakan wanita paruh baya ku lihat beberapa waktu belakangan ini di pinggir lampu merah ketika aku sedang berlatih.
Kendati melihat itu hatiku begitu miris, iba pun kerap kali menjadi penguasa. Hingga aku memutuskan untuk memberi sedikit uang kepada mereka. Padahal, sudah jelas aturan negara kita saat ini, dilarang memberi uang kepada pengemis/peminta-minta. Entah regulasi pemerintah kali ini seringkali bimbang ku untuk menyatakan setuju/tidak dengan regulasi ini. Kalau aku menjawab setuju rasanya seperti tidak manusiawi, namun jika aku mengatakan tidak setuju rasanya salah juga sebab memang kebanyakan fakta yang ada memberi uang secara cuma-cuma kepada mereka sama saja membuat malas masyarakat kita.
Sebenarnya aku malu, saat tengah berlatih di sekitar rumahku banyak sekali laki-laki yang memandangiku dari ujung kepala sampai kaki, dengan berbagai sudut pandang. Meski tak dipungkiri sesekali mereka memuji diriku dgn mengatakan kebanggaan pada ku tetapi ungkapan kekecewaan juga tak jarang mereka lontarkan. Bagaimana tidak? Aku bisa-bisanya melepas hijabku demi menjadi seorang kowal.  Ini pilihan hidup yang sudah ku jalani, meskipun begitu bagiku islam akan tetap ku junjung tinggi dan indonesiaku juga penting. Ditambah lagi menjadi seorang kowal adalah cita-citaku dari dulu untuk mempertahankan Indonesia dari  teroris yang sudah tak asing lagi bagi negara ini.


Minggu, 05 April 2015

(Cermat) Cita-Cita ku Ke Himalaya


Sore itu, aku masuk ke sebuah lorong yang tak ku kenali. Ku sentuh barang-barang yang ada namun semua terasa begitu asing, pijakan kaki tak lagi mudah ku tebak. Sesekali aku hampir terjatuh. Namun, ada seorang menuntunku, sampai bokongku menyentuh benda datar yang bisa ku gunakan untuk duduk. Aku benar-benar tak tau siapa orang itu. Hanya saja badannya begitu lembut dan hangat, aku dapat merasakannya dari sentuhan yang Ia berikan saat menuntunku duduk tadi.

Sebenarnya, lorong apa ini? Semua menjadi tambah gelap. Aku seperti berada di sebuah dimensi yang berbeda dari sebelumnya. Padahal seingatku tadi, aku sedang berjualan korek api di desa, letaknya tak jauh dari kaki Gunung Himalaya yang dinginnya siapa bisa tandingi.

Tiba-tiba orang tadi menghampiri, menggenggam telapak tangan ku yang nampak kedinginan. Tak lama aku sadar, orang ini bukan makhluk seperti ku. Ini seperti monster! Berbadan besar, berbulu lebat serta tidak dapat berbicara. Hanya bisa bergema sesekali, saat mendengar bunyi bising diluar lorong ini.

“Yeti… yeti… yeti…”

Ku dengar nama itu berkali-kali di sebut oleh segerombolan remaja yang nampak ketakutan. Aku benar-benar di posisi bingung saat itu.

***

“Bangun de, banguuun… sudah siang! Lekas mandi…” Ku dengar suara itu berkali-kali.

“ Ah, jadi itu hanya mimpi ”gumam ku

“ Mimpi apa de?” Tanya Ibu panti dengan sigap

“ Itu Bu, tadi malam aku mimpi bertemu Yeti, badannya besar dan bulunya lebat persis seperti mitos yang beredar.”

“ Itu karena kamu selalu berkeinginan pergi ke Himalaya dan bertemu Yeti” jawabnya singkat

Memang, meski aku buta dan sebatang kara aku selalu berkeinginan menjadi pendaki buta pertama di dunia yang bisa menapaki gunung Himalaya dan menguak misteri Yeti.


                                                                  
Begitulah cerita fiksi yang tak sengaja aku buka saat aku tengah mencari informasi tentang Himalaya di internet, dua minggu sebelum keberangkatan ku untuk liburan bersama keluarga ke Himalaya:)



Selesai juga tulisan #CERMAT ku kali ini yang di selenggarakan oleh Penerbit Mizan

Wah, Buku Little Princes bakal jadi hadiah #CERMAT kali ini? Hmm.. Menarik dan bernilai moral tinggi. Buku yang cukup edukatif dengan sajian cerita yang menarik pastinya. Belum lagi ceritanya mengangkat tentang anak-anak korban perdagangan manusia. Padahal ini kasus lama namun kasus ini yang sengaja di kebiri oleh banyak pihak yang tak bertanggung jawab. Hingga masyarakat lupa adanya kasus-kasus seperti ini. Akhirnya kasus seperti ini di kuak lewat buku Little Princes lewat sebuah petualangan seru!

Sabtu, 04 April 2015

(Cermin) Biang Keladi

Dibenakku selalu ada pesta-pesta yang tak selesai. Teman-teman bernyanyi di tengah cahaya lilin. Sedangkan aku hanya berdiam diri di kamar ku dengan tumpukan kertas yang tak sabar ingin dibaca. Aku sama sekali tidak menyesali sikap ku ini, hanya saja aku mulai risih mendengar cemooh beberapa teman ku malam ini. Sebenarnya itu bukan cemooh, hanya saja mereka sedikit gusar karena aku lebih memilih melanjutkan pekerjaanku malam ini ketimbang bernyanyi di tengah cahaya lilin di malam minggu.
            
            “Bagaimana bisa, naskah Majalah KokiKata berantakan begini?”

“Ini sama saja, perusakan bahasa. Sudah tau KokiKata dikhususkan untuk anak-anak, tetapi ejaan dan bahasa banyak kesalahan.”

“Jangan merusak bahasa anak-anak karena nafsu hura-hura semalam. Semua ada porsinya.”

Ku dengar kalimat itu berkali-kali dari balik pintu Redaksi. Gosip beredar, naskah itu dikerjaan oleh temanku yang semalam suntuk bernyanyi di tengah cahaya lilin. Tak lama gadis seusiaku menghampiri dengan suara yg sudah akrab di telingaku.

“Maafkan aku, aku ingin bisa menjadi seperti dirimu mencintai pekerjaan sampai ke ulu hati, bahkan tak koyak saat gemerlap pesta malam tadi.”


“Tugas kita ini meminimalisir terjadinya kesalahan, bukan membuat kesalahan kita menjadi biang keladi, kalau sudah begini lain kali jangan ulangi sebab anak-anak butuh naskah yang mudah di mengerti.” Ujarku sedikit menasehati.  

Senin, 30 Maret 2015

(Cerpen) Abi


Aku masih saja tertegun di depan layar lebar yang nampak gusar karena tak jua di jamah oleh jemari yang seharusnya menari di atas papan qwerty. Layar lebar itu seolah tak sabar menunggu pijatan-pijatan yang nantinya menghasilkan sebuah gagasan, atau bisa saja layar lebar itu gusar karena enggan menunggu terlalu lama, sebab dayanya mulai sayup dan harus lah kembali di isi. Ah, akhirnya layar lebar itu pun menyerah, mati dengan sendirinya. Sebab itu, aku pun baru mulai menggerakan jemari dengan di mulai nya pijatan di sudut kiri atas. Ya, Tombol power on. 

Dari balik pintu tepat di belakang tempatku kala itu, terdapat sepasang sepatu yang tengah menanti untuk di ajak berlari kencang. Aku sadar, tapi aku enggan untuk menghampiri. Mungkin nanti atau tidak sama sekali. Aku pun kembali melanjutkan sebuah gagasan menggunakan papan qwerty, gagasan itu tak ubahnya semua pengalaman pribadi yang harusnya menjadi rahasia hati namun kali ini aku mengunggahnya ke sebuah dinding yang ku ramu seperti kamarku sendiri. Ku berikan stiker lucu yang kerap menggundang mata pembaca ingin berlama-lama, ditambah dengan alunan musik yang sengaja aku suguhkan, alunan cinta tentunya. Apalagi, beberapa bingkai foto yang ku tata rapih dan akan berganti sesuai irama yang telah di setting, agar tidak jemu aku tambahkan beberapa gambar lucu tentang aku dan keluargaku.

Akan tetapi, sayang…apa yang termuat dalam dinding semu itu tak senada dengan dekorasi, kebanyakan bermuat kisah sedih yang belakangan ini terjadi. Kisah yang benar-benar sedih bahkan aku merasa hidup ku seperti dalam sebuah drama tanpa komedi yang di putar dari durasi pertama hingga akhir. Tak lama seorang wanita menghampiri dan menyapaku.

 Wanita patuh baya yang tak punya sedikitpun guratan yang menunjukan akan hal itu.  Tadinya. Namun, belakangan ini yaa tepatnya sebulan belakangan ini guratan itu mulai menunjukan dirinya tanpa ragu. Ini sih bukan karena wanita paruh baya itu tak lagi menggunakan pelembab muka yang ber tagline ‘ age miracle ‘. Bahkan, setauku wanita itu tak pernah mengenakan pelembab muka seperti itu. Jelas saja aku kenal betul, wanita itu adalah wanita yang pernah mengeluarkan ku dalam rahim waktu. Tepatnya, 16 tahun yang lalu sebelum akhirnya aku sibuk dengan dunia ku sendiri. Guratan di wajah Ibu itu timbul karena pikirannya mulai kalut dengan masalah yang sedang Ia topang sendiri.

Sapanya kala itu mengejutkan ku, padahal suaranya tak sampai mencengkam ke latar atau menggetarkan gelas-gelas disekitarku. Sapanya lembut itu mengejutkan hati ku, menyuruhku untuk berhenti sejenak untuk sekedar mengurus tiga orang adik yang sebenarnya sudah bisa mandi dan makan sendiri. Hanya saja, wanita itu butuh sedikit waktu tanpa ingin diketahui mereka. Aku tak lagi heran, sebab itu memang yang seharusnya dilakukan daripada nanti adik-adik ku tahu dan ribut memperdebatkan untuk ikut.

Lepas itu, ku tengok seorang laki-laki berjalan seraya membungkuk padahal Ia tak pernah berjalan seperti itu. Tatapannya hanya berpusat pada satu titik, tepat di ubin-ubin putih pelataran rumahku.  Aku menatapnya sampai benar-benar puas setelah itu hela nafasku panjang. Yang bisa merasakan tentang apa yang ada di benak ku hanya aku seorang, aku tak membaginya pada siapapun. “Hati-hati ya, bu.” Ucapku kala itu pada wanita tadi yang tengah menuntun laki-laki itu yang tak lain adalah Abi ku, dibantu dengan seorang bapak-bapak yang tak asing lagi di pelupuk mataku, sahabat baik Abi.

Habis itu, jemari ku kembali ku letakan di atas papan qwerty dan mulai menari menceritakan yang barusan terjadi. Padahal, aku di perintahkan untuk menjaga adik-adik ku tetapi aku hanya melihat mereka sesekali lalu melanjutkan hobby ku tadi. Tak lama aku menyadari, hari mulai nampak sayup menunjukan malam yang kian liar. Harusnya untuk gadis seusiaku sudah terlelap dalam mimpi yang menggerogoti, tetapi tidak denganku.

Esok hari tiba, namun masih saja aku duduk di bangku berwarna hijau yang muat hanya untuk seorang diri yang biasa di letakan berpasangan dengan meja belajar dan lampu pijar. Namun, aku mulai menyadari sesuatu bahwa wanita malam itu tak jua pulang bersama lelaki yang malam itu juga ku amati, tak lain tak bukan mereka kedua orangtuaku. Ku coba hubungi Ibu, dan kabar tak sedap mengiris telingaku. Abi, masuk rumah sakit.

Ah, ini bagai mimpi buruk yang harus aku alami. Padahal, ku ingat malam ini aku tidak sedang tidur jadi aku tak sedang hanyut dalam mimpi yang menggerogoti. Aku mencoba tegar dan ku tutup telpon tadi, aku merasa sendiri dalam hamparan pasir putih sambil di iringi matahari yang sebentar lagi tergelincir di balik luasnya genangan air. Hingga akhirnya, semua nampak gelap. Tak bercahaya tak berpenghuni.

Ku cium pipi halus dan ku belai beberapa helai rambut hitam si bungsu yang tengah terlelap dalam mimpi yang semestinya indah sebab si bungsu hanya mengerti tertawa dan bahagia. Namun keberadaan ku di situ tak ubahnya menganggu dengan beberapa tetes air yang tak jarang terjatuh dari sudut mata ku dan membasahi pipi halus itu.

“Kakak, kenapa kok nangis?” ujarnya kala itu sambil membersihkan pipinya yang basah karena air mata yang tak sanggup lagi ku bendung. Dengan sigap aku menjawab “enggak apa-apa, dede tidur lagi aja.” Tanpa berpikir panjang si bungsu melanjutkan tidurnya, terlihat lucu bagi ku. Kepolosannya membuat ku sedikit terhibur, bayangkan saja bagaimana tidak… harusnya kalau kejadian tadi terjadi antara aku dan gadis seusiaku pastilah gadis itu tak akan melanjutkan tidurnya dan malah memaksa ku untuk menceritakan alasan mengapa air di pelupuk mataku mengalir. Aku tak marah pada si bungsu, hanya hatiku sedikit menyesal membuatnya terbangun dan menjadi agak sulit tidur lelap kembali.
***
Detak jarum jam yang lamban, seperti kemarin juga. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul duabelas tengah malam. Angin menusuk membuatnya menggigil. Mencucuk sumsum tulang. Membuat hasrat ingin buang hayat kecil makin memuncak. Namun, tak seorang pun dapat ditepuk saat itu. Akhirnya, air mengalir dengan derasnya membasahi seisi kasur.

Aku ingat betul waktu itu, aku sangat menyesali kejadi saat itu. Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di ubin putih dengan sehelai kain yang biasa aku gunakan untuk mengurangi dinginnya malam yang makin liar. Tak biasanya aku tidur di ubin seperti itu, alih-alih ingin membuat kenyamanan pada sang suami malah sesal yang aku dapati. Paginya, saat aku tengok ke kasur putih yang letaknya persis disamping tempat ku tidur di ubin kala itu, aku dapati keadaan suami yang sudah di luar kendali, dengan pakaian yang sudah berserakan disana-sini akibat memaksakan diri membuang air seni malam itu. Padahal, ku tau suamiku tak berdaya untuk melakukan itu sendiri. Jangan kan untuk membuang air seni, untuk mengucapkan kata ‘aku cinta kamu’ pun sudah tak disanggupi. Sebab, keadaannya tak lagi seperti dulu. Kini Ia harus menghadapi penyakit yang makin hari menggerogoti, semua itu ulah gulungan nikotin yang begitu ia gemari.

Ditambah lagi, matanya yang dulu nampak bersinar dengan bulu mata yang lentik membuat ku jatuh cinta, kini mulai tidak ku kenali. Matanya bengkak, katupnya mulai menutup karena selaput putih yang keluar dari pelupuk matanya. Hati ku teriris melihat kondisi sang suami saat itu. Aku merasa gagal menjadi istri, membiarkan suami menghisap gulungan nikotin tiap waktu. Dampaknya baru terasa saat ini, saat usianya masuk kategori paruh baya. Padahal, kami bercita-cita hidup sampai rambut berubah menjadi putih seutuhnya.

Saat Ia menyadari akan kondisi mata yang sulit untuk di ajak berkompromi, Ia mulai mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ingin ku dengar.

“Bu, aku sudah ingin pergi” Ujarnya sambil menggerakan jemari dengan susah payah untuk mendapati genggaman erat telapak tanganku saat itu.

Namun bodohnya aku, aku tak menghiraukan gerakan jemarinya. Aku biarkan jemari itu bergerak tanpa ada umpan balik yang semestinya Ia dapati. Bukan aku enggan, hanya saja aku tak ingin jabatan tangan itu menjadi yang terakhir kalinya. Aku masih mengharapkan miracle , barangkali Tuhan masih beri kami kesempatan untuk bersama lebih lama lagi.

***
Begitulah cerita yang aku dengar setelah beberapa hari bendera kuning mejeng di sudut kiri gang rumah ku. Ku dengar cerita itu berkali-kali, awalnya hati ku seperti hancur berkeping-keping. Lama-lama aku sadar, tak ada yang perlu di sesali. Hanya saja, aku mulai membenci gumpalan asap putih yang bersumber dari gulungan nikotin. Aku hanya merasa benda itu yang harusnya bertanggung jawab atas kepergian Abi. Di tambah lagi, jika ku ingat malam itu, malam dimana Ibu, Abi, dan sahabat Abi beranjak dari rumah dan aku tak sempat ikut menuntunnya ke masuk kedalam mobil.  Ah, ingin rasanya aku mati. Malah kini, aku harus menuntun Abi untuk pergi ke perisitirahatannya yang terakhir kali.  



Akan tetapi, setelah bertahun-tahun ku jalani, hidup tanpa Abi. Aku mulai mengerti bahwa waktu orangtua lebih singkat dari waktu yang ku punya, sudah seharusnya aku lebih banyak berdiam diri di dalam rumah bersama Ibu dan tiga adikku dan tidak memprioritaskan layar lebar yang saban hari aku geluti, harusnya sesekali bicara pada keluarga dari hati ke hati tentang apa-apa saja yang sudah ku lalui hari demi hari. Sesederhana itu? Ya.. tapi itu jauh lebih berarti. 

Minggu, 29 Maret 2015

(Cerpen) Angan

Ceritakan padaku tentang penantiaan, tanyanya pada ku. ah terlalu banyak kau tau tentang itu. Kali ini aku ingin bercerita tentang angan. Angan yang akan membawamu kepada semua cerita. Jadi? Ujarnya penasaran. Biar angan yang menceritakan semuanya padamu.

Siang itu dikamar hotel kami bersenda gurau, membicarakan berita yang ada di koran pagi itu. Koran datang setiap hari digantung di pintu kamar dan aku selalu menggambilnya, bukan untuk kubaca melainkan aku menghormati pelayanan hotel saja. Tapi tidak untuk kali ini, koran itu aku ambil dan kubaca secara seksama. Tak lama dia datang, dan berbaring disebelahku. Aku tersipu malu namun dia terlihat amat nyaman.

            Ditaruhnya sebuah bantal dipunggungku dan meletakan kepalanya di atas bantal. Aku yang tengah membaca koran saat itu hanya terdiam seolah asik membaca koran. Beberapa saat kemudian Ia melihatku dengan amat penasaran tentang apa yang ada dalam berita pagi ini.

            “George, sungguh malang nasibmu menjadi korban ketidak adilan hukum pada masanya. Di Hukum mati dengan cara di dudukan pada sebuah kursi listrik oleh aparat negara yang sebenarnya lebih pantas dipanggil keparat Negara. Tujuhpuluhtahun sudah kasus ini baru mendapat keadilan dan pengakuan ketidak salahannya. Tapi semua itu seolah terlambat harusnya Ia sudah berumur 84 tahun kini.” Ujarnya mengagetkan ku yang sedang asik membaca berita dihalaman sebelah.

            “Aku malah belum baca” Ujarku sambil menoleh kearahnya
           
“Mana pernah kamu membaca apa yang aku baca”

            “Ah, kamu ini..” balasku seolah merasa tersindir oleh ucapannya

“Parahnya faktor utama George di hukum mati adalah perbedaan warna kulitnya dengan orang-orang yang sedang mengeksekusinya kala itu. Mereka fikir orang yang berkulit putih selalu benar apa? Tambahnya lagi.

“Ya, setidaknya untuk orang berkulit hitam seperti yang didekatku ini terkesan sangar dan keras” Ujarku meledeknya.

“Meledek kamu ya songong” Katanya sambil menjitak kepalaku.

Tak lama kemudian seorang wanita yang dari tadi ada bersamaku didalam kamar hotel pun melangkah ke kamar mandi. Tanpa basa basi melihat sikon itu, pria tadi yang menceritakan tentang George kepadaku mulai memegang tanganku erat. Aku hanya terdiam seolah terbiasa oleh hal itu.
                                                                             
                                                                              **** 

Aku jadi teringat sesuatu, pria ini telah lama bersamaku. Kami menghabiskan masa-masa bahagia bersamanya di ibu kota. Tinggal di apartemen dekat dengan kantor kami dan mempunyai anak-anak yang lucu dan pandai. Tinggal di apartemen adalah pilihannya.

“Aku ingin kita tinggal selama beberapa tahun disini, sambil kita mengumpulkan pundi-pundi untuk membeli rumah mewah dikawasan ini” Ujarnya saat itu

“Semua ku lakukan demi anak-anak kita, aku ingin melihat mereka dalam waktu yang panjang setiap harinya. Kalau kita mencari rumah yang jauh dari kantor kita kan kehabisan waktu dijalan dengan kemacetan dan gaji yang habis dijalan. Sedangkan untuk saat ini tabunganku belum cukup untuk membeli rumah mewah dikawasan seperti ini, apartemen adalah solusi terbaik” Katanya menjelaskan

            Iya juga sih, jawabku singkat.

Sepulang kantor Ia selalu tiba dirumah membawa makanan dan mainan untuk anak-anak. Ia begitu menyayangi mereka dan juga aku. Entah mengapa Ia melakukan itu semua.

Sayang, cintaku, ibu dari anak-anakku lagi apa? Ujarnya dalam sebuah pesan singkat Pesan itu selalu membuatku tersenyum.

                                                                               *** 
           
Tak lama wanita yang baru saja masuk ke kamar mandi pun keluar dan segera membereskan pakaian dan kopernya. Tanpa basa-basi aku pun beranjak dari kasur dan meninggalkan lembaran koran yang tadi kubaca dikasur beserta bungkus permen yang berserakan. Laki-laki yang bersama ku tadi pun beranjak dari tempatnya dan bergegas untuk mandi. Setalah melihatnya beranjak dari tempat nya aku pun membersihkan bungkus permen yang berserakan itu dan merapihkan lembaran koran yang habis ku baca.

“Tuh kan, kamu memang bersih” Ujarnya mengagetkanku

“Biasa aja, ini kan sampah sendiri jadi harus dibersihkan sendiri” Jawabku

Ia hanya tersenyum dan kemudian masuk kekamar mandi. Setelah semua dirasa beres, kami bertiga keluar dari kamar hotel dan pulang menggunakan inova. Diperjalanan pulang lagi-lagi laki-laki itu menggenggam tanganku, sesekali aku berusaha menolak namun tak jarang aku membiar hal ini larut begitu saja.

Sesampainya dirumah aku menerima sebuah pesan singkat bertuliskan sayangku.
Ya siapa lagi kalau bukan laki-laki tadi. Semua pesan singkat darinya yang ku terima selalu kubalas dengan ramah. Hingga suatu hari kami terperangkap dalam sebuah alur yang begitu rumit. Membahas hal yang selalu kita bicarakan berulang-ulang. Laki-laki itu begitu keras dengan semua pendapatnya. Aku sedikit lelah tapi aku tak pernah marah.
Sampai pada akhirnya aku membalas pesannya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

“Aku lagi nunggu dijemput pacarku”

“yaudah hati-hati” balasnya singkat.

Pesannya hanya menggantung disitu, sampai malam tak ada pesan indah yang masuk ke ponsel ku. Aku mencoba menghubunginya lebih dulu tak biasanya aku bersikap seperti ini. Setelah lama menunggu balasan, jawaban yang kudapat begitu menyebalkan. Entah mengapa Ia marah padaku.

            Lusa, senin pagi. Kami bertemu dikantor tingkah begitu dingin kepadaku, aku menanggapinya biasa saja tapi tak sedikit pikiran tentangnya memenuhi ruang sesak dikepalaku. Aku pulang lebih dulu hari ini, tanpa diantarnya sampai parkiran. Sesampai dirumah aku tak berusaha menghubunginya lagi karena sudah beberapa kali ku coba untuk menghubunginnya namun jawaban yang kudapat selalu dingin.

            Hingga malam pun tiba, saat lampu-lampu rumah mulai padam dan pintu-pintu rumah mulai terkunci aku mendapat pesan singkat darinya bertuliskan aku sakit. Membaca pesannya aku sedikit panik, ku pikir terjadi sesuatu padanya. Ternyata semua aman, hanya sakit biasa. Pembicaraan lewat pesan pun berlangsung sunyi tak ada canda tawa didalamnya. Malah tak jarang ungkapan perpisahan terlontar didalam pesan-pesannya itu. Aku menanggapinya cemas, tapi lama kelamaan aku merasa lelah. Aku mencoba menuruti keinginannya dan tak membalas pesannya lagi selama beberapa jam.
           
Hingga pagi pun tiba, tak ada dering khas yang biasanya muncul dari ponselku. Padahal, aku melihatnya sedang online tapi Ia tak menyapaku. Ah sudahlah, ujarku sepontan.

            Beberapa jam kemudian, terdengar dering telpon dari ponselku. Segera ku angkat dan seperti biasa memulai percakapan dengan ucapan assalamualaikum.  Percakapan kami diponsel pun terkesan biasa, tak seperti beberapa minggu belakangan ini yang selalu dipenuhi canda tawa dan angannya untuk bersamaku dalam sebuah apartemen bersama anak-anak yang lucu dan pandai.

                                                                                   
                                                                           ***

           Tiap kali ku ingat angannya untuk tinggal bersamaku disebuah apartemen bersama anak-anak yang lucu dan pandai yang selalu Ia lontarkan didalam percakapan panjang kami ditelpon aku hanya bisa menjawab, apa boleh buat kita berbeda. Aku masih terlalu muda untuk itu, sedangkan kau pantas mendapatkan yang lebih baik dan sesuai. Kami selalu cekcok tentang apa yang sudah sama-sama kita ketahui. Tak jarang kami menunjukan sikap egois kami terhadap masalah ini. Ia yang egois untuk tetap ingin bersamaku sampai kapanpun dan menjadikanku halal baginya. Aku yang egois untuk tetap bersamanya sebagai adik sampai Ia bahagia mendapatkan wanita yang sesuai dengannya.