Saat menatap kearahnya aku selalu berkata dalam hati
“aku jatuh cinta padamu
kekasih, bukan karena paras indahmu semata tapi caramu menjamuku, seleraku
dimanja hingga asam urat dan koletrolpun tak pernah singgah. Aku bersyukur hidupku
teratur karenamu.”
Kau tahu? Ibu mu itu waktu mudanya
juga tak mahir menjamu, hanya saja ia mulai bertemu dengan pria tampan
sepertiku dan mulai mempelajari teori memasak lewat nenekmu, dan hasilnya kurasakan
sampai saat ini. Betapa bahagianya hidup tanpa penyakit kecil yang mengganggu
gerak tubuhmu. Pria seusiaku kebanyakkan mempunyai sederet pantangan soal
makanan tapi tidak berlaku untukku. Ditambah lagi, ibumu selalu mengingatkanku
untuk tidak selalu menghisap gulungan nikotin seperti yang ada ditangan suamimu
itu. Ajarkanlah suamimu hidup sehat anakku, mulai dari sekarang jangan tunggu
nanti. Bukankah akan indah bila kelak kau hidup seperti kami ini? Tetap
bersama-sama sampai rambut kalian berdua memutih ditelan waktu.
Karena perut itu pusat, penyakit
asalnya dari perut. Untuk itu perut harus kita jaga dengan makanan sehat tidak
hanya sedap. Makanlah makanan dan berikanlah anak dan suamimu makanan buatan
tanganmu sendiri itu lebih baik, terjamin kebersihannya. Jadi wanita itu tak
hanya harus cantik dan baik, tapi juga musti apik memasak.
Meskipun kita sama-sama meyakini umur
tak ada yang tahu, cuma tuhan yang bisa tentukan tapi sadarkan kamu anakku
bahwa untuk urusan ini sedikitnya kita masih bisa interpensi. Dengan cara yang
kubilang tadi.
Jangan jadikan rumah tanggamu
dibangun hanya dengan cinta. Cinta itu seperti cuaca, mudah guyah dan
berubah-ubah. Hati-hati suamimu akan jatuh cinta dengan wanita lain hanya
karena kau tak mahir menjamunya dan mengarahkannya untuk hidup sehat lewat
suguhan makanan yang kau ramu sendiri.
***
“Mah, kok melamun saja” ujar suamiku
mengagetkan ku. Baru sadar, ternyata aku melamun cukup lama hingga makanan yang
kusuguhkan tadi sudah habis dilahap oleh suamiku.
“Ehm,.. eh iya, Pah. Tadi tiba-tiba
aku teringat oleh wejangan almarhum ayah mertuamu sebelas tahun silam, yang menasehatiku untuk
terus menjaga makananmu agar kita berdua dapat hidup sampai rambut kita
sama-sama menutih ditelan waktu. Dan kini, wejangannya terbukti.
Cerita
ini sedang diikutsertakan dalam kuis #CERMAT yang diadakan oleh Penerbit Mizan
dengan tema : Hidup Sehat. Bandung, 10 Mei 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar