Kamis, 30 April 2015

(Puisi) Teori Basi



Ku harap hujan turun lebih lama
Agaknya itu yang patut ku damba
Dari pada langit sumringah ditengah tikar airmata
Itu lebih menyakitkan daripada  jatuh cinta
           
Disaat seperti ini, yang aku butuhkan hanyalah aroma
            Bukan mawar ataupun melati
            Aku hanya butuh aroma harum tanah
            Bukan juga berarti aku berharap ada manusia ditaruh dipeti

Aku ingin hujan turun sepanjang hari
Suara gemuruh hujan seperti sorak sorai tepuk tangan manusia
Saat aku tengah bermimpi
Lewat lukisan yang ku buat setiap hari.
           
Saat hujan makin deras langit makin kelam
            Bintang-bintang berjatuhan
            Menjadi dekorasi alami bagi semesta ini
            Membuat adrenalinku berpacu tinggi

Aku ini manusia setengah mati
Hidup dengan banyak saraf-saraf yang yang tak lagi berfungsi
Yang aku andalkan hanya kidalku ini
Meski bau lelah mulai ku ciumi beberapa kali
           
Tak jarang aku duduk diatas sajadah suci
Sekedar untuk menangis atau merintih
Meski ku tau hal itu tidak ada gunanya sama sekali
Jika tak diimbangi dengan sujud dan rukuk berulang kali

            Tetapi gimana lagi
            Yang bisa dilakukan oleh seorang difabel sepertiku hanyalah ini
            Kaki dan tangan sudah tak ku kenali
            Meski aku masih punya kidalku ini
            Bagaimana bisa aku beribadah secara manusiawi

Seringkali aku berpegang pada teori basi
Yang bilang keterbatasan bukanlah penghalang lagi
Nyatanya? Yang merasain toh aku sendiri
Itu teori jangan diubar lagi
           
            Jangan mengimingiku dengan teori-teori basi
            Lebih baik kau beri aku sedikit peluang untuk bermimpi
            Misal, dengan cara kau menangkan karyaku dalam perlombaan kali ini
            Wahai tuan berjas hitam dan kemeja putih

Resahku tak jua menepi
Saat ku tau pengumuman lomba melukis adalah hari ini
Tapi kau membuangku ke benua yang sepi
Saat ku dengar kau memberi koper berisikan lembar yang dicetak di Peruri
Negara macam apa ini?
Kemenangan saja dapat dibeli

            Ingin rasanya ku beri dera pada mu
Wahai tuan yang ku maksud tadi
Namun sayang tuhan hanya menciptakan ku hanya dengan kidalku
Sungguh ironi, jika harus ku kotori kidalku untukmu.


Catatan : 
Puisi ini sedang diikut sertakan dalam lomba di Penerbit Kakaye Publishing.
Dengan tema : Impossible, keterbatasan menjadi tanpa batas
Jakarta 30 April, 2015 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar