Aku menadah
padanya tiap waktu, tak perduli berapa banyak angka nol dibelakang itu. Yang ku
tahu adalah kuliahku bisa berjalan lancar alih-alih menunjang prestasiku
dikemudian hari. Meskipun pada praktiknya prestasiku tidak sebesar ekspetasiku.
Lagi pula mereka tak perduli soal itu, yang penting aku kuliah dengan absensi baik
dan ipk tidak pernah dibawah rata-rata, itu cukup aman kurasa. Dengan itu, aku
bebas menadah kapanpun kumau.
Akan tetapi pernah
suatu hari, aku meminta sesuatu yang kurasa sudah hakku. Permintaanku pun tidak
lebih besar dari biasanya, juga tidak lebih cepat dari seharusnya. Tapi,
mengapa senyum itu tidak kulihat lagi? Bahkan, mata itu tak lagi memandang
dengan binar-binar mesra penuh cinta. Yang terlihat hanyalah tatapan lelah.
Lelah melihat anaknya meminta setiap waktu, lelah melihat anaknya yang sudah
beranjak kepala dua tetapi hanya hidup bergantung pada orangtua. Oh, ini yang
kulihat entah benar apa tidak aku tak ingin bertanya.
Agak lama setelah itu, diangkatnya lengan
perlahan-lahan dan dilengkungkan lengan itu, dan dimasukannya kedalam sebuah tas
berwarna coklat untuk mengambil beberapa cetakan Peruri yang kuminta tadi sembari
berkata “sampai kapan kuliahmu ini
berakhir?” hela nafasnya panjang
dan lebih kencang dari biasanya. Aku hanya tertegun sambil menatap matanya yang
memerah secara tiba-tiba. Dalam benakku, itu adalah pertanyaan yang sudah
seharusnya tak perlu aku jawab toh sebenarnya ia sudah tau kapan waktunya aku
akan wisuda dan memakai toga.
“Jadi benar dugaan kutadi.” Aku mengujarnya dalam hati dan menyesali duapuluh tahun
yang kulewati secara cuma-cuma tanpa berusaha membantu meringankan biaya yang
mereka tanggung dengan jumlah buah hati yang lebih dari yang dianjurkan
pemerintah kita ini. Agaknya aku harus lebih tahu diri, hidup itu bukan soal
hak asasi anak tetapi juga kewajiban anak. Maafkan aku.
Cerita ini diikut sertakan dalam kuis yang diadakan oleh
Penerbit Bentang Pustaka dengan tema Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar