Sabtu, 09 Mei 2015

(Cermin) Maafkan aku

            Aku menadah padanya tiap waktu, tak perduli berapa banyak angka nol dibelakang itu. Yang ku tahu adalah kuliahku bisa berjalan lancar alih-alih menunjang prestasiku dikemudian hari. Meskipun pada praktiknya prestasiku tidak sebesar ekspetasiku. Lagi pula mereka tak perduli soal itu, yang penting aku kuliah dengan absensi baik dan ipk tidak pernah dibawah rata-rata, itu cukup aman kurasa. Dengan itu, aku bebas menadah kapanpun kumau.  
            Akan tetapi pernah suatu hari, aku meminta sesuatu yang kurasa sudah hakku. Permintaanku pun tidak lebih besar dari biasanya, juga tidak lebih cepat dari seharusnya. Tapi, mengapa senyum itu tidak kulihat lagi? Bahkan, mata itu tak lagi memandang dengan binar-binar mesra penuh cinta. Yang terlihat hanyalah tatapan lelah. Lelah melihat anaknya meminta setiap waktu, lelah melihat anaknya yang sudah beranjak kepala dua tetapi hanya hidup bergantung pada orangtua. Oh, ini yang kulihat entah benar apa tidak aku tak ingin bertanya.
Agak lama setelah itu, diangkatnya lengan perlahan-lahan dan dilengkungkan lengan itu, dan dimasukannya kedalam sebuah tas berwarna coklat untuk mengambil beberapa cetakan Peruri yang kuminta tadi sembari berkata “sampai kapan kuliahmu ini berakhir?” hela nafasnya panjang dan lebih kencang dari biasanya.  Aku hanya tertegun sambil menatap matanya yang memerah secara tiba-tiba. Dalam benakku, itu adalah pertanyaan yang sudah seharusnya tak perlu aku jawab toh sebenarnya ia sudah tau kapan waktunya aku akan wisuda dan memakai toga.

“Jadi benar dugaan kutadi.” Aku mengujarnya dalam hati dan menyesali duapuluh tahun yang kulewati secara cuma-cuma tanpa berusaha membantu meringankan biaya yang mereka tanggung dengan jumlah buah hati yang lebih dari yang dianjurkan pemerintah kita ini. Agaknya aku harus lebih tahu diri, hidup itu bukan soal hak asasi anak tetapi juga kewajiban anak.  Maafkan aku.


Cerita ini diikut sertakan dalam kuis yang diadakan oleh Penerbit Bentang Pustaka dengan tema Ibu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar