Rabu, 15 April 2015

(Cerpen) Curahan Hati

Aku hanya enggan kehabisan pembicaraan hingga aku merasa perlu jeda sesekali untuk tidak saling berkomunikasi. Namun tidakkah kau ingat aku pernah bicara sesuatu padamu, yang sebenarnya ini rahasia hati yakni, kerap kali yang ku ucapkan lain di hati?

Ah, aku rasa kamu lupa akan hal itu. Yang kamu tahu hanyalah ego dan gengsiku yang siapapun tak bisa tandingi. Padahal, sebenarnya kau salah mengerti maksud hatiku. Aku hanya merasa tak pantas bila seorang wanita belia seperti ku mengganggu pria dewasa seperti mu yang selalu didampingi setumpuk pekerjaan yang tak pernah berkesudahan dengan pesan-pesan yang tidak lebih penting dari gulungan nikotin yang selalu kau bawa kemanapun kau pergi.

Namun, dibalik penantian ku tiap hari yang tidak kau ketahui. Aku selalu merasa kebahagiaan milik ku sendiri dan terasa begitu dekat, sedekat jarak restoran dengan tepi laut tempat kita saling berpaut wajah kala itu. Hanya dengan dua kali kita berada di sana malam itu, namun kenangan yang ku simpan nampaknya akan ku ingat sampai puluhan tahun hidupku. Kedengarannya agak klise,tetapi tidakkah kau tau kebanyakan klise adalah yang berasal dari hati cuma cara meramu kalimat bak capres sedang orasi. Yang memberikan janji dan kebahagiaan tiada henti padahal ujung-ujungnya bikin masyarakat sakit hati. Mungkin persis seperti yang ku ucapkan tadi, tak jarang kau sakit hati dengan sikap ku yang agaknya lebih dingin, tak kenal posisi matahari dan bulan.

Jangan perduli, bagaimanapun sikap ku, sedingin apapun malam itu, dan berapa banyak orang yang melihat dengan mata telanjang saat kita sedang bergandengan tangan yang penting adalah aku cinta kamu sampai aku lupa diri. Mungkin kalimat itu yang paling tepat. Bagaimana tidak bisa-bisanya aku kerap melakukan hal yang diluar kebiasaanku, bahkan banyak hal yang ku lakukan pertama kali denganmu, masabodo nantinya akan ada dua, tiga, empat atau seterusnya, bagi ku kamu itu pemula yang harusnya sih menjadi yang pertama memutuskan tali skaral yang membentang digaris finish. Namun, aku sadar teori itu sudah tidak berlaku lagi. Lihat saja kebanyakan pembalap di paddock, sirkuit sentul yang berada di posisi paling depan saat bendera bercorak hitam putih di angkat keatas kenyataannya jarang sekali yang memenangkan pertandingan dan berdiri sambil mengalungkan medali yang dikelilingi wartawan untuk kemudian gambarnya dimuat di surat kabar. Ya, semoga saja aku salah atau paling tidak semoga saja tak ada yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya seperti yang aku bilang tadi.

Itu bagiku, lain bagi mu (mungkin). Yang aku yakini, kau tidak melakukan ini semua pertamanya dengan ku, aku mewajari tetapi aku masih menaruh harapan besar semoga saja aku salah. Eh, tapi aku mana mau perduli, yang lalu biarlah berlalu seperti katamu di ruangan tadi pagi. Meskipun disitu kau menegaskan pandangan itu hanya berlaku pada satu hal dan tidak berlaku untuk yang lain.

Harusnya kau tidak perlu menjelaskan, percuma saja ucapan itu sudah ku simpan dalam brangkas memori untuk sekedar menghapusnya saja aku enggan sebab aku menyimpannya di tumpukan kertas yang tidak ku ketahui berapa jumlahnya, tentunya tumpukan kertas yang berisi memori. Entah itu dengan yang sebelumnya ini, dengan yang sedang beriringan dengan ku kini atau pun dengan seseorang yang tengah kekeh menjadikan ku seorang istri, selain dirimu.

Beragam pria telah ku temui, bahkan aku menemukan yang sejatinya hampir dikatakan sempurna namun mengapa aku jatuh cinta lagi dengan pria seperti mu? Tidak ada yang salah, hanya saja eranya yang berbeda. Kau pasti mengerti maksudku dan kau sadar akan hal itu tapi kadang kita sama-sama tak memperdulikannya bahkan melupakannya. Padahal, itu benang merah dari ini semua. Dan kali ini aku setuju, jika dalam hati mu saat kau membaca tulisan ku ini, kau sesekali berucap “bukan hanya kamu yang pernah bertemu dengan beragam pria bahkan pernah mendapatkan yang hampir sempurna, aku juga pernah mengalami hal yang sama.” Itu sudah hukum alam. Kita dipertemukan dengan beragam orang di dunia ini dalam jangka waktu yang beragam dan kenangan yang beragam juga.

Aku menulis tulisan ini malam hari tepatnya esok malam, setelah aku panas tinggi. Aku hanya merasa kau sedikit tak ku kenali malam itu. Tak ku dapati keperdulianmu seperti waktu itu, agaknya aku perlu sedih soal ini tetapi setelah aku pikir-pikir harus nya memang bukan kamu yang menemani ku lewat pesan udara itu. Mungkin aku butuh Ibu, sebab aku sedang sendiri malam itu, di kamar yang ku sesewa untuk beberapa bulan di awal tahun duaribulimabelas ini-bacanya pelan-pelan agar tidak mudah protes kenapa aku menulisnya tanpa spasi- kalau kau protes gampang saja, aku tinggal jawab suka-suka aku, aku menulis itu karena aku suka melihat deretan huruf Calibri dengan 1,5 spasi dan aku gemar menulis tahun atau tanggal tanpa angka dan spasi sebab itu lebih terkesan dramatis serta agaknya membuat tulisanku lebih padat, tidak munafik setiap aku menulis aku ingin buru-buru melihat keterangan Word:1600 sebab batas minimal menulis cerita pendek bagiku adalah segitu, kurang dari itu anggap saja aku sedang menulis cerita hemat atau cerita mini seperti yang sering aku tulis untuk kuis di beberapa penerbit belakangan ini.

Saat aku menulis tulisan ini, kau sedang rindu aku? Atau pura-pura rindu? Ah, jangan begitu aku tidak lagi menaruh harapan soal kerinduan itu lagi, terserah saja kau mau menghubungi ku lagi atau tidak, aku tak punya wewenang untuk menyuruhmu menulis beberapa kata untukku. Hanya saja, jangan salahkan aku kalau akan ada seseorang yang bertingkah seperti dirimu di malam itu, menungguku hingga aku terbangun lagi dari tidur ku yang semu disebabkan oleh panas tinggi. Dan aku juga tak menyalahkan diriku kalau saja ada wanita yang akan bertingkah lebih dari yang aku lakukan untukmu, misalnya memberimu kabar tiap hari, menanyakan posisi mu menjelang malam hari, dan protes kalau saja kau tak membalas pesan-pesan yang masuk ke inbox mu itu.

Aku ini bisa apasih, definisi cinta bagiku saja terkesan egois. Aku merasa tak wajar saja bilamana wanita lebih dulu memberi kabar apalagi jika jawaban yang didapati beberapa jam setelah itu. Itu sih sudah kelewat basi. Padahal air putih saja aku liat exp nya sampai duatahun lebih, tetapi mengapa pesan yang ku kirim untukmu dan dibalas selang beberapa jam saja aku merasa itu basi dan tidak berlaku lagi, ya? Semoga kau sudah tak heran dengan sikapku ini dan aku harap kau mudah beradaptasi tapi kalau kenyataannya sebaliknya ya sialahkan saja aku tak bisa interpensi.

Omong-omong soal air putih aku senang sekali menyuruhmu untuk minum cairan itu, sebab itu baik untuk kesehatanmu. Jangan terlampau bebas minum cairan yang tidak mencantumkan lebel halal dikemasannya, sebab itu akan merugikanmu di hari tua nanti ya kalau sesekali sih boleh saja asal jangan diberlakukan semaumu. Kali-kali perlu juga memikirkan kesehatan dihari tua nanti, barangkali kita bisa bersama sampai rambut kita sama-sama memutih seutuhnya. Bukannya itu indah? Dan itu yang selalu membuatku iri di tengah keramaian ibu kota. Masih ada saja mereka-mereka yang berdampingan sampai rambut keduanya memutih seutuhnya, meskipun tidak banyak. Maka dari itu, populasi seperti itu harus di budidayakan oleh kita nanti. 

Setelah aku baca ulang tulisanku di atas, aku agak menasehati mu padahal yang banyak makan asam garamnya kehidupan ini ya kamu.

Jangan tersinggung ya, tulisanku dalam paragraf ini baru aku lanjutkan seminggu kemudian, aku agak tak bernafsu merangkai kata lagi untukmu. Sebab kita berada diposisi jeda saat itu, meski kita sama-sama tahu aku yang selalu memulai semua ini. Setidaknya kau harus tau apa yang terjadi selalu beralasan.


Omong-omong kita sudah dekat setengah tahun -kurang lebih- waktu yang cukup lama bagiku, namamu sudah melekat diingatanku. Kalau suatu hari nanti kau sempat membaca ini aku mohon jangan ingatkan kepadaku lagi, sebab aku ingin larut bersamamu hingga aku lupa pernah menulis ini pada bulan April di awal tahun duaribulimabelas. Semoga kita dekat sampai bulan bergilir, tahun berganti, dan keadaan saling mengamini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar