Aku hanya enggan kehabisan pembicaraan hingga aku merasa
perlu jeda sesekali untuk tidak saling berkomunikasi. Namun tidakkah kau ingat
aku pernah bicara sesuatu padamu, yang sebenarnya ini rahasia hati yakni, kerap
kali yang ku ucapkan lain di hati?
Ah, aku rasa kamu lupa akan hal itu.
Yang kamu tahu hanyalah ego dan gengsiku yang siapapun tak bisa tandingi.
Padahal, sebenarnya kau salah mengerti maksud hatiku. Aku hanya merasa tak
pantas bila seorang wanita belia seperti ku mengganggu pria dewasa seperti mu
yang selalu didampingi setumpuk pekerjaan yang tak pernah berkesudahan dengan
pesan-pesan yang tidak lebih penting dari gulungan nikotin yang selalu kau bawa
kemanapun kau pergi.
Namun, dibalik penantian ku tiap hari
yang tidak kau ketahui. Aku selalu merasa kebahagiaan milik ku sendiri dan
terasa begitu dekat, sedekat jarak restoran dengan tepi laut tempat kita saling
berpaut wajah kala itu. Hanya dengan dua kali kita berada di sana malam itu,
namun kenangan yang ku simpan nampaknya akan ku ingat sampai puluhan tahun
hidupku. Kedengarannya agak klise,tetapi tidakkah kau tau kebanyakan klise
adalah yang berasal dari hati cuma cara meramu kalimat bak capres sedang orasi.
Yang memberikan janji dan kebahagiaan tiada henti padahal ujung-ujungnya bikin masyarakat
sakit hati. Mungkin persis seperti yang ku ucapkan tadi, tak jarang kau sakit
hati dengan sikap ku yang agaknya lebih dingin, tak kenal posisi matahari dan
bulan.
Jangan perduli, bagaimanapun sikap
ku, sedingin apapun malam itu, dan berapa banyak orang yang melihat dengan mata
telanjang saat kita sedang bergandengan tangan yang penting adalah aku cinta
kamu sampai aku lupa diri. Mungkin kalimat itu yang paling tepat. Bagaimana
tidak bisa-bisanya aku kerap melakukan hal yang diluar kebiasaanku, bahkan
banyak hal yang ku lakukan pertama kali denganmu, masabodo nantinya akan ada
dua, tiga, empat atau seterusnya, bagi ku kamu itu pemula yang harusnya sih
menjadi yang pertama memutuskan tali skaral yang membentang digaris finish.
Namun, aku sadar teori itu sudah tidak berlaku lagi. Lihat saja kebanyakan
pembalap di paddock, sirkuit sentul yang berada di posisi paling depan saat
bendera bercorak hitam putih di angkat keatas kenyataannya jarang sekali yang
memenangkan pertandingan dan berdiri sambil mengalungkan medali yang
dikelilingi wartawan untuk kemudian gambarnya dimuat di surat kabar. Ya, semoga
saja aku salah atau paling tidak semoga saja tak ada yang kedua, ketiga,
keempat dan seterusnya seperti yang aku bilang tadi.
Itu bagiku, lain bagi mu (mungkin).
Yang aku yakini, kau tidak melakukan ini semua pertamanya dengan ku, aku
mewajari tetapi aku masih menaruh harapan besar semoga saja aku salah. Eh, tapi
aku mana mau perduli, yang lalu biarlah berlalu seperti katamu di ruangan tadi
pagi. Meskipun disitu kau menegaskan pandangan itu hanya berlaku pada satu hal
dan tidak berlaku untuk yang lain.
Harusnya kau tidak perlu menjelaskan,
percuma saja ucapan itu sudah ku simpan dalam brangkas memori untuk sekedar
menghapusnya saja aku enggan sebab aku menyimpannya di tumpukan kertas yang
tidak ku ketahui berapa jumlahnya, tentunya tumpukan kertas yang berisi memori.
Entah itu dengan yang sebelumnya ini, dengan yang sedang beriringan dengan ku
kini atau pun dengan seseorang yang tengah kekeh menjadikan ku seorang istri,
selain dirimu.
Beragam pria telah ku temui, bahkan
aku menemukan yang sejatinya hampir dikatakan sempurna namun mengapa aku jatuh
cinta lagi dengan pria seperti mu? Tidak ada yang salah, hanya saja eranya yang
berbeda. Kau pasti mengerti maksudku dan kau sadar akan hal itu tapi kadang
kita sama-sama tak memperdulikannya bahkan melupakannya. Padahal, itu benang
merah dari ini semua. Dan kali ini aku setuju, jika dalam hati mu saat kau
membaca tulisan ku ini, kau sesekali berucap “bukan hanya kamu yang pernah
bertemu dengan beragam pria bahkan pernah mendapatkan yang hampir sempurna, aku
juga pernah mengalami hal yang sama.” Itu sudah hukum alam. Kita dipertemukan
dengan beragam orang di dunia ini dalam jangka waktu yang beragam dan kenangan
yang beragam juga.
Aku menulis tulisan ini malam hari
tepatnya esok malam, setelah aku panas tinggi. Aku hanya merasa kau sedikit tak
ku kenali malam itu. Tak ku dapati keperdulianmu seperti waktu itu, agaknya aku
perlu sedih soal ini tetapi setelah aku pikir-pikir harus nya memang bukan kamu
yang menemani ku lewat pesan udara itu. Mungkin aku butuh Ibu, sebab aku sedang
sendiri malam itu, di kamar yang ku sesewa untuk beberapa bulan di awal tahun
duaribulimabelas ini-bacanya pelan-pelan agar tidak mudah protes kenapa aku
menulisnya tanpa spasi- kalau kau protes gampang saja, aku tinggal jawab
suka-suka aku, aku menulis itu karena aku suka melihat deretan huruf Calibri
dengan 1,5 spasi dan aku gemar menulis tahun atau tanggal tanpa angka dan spasi
sebab itu lebih terkesan dramatis serta agaknya membuat tulisanku lebih padat,
tidak munafik setiap aku menulis aku ingin buru-buru melihat keterangan
Word:1600 sebab batas minimal menulis cerita pendek bagiku adalah segitu,
kurang dari itu anggap saja aku sedang menulis cerita hemat atau cerita mini
seperti yang sering aku tulis untuk kuis di beberapa penerbit belakangan ini.
Saat aku menulis tulisan ini, kau
sedang rindu aku? Atau pura-pura rindu? Ah, jangan begitu aku tidak lagi
menaruh harapan soal kerinduan itu lagi, terserah saja kau mau menghubungi ku
lagi atau tidak, aku tak punya wewenang untuk menyuruhmu menulis beberapa kata
untukku. Hanya saja, jangan salahkan aku kalau akan ada seseorang yang
bertingkah seperti dirimu di malam itu, menungguku hingga aku terbangun lagi
dari tidur ku yang semu disebabkan oleh panas tinggi. Dan aku juga tak
menyalahkan diriku kalau saja ada wanita yang akan bertingkah lebih dari yang
aku lakukan untukmu, misalnya memberimu kabar tiap hari, menanyakan posisi mu
menjelang malam hari, dan protes kalau saja kau tak membalas pesan-pesan yang
masuk ke inbox mu itu.
Aku ini bisa apasih, definisi cinta
bagiku saja terkesan egois. Aku merasa tak wajar saja bilamana wanita lebih
dulu memberi kabar apalagi jika jawaban yang didapati beberapa jam setelah itu.
Itu sih sudah kelewat basi. Padahal air putih saja aku liat exp nya sampai
duatahun lebih, tetapi mengapa pesan yang ku kirim untukmu dan dibalas selang
beberapa jam saja aku merasa itu basi dan tidak berlaku lagi, ya? Semoga kau
sudah tak heran dengan sikapku ini dan aku harap kau mudah beradaptasi tapi
kalau kenyataannya sebaliknya ya sialahkan saja aku tak bisa interpensi.
Omong-omong soal air putih aku senang
sekali menyuruhmu untuk minum cairan itu, sebab itu baik untuk kesehatanmu. Jangan
terlampau bebas minum cairan yang tidak mencantumkan lebel halal dikemasannya,
sebab itu akan merugikanmu di hari tua nanti ya kalau sesekali sih boleh saja
asal jangan diberlakukan semaumu. Kali-kali perlu juga memikirkan kesehatan
dihari tua nanti, barangkali kita bisa bersama sampai rambut kita sama-sama
memutih seutuhnya. Bukannya itu indah? Dan itu yang selalu membuatku iri di
tengah keramaian ibu kota. Masih ada saja mereka-mereka yang berdampingan
sampai rambut keduanya memutih seutuhnya, meskipun tidak banyak. Maka dari itu,
populasi seperti itu harus di budidayakan oleh kita nanti.
Setelah aku baca ulang tulisanku di
atas, aku agak menasehati mu padahal yang banyak makan asam garamnya kehidupan
ini ya kamu.
Jangan tersinggung ya, tulisanku dalam
paragraf ini baru aku lanjutkan seminggu kemudian, aku agak tak bernafsu
merangkai kata lagi untukmu. Sebab kita berada diposisi jeda saat itu, meski
kita sama-sama tahu aku yang selalu memulai semua ini. Setidaknya kau harus tau
apa yang terjadi selalu beralasan.
Omong-omong kita sudah dekat setengah
tahun -kurang lebih- waktu yang cukup lama bagiku, namamu sudah melekat
diingatanku. Kalau suatu hari nanti kau sempat membaca ini aku mohon jangan
ingatkan kepadaku lagi, sebab aku ingin larut bersamamu hingga aku lupa pernah
menulis ini pada bulan April di awal tahun duaribulimabelas. Semoga kita dekat
sampai bulan bergilir, tahun berganti, dan keadaan saling mengamini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar