Minggu, 03 Mei 2015

(Cermat) Biarlah cinta kita...

            Sore itu, sepoi angin pantai seolah menyisir rambut yang mulai memutih ditelan usia, menerpa kerut-kerut wajah yang dipahat waktu. Duduk termenung memandang paras wanita belia menjadi hal yang ku damba apalagi wanita ini begitu ku cinta. Hadirnya membuatku hidup berwarna dan selalu mampu mengindera rasa. Manis dan pahit jadi idola, seperti kemesraan yang saling menyakiti? Tanyaku sendiri dalam hati. Ah, aku tidak perduli.

Tak lama ku lirik kearahnya, sedang asik menatap gelap laut malam hari sambil sesekali tersenyum saat kapal nelayan yang didekorasi dengan pernak-pernik lampu lalu lalang dihadapan kami. Barulah saat itu aku menyadari, bahwa hari mulai malam dan aku melewatkan detik-detik tergelincirnya matahari di tengah laut, itu semua ulah garis bibir wanita belia itu.  Senyumnya seperti lorong waktu, membuatku mengenang peristiwa lapuk beberapa bulan lalu saat wanita belia itu masih menjelma menjadi sembilu yang kerap menyayat hatiku dengan sikap dinginnya, saat itu ia masih saja belum berterima dicintai oleh pria seusiaku dan aku pun tak pernah perduli akan benang merah antara kami.


Dan kini bahagianya aku, aku dan dia duduk berdampingan sambil memandang kearah pantai dilantai dua sebuah rumah makan bergaya tradisional dengan suasana yang cukup romantis.Tak jarang kami saling menggulungkan jemari, membuat kemesraan yang saling menyakiti. Tapi siapa perduli. Meski aku ini pria berusia mencapai kepala empat tapi aku masih bisa mengimbangi wanita yang baru mencicipi usia kepala dua ini. Ya, tak dipungkiri perbedaan usia sejauh itu kerap membuat perih hati dan mengazab dijiwa saat kami mencoba memahami arti perasaan ini.  Bertengkar soal hal ini, bukan lagi sekali dua kali. Apalagi jika dipikir-pikir pasti banyak pria muda seusianya lalu lalang dihadapannya, tak jarang menggoda lewat pesan singkat di handphonenya. Aku pun sempat lelah jika membayangkan nantinya ia akan tergoda oleh salah satu diantara mereka. Tetapi lagi-lagi aku selalu menyakini diriku, bahwa cinta tak pernah mengenal lelah dan sia-sia. Semoga perasaan dan kesetiaannya tetap begini, sampai keadaan saling mengamini. Atau mungkin, biarlah perasaan ini akan terus memanjang meski perpisahan benar-benar datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar