Sore itu, sepoi angin pantai seolah menyisir rambut yang mulai
memutih ditelan usia, menerpa kerut-kerut wajah yang dipahat waktu. Duduk
termenung memandang paras wanita belia menjadi hal yang ku damba apalagi wanita
ini begitu ku cinta. Hadirnya membuatku hidup berwarna dan selalu mampu
mengindera rasa. Manis dan pahit jadi idola, seperti kemesraan yang saling
menyakiti? Tanyaku sendiri dalam hati. Ah, aku tidak perduli.
Tak
lama ku lirik kearahnya, sedang asik menatap gelap laut malam hari sambil
sesekali tersenyum saat kapal nelayan yang didekorasi dengan pernak-pernik
lampu lalu lalang dihadapan kami. Barulah saat itu aku menyadari, bahwa hari
mulai malam dan aku melewatkan detik-detik tergelincirnya matahari di tengah
laut, itu semua ulah garis bibir wanita belia itu. Senyumnya seperti
lorong waktu, membuatku mengenang peristiwa lapuk beberapa bulan lalu saat
wanita belia itu masih menjelma menjadi sembilu yang kerap menyayat hatiku
dengan sikap dinginnya, saat itu ia masih saja belum berterima dicintai oleh
pria seusiaku dan aku pun tak pernah perduli akan benang merah antara kami.
Dan
kini bahagianya aku, aku dan dia duduk berdampingan sambil memandang kearah
pantai dilantai dua sebuah rumah makan bergaya tradisional dengan suasana yang
cukup romantis.Tak jarang kami saling menggulungkan jemari, membuat kemesraan
yang saling menyakiti. Tapi siapa perduli. Meski aku ini pria berusia mencapai
kepala empat tapi aku masih bisa mengimbangi wanita yang baru mencicipi usia
kepala dua ini. Ya, tak dipungkiri perbedaan usia sejauh itu kerap membuat
perih hati dan mengazab dijiwa saat kami mencoba memahami arti perasaan ini.
Bertengkar soal hal ini, bukan lagi sekali dua kali. Apalagi jika
dipikir-pikir pasti banyak pria muda seusianya lalu lalang dihadapannya, tak
jarang menggoda lewat pesan singkat di handphonenya. Aku pun sempat lelah jika
membayangkan nantinya ia akan tergoda oleh salah satu diantara mereka. Tetapi
lagi-lagi aku selalu menyakini diriku, bahwa cinta tak pernah mengenal lelah
dan sia-sia. Semoga perasaan dan kesetiaannya tetap begini, sampai keadaan
saling mengamini. Atau mungkin, biarlah perasaan ini akan terus memanjang meski
perpisahan benar-benar datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar