Malam itu, aku terbangun dalam tidur
ku yang belakangan ini tak nyenyak, ada sesuatu yang hilang dari hidupku, tak
ada pesan yang masuk ke inbox ku. Secara gampang, kau boleh menyebut itu adalah
kondisi dimana aku resah menanti pesan dari kekasihku. Aku putus asa dengan
hubungan kami, sebab terakhir kali kami berkomunikasi, kami membicarakan hal yang
membuat dadaku sesak, bisa dibilang aku dan dia sudah tak lagi jadi kita.
Mensiasati jemuku malam itu, aku putuskan mengambil papan qwerty milikku dan ku biarkan jemariku menari diatasnya. Tanpa sadar beberapa lembar telah ku isi penuh dengan rangkaian kata yang ku buat secara bercerita. Ku mulai karir ku dari situ, tak ada yang mengira bahwa tulisan yang ku buat dengan perasaan pilu justru mempertemukanku dengan karirku.
Sebab itu, Kau tau? Aku pernah berada di
posisimu, saat harapan menjadi pegangan, saat semangat tetap membara meski jemu
melanda. Yang harus kamu lakukan adalah jangan pernah kenal lelah untuk
berkarya, meski tak banyak yang membacanya. Terus berkarya tanpa henti, jangan
pikiri tulisan mu berarti atau tidak dikemudian hari. Ujarku kala itu pada
seorang anak magang diperusahaanku yang tengah terdiam menatap sampul buku yang
ia buat sendiri dengan synopsis yang telah tercantum didalamnya alih-alih
sebagai harapan bisa diterbitkan dikemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar