Sabtu, 18 April 2015

(Cermin) Tulislah

Malam itu, aku terbangun dalam tidur ku yang belakangan ini tak nyenyak, ada sesuatu yang hilang dari hidupku, tak ada pesan yang masuk ke inbox ku. Secara gampang, kau boleh menyebut itu adalah kondisi dimana aku resah menanti pesan dari kekasihku. Aku putus asa dengan hubungan kami, sebab terakhir kali kami berkomunikasi, kami membicarakan hal yang membuat dadaku sesak, bisa dibilang aku dan dia sudah tak lagi jadi kita.

Mensiasati jemuku malam itu, aku putuskan mengambil papan qwerty milikku dan ku biarkan jemariku menari diatasnya. Tanpa sadar beberapa lembar telah ku isi penuh dengan rangkaian kata yang ku buat secara bercerita. Ku mulai karir ku dari situ, tak ada yang mengira bahwa tulisan yang ku buat dengan perasaan pilu justru mempertemukanku dengan karirku.

 Sebab itu, Kau tau? Aku pernah berada di posisimu, saat harapan menjadi pegangan, saat semangat tetap membara meski jemu melanda. Yang harus kamu lakukan adalah jangan pernah kenal lelah untuk berkarya, meski tak banyak yang membacanya. Terus berkarya tanpa henti, jangan pikiri tulisan mu berarti atau tidak dikemudian hari. Ujarku kala itu pada seorang anak magang diperusahaanku yang tengah terdiam menatap sampul buku yang ia buat sendiri dengan synopsis yang telah tercantum didalamnya alih-alih sebagai harapan bisa diterbitkan dikemudian hari. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar