Senin, 30 Maret 2015

(Cerpen) Abi


Aku masih saja tertegun di depan layar lebar yang nampak gusar karena tak jua di jamah oleh jemari yang seharusnya menari di atas papan qwerty. Layar lebar itu seolah tak sabar menunggu pijatan-pijatan yang nantinya menghasilkan sebuah gagasan, atau bisa saja layar lebar itu gusar karena enggan menunggu terlalu lama, sebab dayanya mulai sayup dan harus lah kembali di isi. Ah, akhirnya layar lebar itu pun menyerah, mati dengan sendirinya. Sebab itu, aku pun baru mulai menggerakan jemari dengan di mulai nya pijatan di sudut kiri atas. Ya, Tombol power on. 

Dari balik pintu tepat di belakang tempatku kala itu, terdapat sepasang sepatu yang tengah menanti untuk di ajak berlari kencang. Aku sadar, tapi aku enggan untuk menghampiri. Mungkin nanti atau tidak sama sekali. Aku pun kembali melanjutkan sebuah gagasan menggunakan papan qwerty, gagasan itu tak ubahnya semua pengalaman pribadi yang harusnya menjadi rahasia hati namun kali ini aku mengunggahnya ke sebuah dinding yang ku ramu seperti kamarku sendiri. Ku berikan stiker lucu yang kerap menggundang mata pembaca ingin berlama-lama, ditambah dengan alunan musik yang sengaja aku suguhkan, alunan cinta tentunya. Apalagi, beberapa bingkai foto yang ku tata rapih dan akan berganti sesuai irama yang telah di setting, agar tidak jemu aku tambahkan beberapa gambar lucu tentang aku dan keluargaku.

Akan tetapi, sayang…apa yang termuat dalam dinding semu itu tak senada dengan dekorasi, kebanyakan bermuat kisah sedih yang belakangan ini terjadi. Kisah yang benar-benar sedih bahkan aku merasa hidup ku seperti dalam sebuah drama tanpa komedi yang di putar dari durasi pertama hingga akhir. Tak lama seorang wanita menghampiri dan menyapaku.

 Wanita patuh baya yang tak punya sedikitpun guratan yang menunjukan akan hal itu.  Tadinya. Namun, belakangan ini yaa tepatnya sebulan belakangan ini guratan itu mulai menunjukan dirinya tanpa ragu. Ini sih bukan karena wanita paruh baya itu tak lagi menggunakan pelembab muka yang ber tagline ‘ age miracle ‘. Bahkan, setauku wanita itu tak pernah mengenakan pelembab muka seperti itu. Jelas saja aku kenal betul, wanita itu adalah wanita yang pernah mengeluarkan ku dalam rahim waktu. Tepatnya, 16 tahun yang lalu sebelum akhirnya aku sibuk dengan dunia ku sendiri. Guratan di wajah Ibu itu timbul karena pikirannya mulai kalut dengan masalah yang sedang Ia topang sendiri.

Sapanya kala itu mengejutkan ku, padahal suaranya tak sampai mencengkam ke latar atau menggetarkan gelas-gelas disekitarku. Sapanya lembut itu mengejutkan hati ku, menyuruhku untuk berhenti sejenak untuk sekedar mengurus tiga orang adik yang sebenarnya sudah bisa mandi dan makan sendiri. Hanya saja, wanita itu butuh sedikit waktu tanpa ingin diketahui mereka. Aku tak lagi heran, sebab itu memang yang seharusnya dilakukan daripada nanti adik-adik ku tahu dan ribut memperdebatkan untuk ikut.

Lepas itu, ku tengok seorang laki-laki berjalan seraya membungkuk padahal Ia tak pernah berjalan seperti itu. Tatapannya hanya berpusat pada satu titik, tepat di ubin-ubin putih pelataran rumahku.  Aku menatapnya sampai benar-benar puas setelah itu hela nafasku panjang. Yang bisa merasakan tentang apa yang ada di benak ku hanya aku seorang, aku tak membaginya pada siapapun. “Hati-hati ya, bu.” Ucapku kala itu pada wanita tadi yang tengah menuntun laki-laki itu yang tak lain adalah Abi ku, dibantu dengan seorang bapak-bapak yang tak asing lagi di pelupuk mataku, sahabat baik Abi.

Habis itu, jemari ku kembali ku letakan di atas papan qwerty dan mulai menari menceritakan yang barusan terjadi. Padahal, aku di perintahkan untuk menjaga adik-adik ku tetapi aku hanya melihat mereka sesekali lalu melanjutkan hobby ku tadi. Tak lama aku menyadari, hari mulai nampak sayup menunjukan malam yang kian liar. Harusnya untuk gadis seusiaku sudah terlelap dalam mimpi yang menggerogoti, tetapi tidak denganku.

Esok hari tiba, namun masih saja aku duduk di bangku berwarna hijau yang muat hanya untuk seorang diri yang biasa di letakan berpasangan dengan meja belajar dan lampu pijar. Namun, aku mulai menyadari sesuatu bahwa wanita malam itu tak jua pulang bersama lelaki yang malam itu juga ku amati, tak lain tak bukan mereka kedua orangtuaku. Ku coba hubungi Ibu, dan kabar tak sedap mengiris telingaku. Abi, masuk rumah sakit.

Ah, ini bagai mimpi buruk yang harus aku alami. Padahal, ku ingat malam ini aku tidak sedang tidur jadi aku tak sedang hanyut dalam mimpi yang menggerogoti. Aku mencoba tegar dan ku tutup telpon tadi, aku merasa sendiri dalam hamparan pasir putih sambil di iringi matahari yang sebentar lagi tergelincir di balik luasnya genangan air. Hingga akhirnya, semua nampak gelap. Tak bercahaya tak berpenghuni.

Ku cium pipi halus dan ku belai beberapa helai rambut hitam si bungsu yang tengah terlelap dalam mimpi yang semestinya indah sebab si bungsu hanya mengerti tertawa dan bahagia. Namun keberadaan ku di situ tak ubahnya menganggu dengan beberapa tetes air yang tak jarang terjatuh dari sudut mata ku dan membasahi pipi halus itu.

“Kakak, kenapa kok nangis?” ujarnya kala itu sambil membersihkan pipinya yang basah karena air mata yang tak sanggup lagi ku bendung. Dengan sigap aku menjawab “enggak apa-apa, dede tidur lagi aja.” Tanpa berpikir panjang si bungsu melanjutkan tidurnya, terlihat lucu bagi ku. Kepolosannya membuat ku sedikit terhibur, bayangkan saja bagaimana tidak… harusnya kalau kejadian tadi terjadi antara aku dan gadis seusiaku pastilah gadis itu tak akan melanjutkan tidurnya dan malah memaksa ku untuk menceritakan alasan mengapa air di pelupuk mataku mengalir. Aku tak marah pada si bungsu, hanya hatiku sedikit menyesal membuatnya terbangun dan menjadi agak sulit tidur lelap kembali.
***
Detak jarum jam yang lamban, seperti kemarin juga. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul duabelas tengah malam. Angin menusuk membuatnya menggigil. Mencucuk sumsum tulang. Membuat hasrat ingin buang hayat kecil makin memuncak. Namun, tak seorang pun dapat ditepuk saat itu. Akhirnya, air mengalir dengan derasnya membasahi seisi kasur.

Aku ingat betul waktu itu, aku sangat menyesali kejadi saat itu. Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di ubin putih dengan sehelai kain yang biasa aku gunakan untuk mengurangi dinginnya malam yang makin liar. Tak biasanya aku tidur di ubin seperti itu, alih-alih ingin membuat kenyamanan pada sang suami malah sesal yang aku dapati. Paginya, saat aku tengok ke kasur putih yang letaknya persis disamping tempat ku tidur di ubin kala itu, aku dapati keadaan suami yang sudah di luar kendali, dengan pakaian yang sudah berserakan disana-sini akibat memaksakan diri membuang air seni malam itu. Padahal, ku tau suamiku tak berdaya untuk melakukan itu sendiri. Jangan kan untuk membuang air seni, untuk mengucapkan kata ‘aku cinta kamu’ pun sudah tak disanggupi. Sebab, keadaannya tak lagi seperti dulu. Kini Ia harus menghadapi penyakit yang makin hari menggerogoti, semua itu ulah gulungan nikotin yang begitu ia gemari.

Ditambah lagi, matanya yang dulu nampak bersinar dengan bulu mata yang lentik membuat ku jatuh cinta, kini mulai tidak ku kenali. Matanya bengkak, katupnya mulai menutup karena selaput putih yang keluar dari pelupuk matanya. Hati ku teriris melihat kondisi sang suami saat itu. Aku merasa gagal menjadi istri, membiarkan suami menghisap gulungan nikotin tiap waktu. Dampaknya baru terasa saat ini, saat usianya masuk kategori paruh baya. Padahal, kami bercita-cita hidup sampai rambut berubah menjadi putih seutuhnya.

Saat Ia menyadari akan kondisi mata yang sulit untuk di ajak berkompromi, Ia mulai mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ingin ku dengar.

“Bu, aku sudah ingin pergi” Ujarnya sambil menggerakan jemari dengan susah payah untuk mendapati genggaman erat telapak tanganku saat itu.

Namun bodohnya aku, aku tak menghiraukan gerakan jemarinya. Aku biarkan jemari itu bergerak tanpa ada umpan balik yang semestinya Ia dapati. Bukan aku enggan, hanya saja aku tak ingin jabatan tangan itu menjadi yang terakhir kalinya. Aku masih mengharapkan miracle , barangkali Tuhan masih beri kami kesempatan untuk bersama lebih lama lagi.

***
Begitulah cerita yang aku dengar setelah beberapa hari bendera kuning mejeng di sudut kiri gang rumah ku. Ku dengar cerita itu berkali-kali, awalnya hati ku seperti hancur berkeping-keping. Lama-lama aku sadar, tak ada yang perlu di sesali. Hanya saja, aku mulai membenci gumpalan asap putih yang bersumber dari gulungan nikotin. Aku hanya merasa benda itu yang harusnya bertanggung jawab atas kepergian Abi. Di tambah lagi, jika ku ingat malam itu, malam dimana Ibu, Abi, dan sahabat Abi beranjak dari rumah dan aku tak sempat ikut menuntunnya ke masuk kedalam mobil.  Ah, ingin rasanya aku mati. Malah kini, aku harus menuntun Abi untuk pergi ke perisitirahatannya yang terakhir kali.  



Akan tetapi, setelah bertahun-tahun ku jalani, hidup tanpa Abi. Aku mulai mengerti bahwa waktu orangtua lebih singkat dari waktu yang ku punya, sudah seharusnya aku lebih banyak berdiam diri di dalam rumah bersama Ibu dan tiga adikku dan tidak memprioritaskan layar lebar yang saban hari aku geluti, harusnya sesekali bicara pada keluarga dari hati ke hati tentang apa-apa saja yang sudah ku lalui hari demi hari. Sesederhana itu? Ya.. tapi itu jauh lebih berarti. 

Minggu, 29 Maret 2015

(Cerpen) Angan

Ceritakan padaku tentang penantiaan, tanyanya pada ku. ah terlalu banyak kau tau tentang itu. Kali ini aku ingin bercerita tentang angan. Angan yang akan membawamu kepada semua cerita. Jadi? Ujarnya penasaran. Biar angan yang menceritakan semuanya padamu.

Siang itu dikamar hotel kami bersenda gurau, membicarakan berita yang ada di koran pagi itu. Koran datang setiap hari digantung di pintu kamar dan aku selalu menggambilnya, bukan untuk kubaca melainkan aku menghormati pelayanan hotel saja. Tapi tidak untuk kali ini, koran itu aku ambil dan kubaca secara seksama. Tak lama dia datang, dan berbaring disebelahku. Aku tersipu malu namun dia terlihat amat nyaman.

            Ditaruhnya sebuah bantal dipunggungku dan meletakan kepalanya di atas bantal. Aku yang tengah membaca koran saat itu hanya terdiam seolah asik membaca koran. Beberapa saat kemudian Ia melihatku dengan amat penasaran tentang apa yang ada dalam berita pagi ini.

            “George, sungguh malang nasibmu menjadi korban ketidak adilan hukum pada masanya. Di Hukum mati dengan cara di dudukan pada sebuah kursi listrik oleh aparat negara yang sebenarnya lebih pantas dipanggil keparat Negara. Tujuhpuluhtahun sudah kasus ini baru mendapat keadilan dan pengakuan ketidak salahannya. Tapi semua itu seolah terlambat harusnya Ia sudah berumur 84 tahun kini.” Ujarnya mengagetkan ku yang sedang asik membaca berita dihalaman sebelah.

            “Aku malah belum baca” Ujarku sambil menoleh kearahnya
           
“Mana pernah kamu membaca apa yang aku baca”

            “Ah, kamu ini..” balasku seolah merasa tersindir oleh ucapannya

“Parahnya faktor utama George di hukum mati adalah perbedaan warna kulitnya dengan orang-orang yang sedang mengeksekusinya kala itu. Mereka fikir orang yang berkulit putih selalu benar apa? Tambahnya lagi.

“Ya, setidaknya untuk orang berkulit hitam seperti yang didekatku ini terkesan sangar dan keras” Ujarku meledeknya.

“Meledek kamu ya songong” Katanya sambil menjitak kepalaku.

Tak lama kemudian seorang wanita yang dari tadi ada bersamaku didalam kamar hotel pun melangkah ke kamar mandi. Tanpa basa basi melihat sikon itu, pria tadi yang menceritakan tentang George kepadaku mulai memegang tanganku erat. Aku hanya terdiam seolah terbiasa oleh hal itu.
                                                                             
                                                                              **** 

Aku jadi teringat sesuatu, pria ini telah lama bersamaku. Kami menghabiskan masa-masa bahagia bersamanya di ibu kota. Tinggal di apartemen dekat dengan kantor kami dan mempunyai anak-anak yang lucu dan pandai. Tinggal di apartemen adalah pilihannya.

“Aku ingin kita tinggal selama beberapa tahun disini, sambil kita mengumpulkan pundi-pundi untuk membeli rumah mewah dikawasan ini” Ujarnya saat itu

“Semua ku lakukan demi anak-anak kita, aku ingin melihat mereka dalam waktu yang panjang setiap harinya. Kalau kita mencari rumah yang jauh dari kantor kita kan kehabisan waktu dijalan dengan kemacetan dan gaji yang habis dijalan. Sedangkan untuk saat ini tabunganku belum cukup untuk membeli rumah mewah dikawasan seperti ini, apartemen adalah solusi terbaik” Katanya menjelaskan

            Iya juga sih, jawabku singkat.

Sepulang kantor Ia selalu tiba dirumah membawa makanan dan mainan untuk anak-anak. Ia begitu menyayangi mereka dan juga aku. Entah mengapa Ia melakukan itu semua.

Sayang, cintaku, ibu dari anak-anakku lagi apa? Ujarnya dalam sebuah pesan singkat Pesan itu selalu membuatku tersenyum.

                                                                               *** 
           
Tak lama wanita yang baru saja masuk ke kamar mandi pun keluar dan segera membereskan pakaian dan kopernya. Tanpa basa-basi aku pun beranjak dari kasur dan meninggalkan lembaran koran yang tadi kubaca dikasur beserta bungkus permen yang berserakan. Laki-laki yang bersama ku tadi pun beranjak dari tempatnya dan bergegas untuk mandi. Setalah melihatnya beranjak dari tempat nya aku pun membersihkan bungkus permen yang berserakan itu dan merapihkan lembaran koran yang habis ku baca.

“Tuh kan, kamu memang bersih” Ujarnya mengagetkanku

“Biasa aja, ini kan sampah sendiri jadi harus dibersihkan sendiri” Jawabku

Ia hanya tersenyum dan kemudian masuk kekamar mandi. Setelah semua dirasa beres, kami bertiga keluar dari kamar hotel dan pulang menggunakan inova. Diperjalanan pulang lagi-lagi laki-laki itu menggenggam tanganku, sesekali aku berusaha menolak namun tak jarang aku membiar hal ini larut begitu saja.

Sesampainya dirumah aku menerima sebuah pesan singkat bertuliskan sayangku.
Ya siapa lagi kalau bukan laki-laki tadi. Semua pesan singkat darinya yang ku terima selalu kubalas dengan ramah. Hingga suatu hari kami terperangkap dalam sebuah alur yang begitu rumit. Membahas hal yang selalu kita bicarakan berulang-ulang. Laki-laki itu begitu keras dengan semua pendapatnya. Aku sedikit lelah tapi aku tak pernah marah.
Sampai pada akhirnya aku membalas pesannya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

“Aku lagi nunggu dijemput pacarku”

“yaudah hati-hati” balasnya singkat.

Pesannya hanya menggantung disitu, sampai malam tak ada pesan indah yang masuk ke ponsel ku. Aku mencoba menghubunginya lebih dulu tak biasanya aku bersikap seperti ini. Setelah lama menunggu balasan, jawaban yang kudapat begitu menyebalkan. Entah mengapa Ia marah padaku.

            Lusa, senin pagi. Kami bertemu dikantor tingkah begitu dingin kepadaku, aku menanggapinya biasa saja tapi tak sedikit pikiran tentangnya memenuhi ruang sesak dikepalaku. Aku pulang lebih dulu hari ini, tanpa diantarnya sampai parkiran. Sesampai dirumah aku tak berusaha menghubunginya lagi karena sudah beberapa kali ku coba untuk menghubunginnya namun jawaban yang kudapat selalu dingin.

            Hingga malam pun tiba, saat lampu-lampu rumah mulai padam dan pintu-pintu rumah mulai terkunci aku mendapat pesan singkat darinya bertuliskan aku sakit. Membaca pesannya aku sedikit panik, ku pikir terjadi sesuatu padanya. Ternyata semua aman, hanya sakit biasa. Pembicaraan lewat pesan pun berlangsung sunyi tak ada canda tawa didalamnya. Malah tak jarang ungkapan perpisahan terlontar didalam pesan-pesannya itu. Aku menanggapinya cemas, tapi lama kelamaan aku merasa lelah. Aku mencoba menuruti keinginannya dan tak membalas pesannya lagi selama beberapa jam.
           
Hingga pagi pun tiba, tak ada dering khas yang biasanya muncul dari ponselku. Padahal, aku melihatnya sedang online tapi Ia tak menyapaku. Ah sudahlah, ujarku sepontan.

            Beberapa jam kemudian, terdengar dering telpon dari ponselku. Segera ku angkat dan seperti biasa memulai percakapan dengan ucapan assalamualaikum.  Percakapan kami diponsel pun terkesan biasa, tak seperti beberapa minggu belakangan ini yang selalu dipenuhi canda tawa dan angannya untuk bersamaku dalam sebuah apartemen bersama anak-anak yang lucu dan pandai.

                                                                                   
                                                                           ***

           Tiap kali ku ingat angannya untuk tinggal bersamaku disebuah apartemen bersama anak-anak yang lucu dan pandai yang selalu Ia lontarkan didalam percakapan panjang kami ditelpon aku hanya bisa menjawab, apa boleh buat kita berbeda. Aku masih terlalu muda untuk itu, sedangkan kau pantas mendapatkan yang lebih baik dan sesuai. Kami selalu cekcok tentang apa yang sudah sama-sama kita ketahui. Tak jarang kami menunjukan sikap egois kami terhadap masalah ini. Ia yang egois untuk tetap ingin bersamaku sampai kapanpun dan menjadikanku halal baginya. Aku yang egois untuk tetap bersamanya sebagai adik sampai Ia bahagia mendapatkan wanita yang sesuai dengannya. 

(Cerpen) Silih Andi

“Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tersenyum lagi nak ”

Anakku, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? Dan sesedih apakah perasaan seorang anak dikala terluka , dan aku hanya bisa melihat mu dari balik jendela ? Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam kerajaan maupun rakyat sedang membutuhkan ku, ketika suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan, ribuan rakyat mengelilingi kerajaan dan berteriak-teriak seolah memanggil nama ku meskipun itu semua hanyalah nurani ku . Duapuluhempat jam ku habiskan demi rakyat ku , hingga kau melihat ku dalam waktu yang serba sebentar . Sepanjang angin berembus baginda terus berbicara dibalik jendela .

Waktu terus susut, jam terpojok ke angka lima tapi senja belum turun dan baginda pun hingga kini tak beralih dari jedela itu . Sedangkan pangeran yang sedang direnungkan baginda sedang mengadikan kesaktiannya pada bela diri kegemarannya .

"Sepanjang angin berembus, akankah kau merindukanku?” lagi-lagi baginda membicarakan putranya , Puang Andi .
Ah, rindu memang seperti paksaan, ketika sang baginda melambai-lambaikan tangan untuk putranya namun Puang Andi tetap tak acuh, seolah lambaian baginda hanya sebuah kebisingan angin semata . Bahkan melihat semua itu langit pun seakan memperlihatkan warna merah pada langit dengan lapisan awan tipis membentuk garis-garis menggumpal yang artistik dengan warna merah saling tindih. Senja tak seperti biasanya..
            
Pada masa itu , mitos menjadi hal penting dimana ketika warna langit berubah menjadi warna orange bahkan mendekati merah sekali pertanda bahwa langit sedang marah . Namun Pangeran, Puang Andi seolah lupa akan mitos kepercayaan penduduk setempat. Puang Andi, adalah sosok laki-laki tangguh yang tak gentar dengan apapun . Ia begitu congkak akan kesaktiannya. Kalau boleh diomong buah jatuh tak jauh dari potohnya , tentulah baginda Silih Andi yang mewariskan itu pada pangeran Puang Andi tapi tidak dengan ke angkuhan dan kesombongannya . Entah dari mana ia belajar menjadi angkuh dan sombong , mungkinkah harta yang mengajarkannya ?

    Namun belum selesai keangkuhan sang pangeran pada ayahannya sendiri, ia kembali memperlihatkan kejahatannya pada seekor harimau yang tidak lain tidak bukan adalah binatang kesayangan sang baginda yang dipercayakannya untuk menjaga pangeran dari segala marabahaya. Cabikan demi cabikan, hantaman demi hantaman seolah sudah menjadi makanan sehari-hari sang harimau . Sungguh malang nasib harimau, salah berdarah tak salahpun terluka,begitulah lakon yang harus didapat tiap kali mencoba bersahaja dengan sang pangeran .

“Perlunya tanah leluhur dipertahankan, jangan biarkan orang lain menduduki tanahmu.” Kalimat itu terlontar dari bibir anak sang raja . Raja yang disegani pada masa itu, raja yang dicintai oleh rakyatnya.  Padahal, yang dilakukan oleh sang harimau ialah mencoba berbagi tempat tidur oleh seekor harimau lain yang kebetulan berada pada hutan tepat dimana sang pangeran Puang Andi berlatih bela diri . Dari subuh sampai siang bahkan hingga senja hampir hilang pangeran terus berada di tempat itu untuk menyempurnakan kesaktiannya . Lalu tak lama pulang ke kerajaan, merebahkan diri seorang diri sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kegiatan bela dirinya .

Tragisnya setiap kali sang pangeran bertemu seorang manusia saja, orang itu langsung menghindar dan mengambil langkah seribu tapi jika di amati orang itu akan berenti dikesepian , jauh dari pangeran, Puang Andi sambil terengah-engah tak lama berkata “Laknat, hampir saja…” belum selesai ucapannya pangeran puang datang menghampir orang itu . “ Datang, atau ku buat lebih sengsara ” mudah sekali ditebak, ucapan itu tak lain datangnya dari mulut sang pangeran. Tak lama hentakan tanah seolah menunjukan ada yang datang. Bukan, bukan orang itu melainkan sang harimau putih kepunyaan sang pangeran . “Apa…. Apa maksudmu? Lagi-lagi berani-beraninya kau membela orang lain ketimbang aku, ingat kau ini utusan baginda, ayahku!! Dasar bintang tak berguna! Dengan nada tinggi kata-kata itu terus di lontarkan , selalu disetiap kondisi seperti ini Pangeran Puang berkata hal itu pada sang harimau . Entah apalagi yang dilakukannya, kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan seolah menjadi cerminan didikan sang baginda pada pangeran Puang, padahal kenyatannya tidak seperti itu.

“Barangkali hidup tidak mengenal kompromi, hal apa pun harus dilakukan dengan penuh pengorbanan ,tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup dengan watak anak semata wayang yang seperti ini lagi-lagi cinta dan kasih sayang orangtua kepada anak menjadi acuan ku untuk terus bertahan tanggungan akhirat ku adalah Puang” Ujar Baginda Silih Andi .

Beberapa waktu kemudian, sang pangeran menyadari bahwa orang tadi sudah melarikan diri karena sibuk mencabik dan menghajar sang harimau putih , sang pangeran lupa bahwasanya lawannya kali itu ialah orang tadi bukan harimau putih miliknya ini . “Ah sial, lagi-lagi kau membuat lawan ku lari.” Dasar binatang tak berguna! Pergi kau!
         
         Tak lama sang harimaupun pergi berlalu meninggalkan Pangeran Puang. Sang pangeran pun melanjutkan perjalanan menelusuri hutan seorang diri, tak masalah baginya. Di perjalanan mencari buruan terlihat banyak warga sedang bergerombolan di sekitar pohon besar namun perlahan meraka semua lari ketika sang pangeran menghampiri . Rupanya ada ukiran kata pada pohon besar itu yang bertuliskan “Nanti malam akan dimakamkan. Kalau sempat, hadirlah., tertanda pulan .

Membaca secercah ukiran dipohon itu pangeran hanya senyum seringai dan berjalan pulang ke kerajaan . Padahal sang pangeran tahu bahwa pulan adalah adik sepupu nya sendiri, dan yang wafat tadi tidak lain tidak bukan ialah pamannya , adik dari baginda Silih Andi yang baru saja hampir ia habisi dihutan tadi . Hal itu di tebak oleh pangeran karena keluarga yang dimiliki pulan ialah ayahnya karena ibunya telah wafat lebih dulu dan pulan adalah anak semata wayang.   

“Belum ku lawan sudah tewas, dasar rakyat jelata tetapi apa penyabab ia tewas . Bahkan ku sentuh kulitnya saja belum.” Ujar pangeran Puang Andi dalam hati.

 “Dan… Sudah puluhan tahun Aku tidak bertemu oleh pulan, tinggal dimana dia”?  Ujar sang pangeran ketika menyadari akan kehadiran pulan secara tiba-tiba disekitar istana kerajaan milik ayahnya ini setelah puluhan tahun tidak pernah terdengar kabarnya.

“Ahh sudah lah perduli apa ku soal itu , itu tandanya kesaktianku sudah bertambah. Buktinya saja paman ku belum juga ku sentuh sudah tewas hahahahaha ….”   Lagi-lagi iblis seolah menguasai hati sang pangeran .

Setiba di kerajaan, dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakan sang pangeran masuk oleh para pengawal kerajaan namun tak sedikitpun pangeran memberikan senyuman pada  pengawal-pengawal itu . Berjalan angkuh sudah menjadi citra negative sang pangeran dimata rakyat dan seluruh orang yang mengenalinya . Atribut kerajaan yang ia kenakan membuatnya begitu congkak, ditambah lagi kemahirannya dalam bela diri . Hampir setiap orang yang ia temui di jalan ia jadikan mangsa/lawan nya dalam mengukur kehebatan bela dirinya itu sebabnya orang tadi (pamannya) tiba-tiba mengambil langkah seribu begitu melihat sang pangeran,Puang . Hal itu di karenakan siapa saja yang sudah menjadi sasarannya pasti akan berujung pada kematian , sudah ratusan rakyat di sekitar kerajaan sang baginda Silih tewas di tangan anak semata wayangnya, Puang Andi . 

“Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau”. Katanya memperkenalkan diri kepada sang pangeran yang sedang berjalan di lorong kerajaan .

“Siapa kau? Lalu bagaimana kau bisa masuk ke dalam kerajaan sesukamu” Ujar Puang Andi .

Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. “Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya melanjutkan.

“Wajahmu masih seperti dulu,” katanya lagi .

“Tidakkah engkau peduli akan kabar ku ?” Kabar tentang adik sepupumu yang ibu nya kau bunuh saat sedang mengajarkan ku bela diri .

Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benak sang pangeran , Pulan nama wanita itu yang tidak lain ialah wanita yang mengukir pesan di sebuah pohon pada hutan tadi .

“Sudah puluhan tahun….. hiks hiks hikss .” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. “Aku tidak mungkin hidup sendirian , sudikah kau membunuhku juga wahai pangeran agung yang amat tangguh”? Ujarnya dengan dadak sesak dan terlihat batinnya bergejolak .

Nampaknya luapan emosi yang diberikan seorang pulan pada sang pangeran, Puang andi tak berdampak pada perubahan pola pikir atau perasaan sang pangeran . Ketika mendengar luapan emosi darinya Puang Andi hanya terdiam lalu kembali berjalan di lorong kerajaan menuju ruang tidurnya tanpa satu kata pun terlontar .

Malam telah berlalu matahari mulai muncul , cahaya sinarnya yang tepat disebelah timur sangat terang menyinari kerajaan pada hari itu .

“Apa yang kau lakukan nak, embun hampir habis namun kalau belum juga selesai berlatih”? Ujar baginda Silih Andi kepada pangeran Puang .

“Apalagi kalau bukan memantap kan ilmu bela diri ku agar aku dapat menjadi satu-satunya yang memiliki kesaktian abadi”. Ujar pangeran Puang kepada ayahandanya .

Baginda tersenyum dan mengangguk-angguk lalu berkata “ Setelah waktu itu tiba tebus lah segala dosamu pada rakyat dan makhluk dibumi ini jadilah pangeran yang melindungi negeri ini nak”

“Haha.. perduli apa ku soal itu semua , liat saja nanti akan ku sempurnakan ilmuku lalu akan ku kusai jagad raya”. Ujar pangeran Puang Andi dalam hati .

Tak lama setelah baginda pergi dengan kereta kencananya menuju kota dan bertemu para rakyatnya , sang harimau putih datang menghampiri pangeran Puang Andi . Dengan luka yang tak pernah hilang disetiap harinya dikarenakan oleh ulah kejam sang pangeran yang selalu mencabik, mencambuk dan menjadikannya sasaran untuk berlatih bela diri .

Dan di tempat yang berbeda sang baginda Silih Andi sedang menantau kegiatan rakyatnya setiap hari dan sesekali membantu mereka dalam berkerja . Baginda Silih Andi adalah sosok raja yang agung, ramah dan sangat mengayomi rakyatnya . Antara rakyat dan raja seolah tak ada kedudukan yang memisahkan. Sampai salah seorang rakyat bertanya pada baginda ketika baginda sedang membantunya menggangkat kayu untuk dijualnya kepasar .

“Wahai baginda raja , bolehkan saya tahu apa yang ada pada lengan baginda? Nampak ada banyak luka disekitar lengan dan tubuh baginda sepertinya”. Ujar nya

“Bukan apa-apa ini hanya luka biasa akibat berburu di hutan”. Balas sang baginda .

“Kalau begitu izinkan saya untuk mengobati luka-luka yang ada pada tubuh baginda dengan beberapa racikan herbal yang saya punya”. Pinta nya kepada baginda

“Tidak, tidak perlu terimakasih atas tawaran mu namun luka-luka ini akan kering dengan sendirinya”. Kata baginda Silih sambil merangkul rakatnya itu .

“Baiklah saya akan teruskan perjalanan untuk melihat aktivitas lainnya” Ujar baginda

“Hati-hati di jalan yang mulia, terimakasih atas segala bantuan dan perhatian mu pada rakyat kecil seperti kami.” Ujar salah satu rakyat tadi .

Baginda hanya tersenyum mendengar ucapan dari orang itu . Baginda Silih Andi memang sangat baik berbeda dengan anaknya Puang Andi . Tak lama ketika di dalam kereta kencana baginda lagi-lagi merasakan sakit pada tubuhnya seperti tecabik kemudian timbul lah memar dan luka-luka lagi . Lalu, Pulan yang ternyata sedang ikut serta di dalam kereta kencana itu berkata pada baginda “Wahai baginda, sulit ku melihat ini semua ini sebabnya aku dan ayah pergi jauh dari istana agar melupakan ini semua. Sampai kapan baginda kuat dan sanggup menderita seperti ini semua?”

Baginda menjawab “ Maafkan saya pulan, bersabar lah tunggu sampai senja selesai” .

“Lalu, senja mana yang kau tunggu sudah puluhan tahun kau melewati senja namun tak ada senja yang kau maksud”. Ujar Pulan dengan berlinang air mata seolah ikut merasakan penderitaan baginda Silih Andi .

Mendengar ucapan Pulan baginda hanya tersenyum dan terus menahan rasa sakit yang ia alami, luka-luka yang ada pada tubuh baginda semakin bertambah bahkan kini sampai bagian wajah pun timbul garis merah seperti cambukan .
        
           Sedangkan di kerajaan sang Pangeran Puang Andi sedang asik berlatih bela diri ditemani oleh harimau putih miliknya . Harimau putih itu nampak kelelahan dan kesakitan karena dijadikan lawan bertarungnya. Namun harimau itu sangat setia menemani pangeran seperti halnya yang diperintahkan oleh sang baginda kepadanya . Tak lama senja pun kembali tiba saat senja tiba sang baginda raja kembali ke istana bersama Pulan , pengawal-pengawal dan kereta kecananya . Setiba baginda di istana sang pangeran berserta harimau putihnya menghampiri baginda dan berkata : “Ayahanda Silih, telah kusempurnakan ilmu bela diriku , kini saatnya ayahanda menjawab tantangan ananda beberapa puluhan tahun silam . Kini di ujung senja ini anada siap bertarung dengan mu demi mendapatkan kesaktian abadi dan satu-satunya dibumi ini.”
     
          Mendengar maklumat  tersebut, pandangan Baginda Silih menerawang jauh. Dulu alasan beliau meminta ananda Puang Andi untuk menyempurnakan ilmu nya dahulu sebelum bertarung dengan nya adalah seonggok alasan agar Pangeran Puang Andi tidak terluka dan kalah pada pertarungan antara ayah dan anak itu . Namun, selain itu kini  ini yang di khawatirkan Baginda Silih ialah Bagaimana bila salah satu harus terbunuh? Bagaimana bila dirinya yang terbunuh lalu rakyat marah? Atau bagaimana bila putranya yang terbunuh?Bagai menang menjadi arang kalah menjadi abu.  Begitu risau hati Baginda Silih memikirkan maklumat yang disampaikan putranya tersebut. Baginda tidak ingin sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam lingkungan kerajaan.
  
        Mendengar perkataan sang pangeran , Pulan yang merupakan adik sepupu pangeran Puang Andi sangat kecewa dan sangat marah kepada sang pangeran .  Tiba-tiba dengan lantang ia berkata:

 “Tidak kah kau bisa berbuat baik hanya pada satu orang saja yaitu ayah mu pangeran. Tidak kan nurani mu berfikir tentang kasih orangtua tiada batasnya . Kini baginda Silih bukanlah seorang yang sakti seperti yang kamu kira pangeran . Pusat kekuatannya sudah ia serahkan pada harimau putih peliharaan mu itu sejak kamu mulai mengatakan untuk mengadadakan pertarungan pada baginda . Maka setiap kali harimau itu terluka saat sedang berlatih dengan mu atau pun sedang dalam kondisi terancam ayahanda mu merasakan luka dan ketakutan yang di rasakan harimau itu . Tidakah kau lihat luka yang ada pada harimau itu sangat sama dengan luka-luka yang ada pada tubuh dan wajah sang baginda, bahkan untuk menanyakan hal itu saja kau enggan dan tidak kah kau tahu mengapa ayahku mati secara tiba-tiba setelah betemu dengan mu? Biar semua orang tahu ini bahwa ayah ku mati bunuh diri setelah kejadian itu karena tidak tega melihat kakanya,Baginda Silih dalam wujud seekor harimau putih milikmu yang kau cambuk kau pukul pada saat itu dikala membela dirinya saat kau mengejarnya ”.

Mendengar pengakuan tersebut Puang Andi menangis merintih-rintih karena selama ini, selama puluhan tahun Puang Andi merawat harimau putih dengan tidak wajar , memukulnya dengan cambuk , memberinya makanan basi dan menjadikannya pelampiasan ketika dia marah dengan siapapun. “Apa yang aku lakukan selama ini kepada harimau itu berarti aku melukai ayahanda ku secara perlahan……….”. Ujar sang Pangeran
Tak lama ia kembali berucap :
“Maka dari itu lebih baik aku membunuhnya secara langsung ” Ujar Puang Andi sambil mencabik-cabik harimau putih itu dengan berlinang air mata buaya .
Dan senja pun usai dengan tragis .
Tamat



(Esai) Instansi dan komunitas menjadi tumpuan remaja secara tidak langsung

Saya merasa bahagia tiap kali membaca lembar demi lembar buku kumpulan cerpen yang dimuat oleh Badan Bahasa, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kumpulan cerpen yang dimaksud merupakan kumpulan cerpen hasil karya remaja tingkat sekolah menengah atas yang di kumpulkan melalui sayembara cerpen pada tahun 2013. Ini layaknya sebuah suplemen yang cukup menggairahkan budaya menulis kreatif di kalangan remaja. Suplemen tersebut menjadi bukti makin banyaknya remaja yang kini gemar dan manir menulis karya sastra.

Namun, adakah instansi dan komunitas yang mengapresiasikan karya sastra remaja? Pertanyaan semacam ini masih banyak menjadi pertanyaan dibenak remaja.

Jika dikaitkan dengan persoalan itu. Minimnya informasi tentang keberadaan komonitas atau wadah penampung karya sastra menjadi keluhan. Padahal, jelas kumpulan cerpen remaja garapan Badan Bahasa ini menjadi salah satu bukti bahwa adanya instansi dan komunitas yang menjadi wadah penampung karya sastra remaja saat ini dan tidak seburuk yang di duga. Pasalnya, remaja kebanyakan beranggapan bahwa wadah yang bisa mengapresiasikan karya sastra remaja sangat jarang. Hanya terbatas pada penerbit atau media yang bergerak dibidang nya saja itupun kebanyakan karya yang dimuat adalah karya garapan penulis ternama atau berstatus pendidikan yang tinggi.

Hal itu tak ubahnya menciutkan kepercayaan diri remaja untuk menyalurkan karya sastranya karena dinilai tidak memiliki porsi persaingan yang seimbang. Artinya, biasanya di sebuah penerbit dan media yang bergerak dibidang ini tidak memberikan ruang khusus untuk remaja memuat karya sastranya, semuanya di pukul rata. Siapa saja bisa mengirim karyanya dan hasil pemuatan pun pastilah dinilai tidak seimbang bagi remaja.

Tidak banyak yang mengetahui adanya instansi dan komunitas kini kian marak, yang sudah memberikan perhatian lebih bagi peningkatan apresiasi sastra para remaja. Bahkan, tak jarang mereka juga memberi pengatahuan dan sejarah sastra, disamping mengapresiasi karya-karya sastra, mengajak remaja untuk menulis karya sastra.

Setidaknya, melalui kegiatan seminar yang kerap kali di adakan di instansi terkait, selain itu mereka juga tak segan untuk membuka forum terbuka perihal pengetahuan maupun sejarah tentang sastra yang mereka tuangkan di situs resmi milik mereka. Sedangkan untuk komunitas yang bergerak dibidang sastra, biasanya mereka membuat semacam sanggar sastra guna menjadi solusi untuk remaja yang minat di bidang karya tulis sastra namun masih minim secara kemampuan dalam mengolah ide menjadi sebuah sastra yang baik dan menarik.

Upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbanyak porsi menjadi wadah apresiasi karya sastra remaja juga terlihat pada buku-buku hasil sayembara yang di garap oleh Badan Bahasa yang berjudul “Anak yang Tak Kembali” Antologi Cerpen tahun 2013, Majalah Nuansa dan masih banyak lagi. Apalagi, jika membaca beberapa buku tersebut saya menilai karya sastra karangan remaja kini mengalami kemajuan dan sesuai dengan perkembangan sastra dan zaman terkini. Remaja hanya tinggal sedikit saja di arahkan untuk membaca karya-karya sastra lain dari pengarang-pengarang ternama agar karya sastra mereka semakin luas cakupannya tidak hanya seputar kehidupan sosial dan cinta melainkan juga mampu membuat karya sastra bertemakan pendidikan, kebudayaan dan lainnya.

Namun pertanyaan lain juga sering muncul di benak remaja personal sulitnya karya tulis sastra mereka menjadi karya pilihan yang di muat? Nah, aspek apa saja yang menjadi penilian dalam pemuatan karya tulis sastra remaja?

Jika berbicara segi penilaian karya remaja seperti apa yang nantinya bisa di muat tentunya aspek kebahasaan menempati porsi yang yang tinggi dalam hal ini. Instansi dan komunitas tentunya senada dengan penerbit maupun industri lainnya yang tidak sembarang memuat sebuah karya garapan remaja tanpa di landasi kebahasaan yang baik dalam arti tidak mengandung unsur SARA. Sedangkan dalam seminar maupun sanggar seperti yang di jelaskan sebelumnya, tentunya untuk segi penilaian aspek-aspek lainnya juga menjadi pertimbangan seperti mendengarkan dan berbicara/cara menyampaikan sebuah karya pada audiens. Jadi, semua aspek penguasaan bahasa Indonesia mendapatkan porsi yang seimbang dalam apresiasi karya sastra remaja.

Pada akhirnya, Instansi dan komunitas menjadi tumpuan secara tidak langsung dalam hal apresiasi karya sastra remaja guna meningkatkan minat baca dan tulis remaja terhadap karya sastra. Namun, masyarakat sebenarnya juga harus juga turut beperan dalam hal ini. Jika saja, apresiasi dan pengetahuan akan adanya wadah penyalur karya sastra remaja yang tidak di ketahui secara merata dikarena informasi yang ada tidak dibeberkan oleh pihak-pihak yang mengetahui maka remaja akan kebingungan untuk menyalurkan karyanya kemana sehingga ini menjadi pemicu utama untuk remaja malas menulis karya sastra. Jika untuk memberikan informasi kepada generasi muda saja enggan maka wadah apresiasi karya sastra akan menuai kegagalan karena kurangnya keberagaman kreatifitas karya sastra yang dapat dimuat.

Selain itu remaja juga di tuntut untuk lebih jeli mencari informasi. Karena kini tak ada lagi alasan minimnya kesempatan bagi remaja untuk menyalurkan karya sastra. Informasi ini dapat mudah di ketahui jika remaja rajin mengupgrade informasi melalui media sosial/jejaring internet dan tak segan bertanya pada guru, orangtua, kakak maupun kerabat mereka perihal ini.


Jadikan pengapresiasian karya sastra adalah tradisi kompetitif bagi para remaja baik karya yang berupa resensi sastra maupun karya kreatif (cerpen dan puisi), guna untuk merangsang budaya baca dan tulis remaja.

(Wacana) Melihat Kebebasan Media dari Sudut Pandang Undang-Undang

Bersua di media sosial tentunya bukan hal baru bagi remaja masa kini. Sering kali, remaja menghabiskan waktunya hanya untuk bersua di media sosial. Fenomena ini semakin marak seiring dengan globalisasi dan kecenderungan yang mendunia terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Sebab, media sosial turut berkonstribusi dalam penggunaan bahasa. Jika satu media sosial ramai menggunakan suatu istilah baru yang dibuat oleh remaja, media sosial lain pun akan tergiring menggunakan istilah tersebut. Masyarakat pengguna media sosial cenderung mengikuti perkembangan yang terjadi. Kini, media sosial dianggap sebagai patokan modernitas dan pergaulan seseorang. Bukan hanya penggunaan bahasa atau istilah yang menjadi dampak atas perkembangan teknologi komunikasi, melainkan berita atau isu pun akan lebih cepat beredar. Dengan itu, masyarakat menjadi lebih mudah tergiring oleh opini, baik positif maupun negatif yang beredar di media sosial sehingga tidak jarang muncul pihak-pihak yang merasa dirugikan atas opini tersebut.

Belakangan ini perhatian pemerintah terhadap teknologi komunikasi dan informasi telah menunjukkan potensinya. Hal ini dibuktikan dengan adanya undang-undang yang mengatur tentang mengemukakan pendapat di media sosial, yaitu Undang-Undang Informasi Teknologi Elektronik (UUITE) yang dibuat berdasarkan keputusan anggota dewan tahun 2008. Keputusan ini dibuat berdasarkan musyawarah mufakat untuk melakukan hukuman bagi para pelanggar, terutama di bidang informasi teknologi elektronik.

Ingatkah dengan peristiwa yang belakangan ini ramai dibicarakan tentang seorang mahasiswi S2 universitas ternama di Yogyakarta bernama Florence Sihombing? Ia dihakimi warga Yogyakarta di media sosial dikarenakan Florence menulis status yang dinilai telah menghina kota Yogyakarta. Berikut adalah kutipan status yang Ia tulis di Path.

“Jogja miskin tolol dan tidak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja.”

Dengan adanya kutipan yang ditulis oleh Florence dan melihat respon warga Yogyakarta yang merasa dirugikan, akhirnya, Florence dituntut dengan KUHP pasal 28 ayat 2 tahun 2008 dan diancam hukuman 4-6 tahun penjara tentang pencemaran nama baik. Hal itu sebagaimana diutarakan oleh IPDA Tyan Ludiana, S.Ikom. (Humas Fanpage Mabes Polri) dalam diskusinya bersama kami di salah satu universitas ternama di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. IPDA Tyan Ludiana mengimbau agar masyarakat lebih logis dalam bermain kata-kata di media sosial.

 “Meskipun itu sesuka hati kita, tetapi kita juga harus bertindak lebih logis karena sekarang sudah ada regulasi baru UUITE yang mengatur kreatif kita dalam bermain di media sosial,ujarnya saat ditanyakan mengenai kebebasan mengeluarkan pendapat di media sosial.

 Berdasarkan paparan di atas, kita seharusnya menyadari dampak negatif media sosial yang kerap kali semakin dominan. Padahal, media seharusnya mempunyai peran dalam membangun hubungan erat pertemanan. Namun, pada praktiknya acap kali menyimpang. Banyak media atau akun anonim yang digunakan sebagai alat untuk menyerang seseorang atau kelompok. Hal itu menyalahi etika sosial, alih-alih mengatakan itu merupakan kebebasan seseorang di media. Meskipun begitu, tidak dipungkiri jika media sosial juga banyak memberikan hal positif dalam meningkatkan wawasan dan kreativitas kita.

Kini, pemerintah sedang berusaha membuat regulasi yang memayungi dan mengimplementasikan kebebasan itu dengan baik. Untuk itu, selama kita bermain di media sosial harus dalam batas kewajaran. Kebebasan berpendapat di media sosial pun harus dijunjung tinggi.