Rabu, 13 Mei 2015

(FriendshipNeverEnds) Langkah Kaki



Tiga Belas Mei 2015, Cuaca cukup muram. Air hujan mengguyur jalan aspal daerah rumahku. Aku hampir mati gaya mensiasati hari ini. Hingga kuputuskan untuk menjelajahi dunia semu di depan layar lebar kegemaranku. Kalian pasti tau, ya laptop pribadiku.

Kucoba membuka beberapa situs mulai dari situs yang memuat tentang berita, sosial media, bahkan sampai situs porno yang tak sengaja muncul di layar lebarku. Ah, aku benci sekali ini hal ini. Selalu saja muncul situs atau iklan yang memuat gambar-gambar keji yang tak pantas di pertontoni. Akhirnya kuputuskan untuk mencari hal yang agak berbau manusiawi dan bernilai positif tinggi.

Kumulai dengan mengetik beberapa huruf di atas papan qwerty, kutuliskan kata ‘Lomba Menulis’ pada sudut kanan atas yang di lengkapi dengan symbol kaca pembesar. Kurasa semua orang hampir mengenali, symbol itu berarti “searching” dalam sebuah jaringan komunikasi. Nah, yang kubuka itu terdapat disalah satu jejaring sosial yang dinamakan Twitter.

Kemudian muncul lah beberapa link lomba menulis yang bisa ku ikuti namun sayangnya akun @nulisbuku dan @Tiket.com lebih menarik perhatianku. Padahal, deadline pengumpulan naskah yang tertera agaknya menyesakkan hati. Aku dituntut untuk menggerakan jemari di atas papan qwerty pada tanggal di hari ini, untuk sekedar menarasikan sebuah kisah persahabatan yang tak akan berakhir atau sebut saja dengan tema #FrienshipNeverEnds.
Ah, aku merasa kudet. Mengapa hari ini menjadi batas pengumpulan naskah yang terakhir kali? Sungguh ironi.
        
    Dengan itu, tanpa basa basi aku langsung mencari isnpirasi lewat berbagai tulisan cerita pendek yang sering kubaca. Dan sambil melihat beberapa gambar diriku dengan sahabat-sahabatku, namun aku tertarik pada satu gambar. Ya gambar sepasang kaki. Kuputuskan untuk menjadikan gambar itu inspirasi dalam menulis cerpen kali ini. Gambar itu adalah dua buah pasang kaki yang disampingnya terdapat dua buah tas wanita yang diletakan di pelataran alun-alun Bandung. Gambar itu ku ambil sendiri, alih-alih menjadi moment yang nantinya mungkin akan sangat berarti. Kedua pasang kaki itu adalah kaki yang sudah hampir tiga tahun berjalan beriringan. Singkatnya, kedua pasang kaki itu adalah kaki ku dan sahabat baikku. Aku menggenakan flatshoes berwarna merah dengan tas ilustrasi Marlyn Mondroe sedangkan sahabat ku mengenakan sepatu cats putih yang panjangnya sampai ke mata kaki dan tas berwarna hitam pekat ke gemarannya.

            Pernah aku mengunduh gambar ini ke instagram dan ku tambahi caption “Kemana kaki kita akan melangkah lagi?” ditambah hastag #Resolusi #Mahasiswa #2015 . Caption yang ku tulis bukan sekedar dereta kata yang tak bermakna. Aku sangat berharap kaki-kaki ini akan melangkah lebih jauh lagi, dengan biaya sendiri bukan lagi menadah pada kedua orang tua.

            Keberadaan ku di Bandung kala itu bukan sekedar untuk refreshing  semata. Melainkan kami mempunyai urusan yang agaknya perlu di prioritaskan. Kampus ku mempunyai program perkuliahan yang agak berbeda dengan kebanyakan kampus lain. Biasanya kampus lain mengadakan Magang Industri hanya satu kali selama perkuliahan tetapi kampusku mengadakan Magang Industri dua kali selama duduk di bangku perkuliahan. Dan ini cukup membuat kalut pikiranku, sebab magang industri yang kedua ini cukup panjang, yakni tiga bulan lamanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengajak sahabatku ini berkelana ke Bandung berdua saja, alih-alih melamar magang di Balai Bahasa Bandung.

            Namun, betapa cerobohnya kami saat itu. Hingga lupa memikirkan tempat yang akan kami huni selama berada disana.

“Tan, terus kita nginap dimana malam ini” Ujar sahabatku itu saat kami sudah menduduki kursi kereta kelas eksekutif.

“Oh iya, MasyaALLAH gak kepikiran. Main berangkat aja kita” Ujarku agak kaget.
Padahal saat itu jarum jam menunjukan pukul sembilan malam dan di perkirakan kami akan tiba di Bandung larut malam. Kira-kira dua jam setelah berangkatan itu. Memang, keberangkatan kami di Bandung tidak dipersiapkan matang-matang awalnya hanya terlontar biasa saja saat kami sedang bersama. Tanpa di duga, rencana berubah menjadi agak sakral dan dilaksanakan hari itu juga.

“Sudah, tidak usah dikuatirkan kalian langsung aja check in atas nama kamu” ujar seorang pria di sebuah telpon yang tengah ku genggam.

“Ah, terimakasih.. baiknya abang ku ini” saut ku pada pria di telpon itu.

“Jadi, malam ini kita di sponsori?” kata teman ku dengan sigap.
Suasana terkesan lebih tenang lepas itu tetapi tunggu dulu…beberapa pegawai kereta api menghampiri kami.

“maaf mba-mba kursi yang kalian duduki itu bukan milik kalian, silahkan pindah ke gerbong bisnis”

Ah, sial. Pegawai kereta api membuat kami agak malu hati. Kami pikir ini gerbong bisnis enggak taunya gerbong eksekutif. Suasanya berubah lagi, menjadi agak ramai dengan bunyi ketawa kami yang agaknya seperti suara ringkik kuda dimalam hari.

Esok hari pun tiba, kami langkahkan kaki menuju tempat yang sama sekali belum pernah aku pijaki. Balai Bahasa Bandung. Dengan agak sedikit nekat kami mencari nya dengan berjalan kaki, sebab kata kebanyakan pendudukan di kota ini, Balai Bahasa Bandung letaknya tak jauh dari hotel yang kami huni malam tadi.

            Sesampai disana, keringat mengalir dari ujung rambut sampai kaki. Dandanan yang tadinya rapih kini menjadi tak terkendali, agak basah dan kusut. Namun semua itu terbayar dengan sambutan hangat Ibu Kepala bidang Tata Usaha di Balai Bahasa Bandung. Permohonan Magang Industri kami di terima dengan senang hati. Ah, lega sekali.

Setelah itu kami melanjutkan langkah kaki menuju tempat-tempat wisata di kota ini, dengan menggunakan angkutan antar kota tentunya. Tak jarang kami dapati hal-hal lucu yang kami sendiri tak mengerti dan tak jarang kami berada di posisi moody. Namun tiga hari disana kami lalui dengan senang hati, meski berdua saja tak apa. Sebab aku tak butuh banyak teman untuk berjalan bersama kalau akhirnya saling sikut di sebuah persimpangan. Bagiku persahabatan tidak sama seperti cinta yang mudah guyah dan berubah-ubah hanya dengan beberapa perbedaan yang ada. Berbeda kulit, berbeda kelas sosial bahkan berbeda agama tak jadi kendala, asalkan tidak saling mengunjing satu sama lain dan memberikan senyum palsu saat-saat tertentu.  Aku hanya butuh gelak tawa yang tulus dalam sebuah persahabatan,  meski dengan siapapun berteman pasti mengalami fase sulit menyatukan diri. Setidaknya dengan Riri, aku seperti menemukan teman untuk mewujudkan resolusi ku di tahun ini. Ya, Riri adalah nama temanku yang ada didalam foto itu. Oh ya, resolusiku tahun ini adalah duduk di kursi sebuah perusahaan sebagai editor atau penulis handal, tentunya setelah aku dapati tali toga yang dipidahkan dari kiri ke kanan diberengi dengan gelar sarjana dibelakang namaku nanti. Lain itu, aku berharap persahabatan aku dan teman ku ini akan kekal sampai nanti. Meski banyak ketidak cocokan tak ku pungkiri. Namanya juga hidup banyak warna yang kerap tak solid tetapi disitulah nilai nya.

Kini, kami sudah sibuk dengan dunia kami sendiri. Tentunya dengan berbagai kesibukan menuju masa depan yang lebih baik. Lain waktu, kaki kami akan melangkah ke negeri sebrang dengan biaya sendiri. Jangan lupa di amini yaJ

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dannulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .


#FriendshipNeverEnds

Sabtu, 09 Mei 2015

(Cermat) Wejangan

Saat menatap kearahnya aku selalu berkata dalam hati

“aku jatuh cinta padamu kekasih, bukan karena paras indahmu semata tapi caramu menjamuku, seleraku dimanja hingga asam urat dan koletrolpun tak pernah singgah. Aku bersyukur hidupku teratur karenamu.”

Kau tahu? Ibu mu itu waktu mudanya juga tak mahir menjamu, hanya saja ia mulai bertemu dengan pria tampan sepertiku dan mulai mempelajari teori memasak lewat nenekmu, dan hasilnya kurasakan sampai saat ini. Betapa bahagianya hidup tanpa penyakit kecil yang mengganggu gerak tubuhmu. Pria seusiaku kebanyakkan mempunyai sederet pantangan soal makanan tapi tidak berlaku untukku. Ditambah lagi, ibumu selalu mengingatkanku untuk tidak selalu menghisap gulungan nikotin seperti yang ada ditangan suamimu itu. Ajarkanlah suamimu hidup sehat anakku, mulai dari sekarang jangan tunggu nanti. Bukankah akan indah bila kelak kau hidup seperti kami ini? Tetap bersama-sama sampai rambut kalian berdua memutih ditelan waktu.

Karena perut itu pusat, penyakit asalnya dari perut. Untuk itu perut harus kita jaga dengan makanan sehat tidak hanya sedap. Makanlah makanan dan berikanlah anak dan suamimu makanan buatan tanganmu sendiri itu lebih baik, terjamin kebersihannya. Jadi wanita itu tak hanya harus cantik dan baik, tapi juga musti apik memasak.

Meskipun kita sama-sama meyakini umur tak ada yang tahu, cuma tuhan yang bisa tentukan tapi sadarkan kamu anakku bahwa untuk urusan ini sedikitnya kita masih bisa interpensi. Dengan cara yang kubilang tadi.

Jangan jadikan rumah tanggamu dibangun hanya dengan cinta. Cinta itu seperti cuaca, mudah guyah dan berubah-ubah. Hati-hati suamimu akan jatuh cinta dengan wanita lain hanya karena kau tak mahir menjamunya dan mengarahkannya untuk hidup sehat lewat suguhan makanan yang kau ramu sendiri.
***
“Mah, kok melamun saja” ujar suamiku mengagetkan ku. Baru sadar, ternyata aku melamun cukup lama hingga makanan yang kusuguhkan tadi sudah habis dilahap oleh suamiku.


“Ehm,.. eh iya, Pah. Tadi tiba-tiba aku teringat oleh wejangan almarhum ayah mertuamu sebelas tahun silam, yang menasehatiku untuk terus menjaga makananmu agar kita berdua dapat hidup sampai rambut kita sama-sama menutih ditelan waktu. Dan kini, wejangannya terbukti. 




Cerita ini sedang diikutsertakan dalam kuis #CERMAT yang diadakan oleh Penerbit Mizan dengan tema : Hidup Sehat. Bandung, 10 Mei 2015. 

(Cermin) Maafkan aku

            Aku menadah padanya tiap waktu, tak perduli berapa banyak angka nol dibelakang itu. Yang ku tahu adalah kuliahku bisa berjalan lancar alih-alih menunjang prestasiku dikemudian hari. Meskipun pada praktiknya prestasiku tidak sebesar ekspetasiku. Lagi pula mereka tak perduli soal itu, yang penting aku kuliah dengan absensi baik dan ipk tidak pernah dibawah rata-rata, itu cukup aman kurasa. Dengan itu, aku bebas menadah kapanpun kumau.  
            Akan tetapi pernah suatu hari, aku meminta sesuatu yang kurasa sudah hakku. Permintaanku pun tidak lebih besar dari biasanya, juga tidak lebih cepat dari seharusnya. Tapi, mengapa senyum itu tidak kulihat lagi? Bahkan, mata itu tak lagi memandang dengan binar-binar mesra penuh cinta. Yang terlihat hanyalah tatapan lelah. Lelah melihat anaknya meminta setiap waktu, lelah melihat anaknya yang sudah beranjak kepala dua tetapi hanya hidup bergantung pada orangtua. Oh, ini yang kulihat entah benar apa tidak aku tak ingin bertanya.
Agak lama setelah itu, diangkatnya lengan perlahan-lahan dan dilengkungkan lengan itu, dan dimasukannya kedalam sebuah tas berwarna coklat untuk mengambil beberapa cetakan Peruri yang kuminta tadi sembari berkata “sampai kapan kuliahmu ini berakhir?” hela nafasnya panjang dan lebih kencang dari biasanya.  Aku hanya tertegun sambil menatap matanya yang memerah secara tiba-tiba. Dalam benakku, itu adalah pertanyaan yang sudah seharusnya tak perlu aku jawab toh sebenarnya ia sudah tau kapan waktunya aku akan wisuda dan memakai toga.

“Jadi benar dugaan kutadi.” Aku mengujarnya dalam hati dan menyesali duapuluh tahun yang kulewati secara cuma-cuma tanpa berusaha membantu meringankan biaya yang mereka tanggung dengan jumlah buah hati yang lebih dari yang dianjurkan pemerintah kita ini. Agaknya aku harus lebih tahu diri, hidup itu bukan soal hak asasi anak tetapi juga kewajiban anak.  Maafkan aku.


Cerita ini diikut sertakan dalam kuis yang diadakan oleh Penerbit Bentang Pustaka dengan tema Ibu. 

Minggu, 03 Mei 2015

(Cermat) Biarlah cinta kita...

            Sore itu, sepoi angin pantai seolah menyisir rambut yang mulai memutih ditelan usia, menerpa kerut-kerut wajah yang dipahat waktu. Duduk termenung memandang paras wanita belia menjadi hal yang ku damba apalagi wanita ini begitu ku cinta. Hadirnya membuatku hidup berwarna dan selalu mampu mengindera rasa. Manis dan pahit jadi idola, seperti kemesraan yang saling menyakiti? Tanyaku sendiri dalam hati. Ah, aku tidak perduli.

Tak lama ku lirik kearahnya, sedang asik menatap gelap laut malam hari sambil sesekali tersenyum saat kapal nelayan yang didekorasi dengan pernak-pernik lampu lalu lalang dihadapan kami. Barulah saat itu aku menyadari, bahwa hari mulai malam dan aku melewatkan detik-detik tergelincirnya matahari di tengah laut, itu semua ulah garis bibir wanita belia itu.  Senyumnya seperti lorong waktu, membuatku mengenang peristiwa lapuk beberapa bulan lalu saat wanita belia itu masih menjelma menjadi sembilu yang kerap menyayat hatiku dengan sikap dinginnya, saat itu ia masih saja belum berterima dicintai oleh pria seusiaku dan aku pun tak pernah perduli akan benang merah antara kami.


Dan kini bahagianya aku, aku dan dia duduk berdampingan sambil memandang kearah pantai dilantai dua sebuah rumah makan bergaya tradisional dengan suasana yang cukup romantis.Tak jarang kami saling menggulungkan jemari, membuat kemesraan yang saling menyakiti. Tapi siapa perduli. Meski aku ini pria berusia mencapai kepala empat tapi aku masih bisa mengimbangi wanita yang baru mencicipi usia kepala dua ini. Ya, tak dipungkiri perbedaan usia sejauh itu kerap membuat perih hati dan mengazab dijiwa saat kami mencoba memahami arti perasaan ini.  Bertengkar soal hal ini, bukan lagi sekali dua kali. Apalagi jika dipikir-pikir pasti banyak pria muda seusianya lalu lalang dihadapannya, tak jarang menggoda lewat pesan singkat di handphonenya. Aku pun sempat lelah jika membayangkan nantinya ia akan tergoda oleh salah satu diantara mereka. Tetapi lagi-lagi aku selalu menyakini diriku, bahwa cinta tak pernah mengenal lelah dan sia-sia. Semoga perasaan dan kesetiaannya tetap begini, sampai keadaan saling mengamini. Atau mungkin, biarlah perasaan ini akan terus memanjang meski perpisahan benar-benar datang.

Kamis, 30 April 2015

(Puisi) Teori Basi



Ku harap hujan turun lebih lama
Agaknya itu yang patut ku damba
Dari pada langit sumringah ditengah tikar airmata
Itu lebih menyakitkan daripada  jatuh cinta
           
Disaat seperti ini, yang aku butuhkan hanyalah aroma
            Bukan mawar ataupun melati
            Aku hanya butuh aroma harum tanah
            Bukan juga berarti aku berharap ada manusia ditaruh dipeti

Aku ingin hujan turun sepanjang hari
Suara gemuruh hujan seperti sorak sorai tepuk tangan manusia
Saat aku tengah bermimpi
Lewat lukisan yang ku buat setiap hari.
           
Saat hujan makin deras langit makin kelam
            Bintang-bintang berjatuhan
            Menjadi dekorasi alami bagi semesta ini
            Membuat adrenalinku berpacu tinggi

Aku ini manusia setengah mati
Hidup dengan banyak saraf-saraf yang yang tak lagi berfungsi
Yang aku andalkan hanya kidalku ini
Meski bau lelah mulai ku ciumi beberapa kali
           
Tak jarang aku duduk diatas sajadah suci
Sekedar untuk menangis atau merintih
Meski ku tau hal itu tidak ada gunanya sama sekali
Jika tak diimbangi dengan sujud dan rukuk berulang kali

            Tetapi gimana lagi
            Yang bisa dilakukan oleh seorang difabel sepertiku hanyalah ini
            Kaki dan tangan sudah tak ku kenali
            Meski aku masih punya kidalku ini
            Bagaimana bisa aku beribadah secara manusiawi

Seringkali aku berpegang pada teori basi
Yang bilang keterbatasan bukanlah penghalang lagi
Nyatanya? Yang merasain toh aku sendiri
Itu teori jangan diubar lagi
           
            Jangan mengimingiku dengan teori-teori basi
            Lebih baik kau beri aku sedikit peluang untuk bermimpi
            Misal, dengan cara kau menangkan karyaku dalam perlombaan kali ini
            Wahai tuan berjas hitam dan kemeja putih

Resahku tak jua menepi
Saat ku tau pengumuman lomba melukis adalah hari ini
Tapi kau membuangku ke benua yang sepi
Saat ku dengar kau memberi koper berisikan lembar yang dicetak di Peruri
Negara macam apa ini?
Kemenangan saja dapat dibeli

            Ingin rasanya ku beri dera pada mu
Wahai tuan yang ku maksud tadi
Namun sayang tuhan hanya menciptakan ku hanya dengan kidalku
Sungguh ironi, jika harus ku kotori kidalku untukmu.


Catatan : 
Puisi ini sedang diikut sertakan dalam lomba di Penerbit Kakaye Publishing.
Dengan tema : Impossible, keterbatasan menjadi tanpa batas
Jakarta 30 April, 2015 

Sabtu, 18 April 2015

(Cermin) Tulislah

Malam itu, aku terbangun dalam tidur ku yang belakangan ini tak nyenyak, ada sesuatu yang hilang dari hidupku, tak ada pesan yang masuk ke inbox ku. Secara gampang, kau boleh menyebut itu adalah kondisi dimana aku resah menanti pesan dari kekasihku. Aku putus asa dengan hubungan kami, sebab terakhir kali kami berkomunikasi, kami membicarakan hal yang membuat dadaku sesak, bisa dibilang aku dan dia sudah tak lagi jadi kita.

Mensiasati jemuku malam itu, aku putuskan mengambil papan qwerty milikku dan ku biarkan jemariku menari diatasnya. Tanpa sadar beberapa lembar telah ku isi penuh dengan rangkaian kata yang ku buat secara bercerita. Ku mulai karir ku dari situ, tak ada yang mengira bahwa tulisan yang ku buat dengan perasaan pilu justru mempertemukanku dengan karirku.

 Sebab itu, Kau tau? Aku pernah berada di posisimu, saat harapan menjadi pegangan, saat semangat tetap membara meski jemu melanda. Yang harus kamu lakukan adalah jangan pernah kenal lelah untuk berkarya, meski tak banyak yang membacanya. Terus berkarya tanpa henti, jangan pikiri tulisan mu berarti atau tidak dikemudian hari. Ujarku kala itu pada seorang anak magang diperusahaanku yang tengah terdiam menatap sampul buku yang ia buat sendiri dengan synopsis yang telah tercantum didalamnya alih-alih sebagai harapan bisa diterbitkan dikemudian hari. 

Rabu, 15 April 2015

(Cerpen) Curahan Hati

Aku hanya enggan kehabisan pembicaraan hingga aku merasa perlu jeda sesekali untuk tidak saling berkomunikasi. Namun tidakkah kau ingat aku pernah bicara sesuatu padamu, yang sebenarnya ini rahasia hati yakni, kerap kali yang ku ucapkan lain di hati?

Ah, aku rasa kamu lupa akan hal itu. Yang kamu tahu hanyalah ego dan gengsiku yang siapapun tak bisa tandingi. Padahal, sebenarnya kau salah mengerti maksud hatiku. Aku hanya merasa tak pantas bila seorang wanita belia seperti ku mengganggu pria dewasa seperti mu yang selalu didampingi setumpuk pekerjaan yang tak pernah berkesudahan dengan pesan-pesan yang tidak lebih penting dari gulungan nikotin yang selalu kau bawa kemanapun kau pergi.

Namun, dibalik penantian ku tiap hari yang tidak kau ketahui. Aku selalu merasa kebahagiaan milik ku sendiri dan terasa begitu dekat, sedekat jarak restoran dengan tepi laut tempat kita saling berpaut wajah kala itu. Hanya dengan dua kali kita berada di sana malam itu, namun kenangan yang ku simpan nampaknya akan ku ingat sampai puluhan tahun hidupku. Kedengarannya agak klise,tetapi tidakkah kau tau kebanyakan klise adalah yang berasal dari hati cuma cara meramu kalimat bak capres sedang orasi. Yang memberikan janji dan kebahagiaan tiada henti padahal ujung-ujungnya bikin masyarakat sakit hati. Mungkin persis seperti yang ku ucapkan tadi, tak jarang kau sakit hati dengan sikap ku yang agaknya lebih dingin, tak kenal posisi matahari dan bulan.

Jangan perduli, bagaimanapun sikap ku, sedingin apapun malam itu, dan berapa banyak orang yang melihat dengan mata telanjang saat kita sedang bergandengan tangan yang penting adalah aku cinta kamu sampai aku lupa diri. Mungkin kalimat itu yang paling tepat. Bagaimana tidak bisa-bisanya aku kerap melakukan hal yang diluar kebiasaanku, bahkan banyak hal yang ku lakukan pertama kali denganmu, masabodo nantinya akan ada dua, tiga, empat atau seterusnya, bagi ku kamu itu pemula yang harusnya sih menjadi yang pertama memutuskan tali skaral yang membentang digaris finish. Namun, aku sadar teori itu sudah tidak berlaku lagi. Lihat saja kebanyakan pembalap di paddock, sirkuit sentul yang berada di posisi paling depan saat bendera bercorak hitam putih di angkat keatas kenyataannya jarang sekali yang memenangkan pertandingan dan berdiri sambil mengalungkan medali yang dikelilingi wartawan untuk kemudian gambarnya dimuat di surat kabar. Ya, semoga saja aku salah atau paling tidak semoga saja tak ada yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya seperti yang aku bilang tadi.

Itu bagiku, lain bagi mu (mungkin). Yang aku yakini, kau tidak melakukan ini semua pertamanya dengan ku, aku mewajari tetapi aku masih menaruh harapan besar semoga saja aku salah. Eh, tapi aku mana mau perduli, yang lalu biarlah berlalu seperti katamu di ruangan tadi pagi. Meskipun disitu kau menegaskan pandangan itu hanya berlaku pada satu hal dan tidak berlaku untuk yang lain.

Harusnya kau tidak perlu menjelaskan, percuma saja ucapan itu sudah ku simpan dalam brangkas memori untuk sekedar menghapusnya saja aku enggan sebab aku menyimpannya di tumpukan kertas yang tidak ku ketahui berapa jumlahnya, tentunya tumpukan kertas yang berisi memori. Entah itu dengan yang sebelumnya ini, dengan yang sedang beriringan dengan ku kini atau pun dengan seseorang yang tengah kekeh menjadikan ku seorang istri, selain dirimu.

Beragam pria telah ku temui, bahkan aku menemukan yang sejatinya hampir dikatakan sempurna namun mengapa aku jatuh cinta lagi dengan pria seperti mu? Tidak ada yang salah, hanya saja eranya yang berbeda. Kau pasti mengerti maksudku dan kau sadar akan hal itu tapi kadang kita sama-sama tak memperdulikannya bahkan melupakannya. Padahal, itu benang merah dari ini semua. Dan kali ini aku setuju, jika dalam hati mu saat kau membaca tulisan ku ini, kau sesekali berucap “bukan hanya kamu yang pernah bertemu dengan beragam pria bahkan pernah mendapatkan yang hampir sempurna, aku juga pernah mengalami hal yang sama.” Itu sudah hukum alam. Kita dipertemukan dengan beragam orang di dunia ini dalam jangka waktu yang beragam dan kenangan yang beragam juga.

Aku menulis tulisan ini malam hari tepatnya esok malam, setelah aku panas tinggi. Aku hanya merasa kau sedikit tak ku kenali malam itu. Tak ku dapati keperdulianmu seperti waktu itu, agaknya aku perlu sedih soal ini tetapi setelah aku pikir-pikir harus nya memang bukan kamu yang menemani ku lewat pesan udara itu. Mungkin aku butuh Ibu, sebab aku sedang sendiri malam itu, di kamar yang ku sesewa untuk beberapa bulan di awal tahun duaribulimabelas ini-bacanya pelan-pelan agar tidak mudah protes kenapa aku menulisnya tanpa spasi- kalau kau protes gampang saja, aku tinggal jawab suka-suka aku, aku menulis itu karena aku suka melihat deretan huruf Calibri dengan 1,5 spasi dan aku gemar menulis tahun atau tanggal tanpa angka dan spasi sebab itu lebih terkesan dramatis serta agaknya membuat tulisanku lebih padat, tidak munafik setiap aku menulis aku ingin buru-buru melihat keterangan Word:1600 sebab batas minimal menulis cerita pendek bagiku adalah segitu, kurang dari itu anggap saja aku sedang menulis cerita hemat atau cerita mini seperti yang sering aku tulis untuk kuis di beberapa penerbit belakangan ini.

Saat aku menulis tulisan ini, kau sedang rindu aku? Atau pura-pura rindu? Ah, jangan begitu aku tidak lagi menaruh harapan soal kerinduan itu lagi, terserah saja kau mau menghubungi ku lagi atau tidak, aku tak punya wewenang untuk menyuruhmu menulis beberapa kata untukku. Hanya saja, jangan salahkan aku kalau akan ada seseorang yang bertingkah seperti dirimu di malam itu, menungguku hingga aku terbangun lagi dari tidur ku yang semu disebabkan oleh panas tinggi. Dan aku juga tak menyalahkan diriku kalau saja ada wanita yang akan bertingkah lebih dari yang aku lakukan untukmu, misalnya memberimu kabar tiap hari, menanyakan posisi mu menjelang malam hari, dan protes kalau saja kau tak membalas pesan-pesan yang masuk ke inbox mu itu.

Aku ini bisa apasih, definisi cinta bagiku saja terkesan egois. Aku merasa tak wajar saja bilamana wanita lebih dulu memberi kabar apalagi jika jawaban yang didapati beberapa jam setelah itu. Itu sih sudah kelewat basi. Padahal air putih saja aku liat exp nya sampai duatahun lebih, tetapi mengapa pesan yang ku kirim untukmu dan dibalas selang beberapa jam saja aku merasa itu basi dan tidak berlaku lagi, ya? Semoga kau sudah tak heran dengan sikapku ini dan aku harap kau mudah beradaptasi tapi kalau kenyataannya sebaliknya ya sialahkan saja aku tak bisa interpensi.

Omong-omong soal air putih aku senang sekali menyuruhmu untuk minum cairan itu, sebab itu baik untuk kesehatanmu. Jangan terlampau bebas minum cairan yang tidak mencantumkan lebel halal dikemasannya, sebab itu akan merugikanmu di hari tua nanti ya kalau sesekali sih boleh saja asal jangan diberlakukan semaumu. Kali-kali perlu juga memikirkan kesehatan dihari tua nanti, barangkali kita bisa bersama sampai rambut kita sama-sama memutih seutuhnya. Bukannya itu indah? Dan itu yang selalu membuatku iri di tengah keramaian ibu kota. Masih ada saja mereka-mereka yang berdampingan sampai rambut keduanya memutih seutuhnya, meskipun tidak banyak. Maka dari itu, populasi seperti itu harus di budidayakan oleh kita nanti. 

Setelah aku baca ulang tulisanku di atas, aku agak menasehati mu padahal yang banyak makan asam garamnya kehidupan ini ya kamu.

Jangan tersinggung ya, tulisanku dalam paragraf ini baru aku lanjutkan seminggu kemudian, aku agak tak bernafsu merangkai kata lagi untukmu. Sebab kita berada diposisi jeda saat itu, meski kita sama-sama tahu aku yang selalu memulai semua ini. Setidaknya kau harus tau apa yang terjadi selalu beralasan.


Omong-omong kita sudah dekat setengah tahun -kurang lebih- waktu yang cukup lama bagiku, namamu sudah melekat diingatanku. Kalau suatu hari nanti kau sempat membaca ini aku mohon jangan ingatkan kepadaku lagi, sebab aku ingin larut bersamamu hingga aku lupa pernah menulis ini pada bulan April di awal tahun duaribulimabelas. Semoga kita dekat sampai bulan bergilir, tahun berganti, dan keadaan saling mengamini.