Ku
harap hujan turun lebih lama
Agaknya
itu yang patut ku damba
Dari
pada langit sumringah ditengah tikar airmata
Itu
lebih menyakitkan daripada jatuh cinta
Disaat
seperti ini, yang aku butuhkan hanyalah aroma
Bukan mawar ataupun melati
Aku hanya butuh aroma harum tanah
Bukan juga berarti aku berharap ada
manusia ditaruh dipeti
Aku
ingin hujan turun sepanjang hari
Suara
gemuruh hujan seperti sorak sorai tepuk tangan manusia
Saat
aku tengah bermimpi
Lewat
lukisan yang ku buat setiap hari.
Saat
hujan makin deras langit makin kelam
Bintang-bintang berjatuhan
Menjadi dekorasi alami bagi semesta
ini
Membuat adrenalinku berpacu tinggi
Aku ini manusia
setengah mati
Hidup dengan banyak saraf-saraf
yang yang tak lagi berfungsi
Yang aku andalkan hanya
kidalku ini
Meski bau lelah mulai
ku ciumi beberapa kali
Tak jarang aku duduk
diatas sajadah suci
Sekedar untuk menangis
atau merintih
Meski ku tau hal itu
tidak ada gunanya sama sekali
Jika tak diimbangi
dengan sujud dan rukuk berulang kali
Tetapi gimana lagi
Yang bisa dilakukan oleh seorang difabel sepertiku hanyalah ini
Kaki dan tangan sudah tak ku kenali
Meski aku masih punya kidalku ini
Bagaimana bisa aku beribadah secara manusiawi
Seringkali aku
berpegang pada teori basi
Yang bilang
keterbatasan bukanlah penghalang lagi
Nyatanya? Yang merasain
toh aku sendiri
Itu teori jangan diubar
lagi
Jangan mengimingiku dengan teori-teori basi
Lebih baik kau beri aku sedikit peluang untuk bermimpi
Misal, dengan cara kau menangkan karyaku dalam perlombaan
kali ini
Wahai tuan berjas hitam dan kemeja putih
Resahku tak jua menepi
Saat ku tau pengumuman
lomba melukis adalah hari ini
Tapi kau membuangku ke
benua yang sepi
Saat ku dengar kau
memberi koper berisikan lembar yang dicetak di Peruri
Negara macam apa ini?
Kemenangan saja dapat
dibeli
Ingin rasanya ku beri dera pada mu
Wahai
tuan yang ku maksud tadi
Namun
sayang tuhan hanya menciptakan ku hanya dengan kidalku
Sungguh
ironi, jika harus ku kotori kidalku untukmu.
Catatan :
Puisi ini sedang diikut sertakan dalam lomba di Penerbit Kakaye Publishing.
Puisi ini sedang diikut sertakan dalam lomba di Penerbit Kakaye Publishing.
Dengan tema : Impossible, keterbatasan menjadi tanpa batas
Jakarta 30 April, 2015
Jakarta 30 April, 2015

