Rabu, 13 Mei 2015

(FriendshipNeverEnds) Langkah Kaki



Tiga Belas Mei 2015, Cuaca cukup muram. Air hujan mengguyur jalan aspal daerah rumahku. Aku hampir mati gaya mensiasati hari ini. Hingga kuputuskan untuk menjelajahi dunia semu di depan layar lebar kegemaranku. Kalian pasti tau, ya laptop pribadiku.

Kucoba membuka beberapa situs mulai dari situs yang memuat tentang berita, sosial media, bahkan sampai situs porno yang tak sengaja muncul di layar lebarku. Ah, aku benci sekali ini hal ini. Selalu saja muncul situs atau iklan yang memuat gambar-gambar keji yang tak pantas di pertontoni. Akhirnya kuputuskan untuk mencari hal yang agak berbau manusiawi dan bernilai positif tinggi.

Kumulai dengan mengetik beberapa huruf di atas papan qwerty, kutuliskan kata ‘Lomba Menulis’ pada sudut kanan atas yang di lengkapi dengan symbol kaca pembesar. Kurasa semua orang hampir mengenali, symbol itu berarti “searching” dalam sebuah jaringan komunikasi. Nah, yang kubuka itu terdapat disalah satu jejaring sosial yang dinamakan Twitter.

Kemudian muncul lah beberapa link lomba menulis yang bisa ku ikuti namun sayangnya akun @nulisbuku dan @Tiket.com lebih menarik perhatianku. Padahal, deadline pengumpulan naskah yang tertera agaknya menyesakkan hati. Aku dituntut untuk menggerakan jemari di atas papan qwerty pada tanggal di hari ini, untuk sekedar menarasikan sebuah kisah persahabatan yang tak akan berakhir atau sebut saja dengan tema #FrienshipNeverEnds.
Ah, aku merasa kudet. Mengapa hari ini menjadi batas pengumpulan naskah yang terakhir kali? Sungguh ironi.
        
    Dengan itu, tanpa basa basi aku langsung mencari isnpirasi lewat berbagai tulisan cerita pendek yang sering kubaca. Dan sambil melihat beberapa gambar diriku dengan sahabat-sahabatku, namun aku tertarik pada satu gambar. Ya gambar sepasang kaki. Kuputuskan untuk menjadikan gambar itu inspirasi dalam menulis cerpen kali ini. Gambar itu adalah dua buah pasang kaki yang disampingnya terdapat dua buah tas wanita yang diletakan di pelataran alun-alun Bandung. Gambar itu ku ambil sendiri, alih-alih menjadi moment yang nantinya mungkin akan sangat berarti. Kedua pasang kaki itu adalah kaki yang sudah hampir tiga tahun berjalan beriringan. Singkatnya, kedua pasang kaki itu adalah kaki ku dan sahabat baikku. Aku menggenakan flatshoes berwarna merah dengan tas ilustrasi Marlyn Mondroe sedangkan sahabat ku mengenakan sepatu cats putih yang panjangnya sampai ke mata kaki dan tas berwarna hitam pekat ke gemarannya.

            Pernah aku mengunduh gambar ini ke instagram dan ku tambahi caption “Kemana kaki kita akan melangkah lagi?” ditambah hastag #Resolusi #Mahasiswa #2015 . Caption yang ku tulis bukan sekedar dereta kata yang tak bermakna. Aku sangat berharap kaki-kaki ini akan melangkah lebih jauh lagi, dengan biaya sendiri bukan lagi menadah pada kedua orang tua.

            Keberadaan ku di Bandung kala itu bukan sekedar untuk refreshing  semata. Melainkan kami mempunyai urusan yang agaknya perlu di prioritaskan. Kampus ku mempunyai program perkuliahan yang agak berbeda dengan kebanyakan kampus lain. Biasanya kampus lain mengadakan Magang Industri hanya satu kali selama perkuliahan tetapi kampusku mengadakan Magang Industri dua kali selama duduk di bangku perkuliahan. Dan ini cukup membuat kalut pikiranku, sebab magang industri yang kedua ini cukup panjang, yakni tiga bulan lamanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengajak sahabatku ini berkelana ke Bandung berdua saja, alih-alih melamar magang di Balai Bahasa Bandung.

            Namun, betapa cerobohnya kami saat itu. Hingga lupa memikirkan tempat yang akan kami huni selama berada disana.

“Tan, terus kita nginap dimana malam ini” Ujar sahabatku itu saat kami sudah menduduki kursi kereta kelas eksekutif.

“Oh iya, MasyaALLAH gak kepikiran. Main berangkat aja kita” Ujarku agak kaget.
Padahal saat itu jarum jam menunjukan pukul sembilan malam dan di perkirakan kami akan tiba di Bandung larut malam. Kira-kira dua jam setelah berangkatan itu. Memang, keberangkatan kami di Bandung tidak dipersiapkan matang-matang awalnya hanya terlontar biasa saja saat kami sedang bersama. Tanpa di duga, rencana berubah menjadi agak sakral dan dilaksanakan hari itu juga.

“Sudah, tidak usah dikuatirkan kalian langsung aja check in atas nama kamu” ujar seorang pria di sebuah telpon yang tengah ku genggam.

“Ah, terimakasih.. baiknya abang ku ini” saut ku pada pria di telpon itu.

“Jadi, malam ini kita di sponsori?” kata teman ku dengan sigap.
Suasana terkesan lebih tenang lepas itu tetapi tunggu dulu…beberapa pegawai kereta api menghampiri kami.

“maaf mba-mba kursi yang kalian duduki itu bukan milik kalian, silahkan pindah ke gerbong bisnis”

Ah, sial. Pegawai kereta api membuat kami agak malu hati. Kami pikir ini gerbong bisnis enggak taunya gerbong eksekutif. Suasanya berubah lagi, menjadi agak ramai dengan bunyi ketawa kami yang agaknya seperti suara ringkik kuda dimalam hari.

Esok hari pun tiba, kami langkahkan kaki menuju tempat yang sama sekali belum pernah aku pijaki. Balai Bahasa Bandung. Dengan agak sedikit nekat kami mencari nya dengan berjalan kaki, sebab kata kebanyakan pendudukan di kota ini, Balai Bahasa Bandung letaknya tak jauh dari hotel yang kami huni malam tadi.

            Sesampai disana, keringat mengalir dari ujung rambut sampai kaki. Dandanan yang tadinya rapih kini menjadi tak terkendali, agak basah dan kusut. Namun semua itu terbayar dengan sambutan hangat Ibu Kepala bidang Tata Usaha di Balai Bahasa Bandung. Permohonan Magang Industri kami di terima dengan senang hati. Ah, lega sekali.

Setelah itu kami melanjutkan langkah kaki menuju tempat-tempat wisata di kota ini, dengan menggunakan angkutan antar kota tentunya. Tak jarang kami dapati hal-hal lucu yang kami sendiri tak mengerti dan tak jarang kami berada di posisi moody. Namun tiga hari disana kami lalui dengan senang hati, meski berdua saja tak apa. Sebab aku tak butuh banyak teman untuk berjalan bersama kalau akhirnya saling sikut di sebuah persimpangan. Bagiku persahabatan tidak sama seperti cinta yang mudah guyah dan berubah-ubah hanya dengan beberapa perbedaan yang ada. Berbeda kulit, berbeda kelas sosial bahkan berbeda agama tak jadi kendala, asalkan tidak saling mengunjing satu sama lain dan memberikan senyum palsu saat-saat tertentu.  Aku hanya butuh gelak tawa yang tulus dalam sebuah persahabatan,  meski dengan siapapun berteman pasti mengalami fase sulit menyatukan diri. Setidaknya dengan Riri, aku seperti menemukan teman untuk mewujudkan resolusi ku di tahun ini. Ya, Riri adalah nama temanku yang ada didalam foto itu. Oh ya, resolusiku tahun ini adalah duduk di kursi sebuah perusahaan sebagai editor atau penulis handal, tentunya setelah aku dapati tali toga yang dipidahkan dari kiri ke kanan diberengi dengan gelar sarjana dibelakang namaku nanti. Lain itu, aku berharap persahabatan aku dan teman ku ini akan kekal sampai nanti. Meski banyak ketidak cocokan tak ku pungkiri. Namanya juga hidup banyak warna yang kerap tak solid tetapi disitulah nilai nya.

Kini, kami sudah sibuk dengan dunia kami sendiri. Tentunya dengan berbagai kesibukan menuju masa depan yang lebih baik. Lain waktu, kaki kami akan melangkah ke negeri sebrang dengan biaya sendiri. Jangan lupa di amini yaJ

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dannulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .


#FriendshipNeverEnds

4 komentar:

  1. Lucu banget kaos kakinya #eh gagal fokus hihi. Saya juga ikutan. http://www.novawijaya.com/2015/04/selfie-story-in-beautiful-island.html

    BalasHapus
  2. Aamiin yaRabb. Sukses terus generasi muda dalam berkarya:)

    BalasHapus
  3. amin
    salam kenal dari @guru5seni8
    penulis di http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com dan www.kartunet.or.id

    BalasHapus