Jumat, 05 Juni 2015

(CERPEN) Beranjak Dari Realita

DENGAN HATI berat aku tuliskan cerita ini untuk kalian. Sudah sepatutnya cerita ini ditujukan pada kalian, sebuah cerita yang memilukan dan menyedihkan. Kalian, yang terlahir dengan harta dan tahta orangtua. Pernahkah membayangkan jika kalian terlahir dari rahim ibu yang tidak punya apa-apa selain rasa syukur yang teramat berlebihan? Apakah di antara kita ada yang bisa memilih akan terlahir dari rahim yang mana, orangtua yang seperti apa dan tingkat kesenjangan sosial dikelas mana?
            
    Tidakkah kalian yang terlahir dibawah atap keluarga yang aman, bisa merasakan pilu hidup yang dialami orang-orang disekitar kalian? yang setiap hari kalian santap hasil jerih payahnya, hasil keringatnya, hasil usahanya yang tidak dibayar sesuai dengan yang mereka kerjakan. Ya. Mereka para nelayan, petani, dan sejenis mereka lainnya. Mungkin ada di antara mereka yang yatim–piatu, yang tidak mendapat perlindungan dari rasa lapar yang paling menyiksa. Padahal, padi yang mereka panen setiap harinya. Ladang yang mereka bajak setiap harinya adalah sumber asupan pokok negara kita ini? Namun mengapa justru mereka-mereka sendiri yang sulit memakan padi itu dalam bentuk nasi. Nasi yang dalam jumlah banyak, dan berkualitas baik seperti yang mereka harapkan disetiap proses penggarapannya.

Yang mereka makan adalah nasi yang belum pantas disebut nasi. Ditambahlagi, lauk-pauk yang mereka makan tidak lebih banyak dan tidak lebih besar dari padi-padi dalam segumpal genggam tangan. Kalian tahu yang aku maksud? Teri! Kalian mengerti? Lauk-pauk yang mereka makan tidak pernah berkombinasi. Hanya nasi putih dan kumpulan teri yang dimakan untuk dibagi-bagi dengan seisi rumah. Biasanya, terdiri atas ibu, ayah, nenek, kakek, dan beberapa anak yang masih bisa dihitungan dengan jari. Akan tetapi, kalian tahu sendiri jumlah anak hitungan jari jika ingin dikatakan sedikit ya kisaran dua sampai tiga. Lah. Ini. Kasusnya beda lagi. Jumlah anak hitungan jari mencapai lima sampai tujuh kepala. Bayangkan. Memakan nasi dengan kumpulan teri yang dibagi-bagi.

Sayangnya, bagaimana pun baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini, masih ada saja yang kalian rasa kurang. Sedangkan, mereka yang berada dalam kekurangan ingin berbebas dari kekurang itu. Ralat bukan terbebas. Hanya butuh sedikit keringanan. Kalian? Malah selalu ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang hidup dalam kecukupan ingin lebih cukup lagi. Dari semua perasaaan kurang itu, dari semua hasrat ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah itu, kalian menghalalkan segala perbuatan. Bahkan, rela mengambil recehan-recehan dari tangan petani, nelayan,dan sejenis mereka lainnya. Tak sadar?  Sudah berapa program pemerintah yang mengatas namakan bangsa dan Negara?

Sudah berapa banyak kebijakan yang dibuat berdasarkan kepentingan rakyat? Namun sudah berapa banyak juga program yang kalian jalankan kemudian kalian persulit prosedurnya? Jika di antara mereka ingin membuat Kartu Jakarta Sehat saja misalnya kalian buat rumit segala macam prosesnya, parahnya selalu saja ada kotak hijau disamping petugas yang melayani. Kotak itu tak ubahnya sebuah basa-basi rakyat, banyak diantara mereka kulihat memasukkan selembar uang dua ribu rupiah sampai dengan dua puluh ribu rupiah kedalamnya alih-alih sebagai ucapan terimakasih dan ataupun tidak enak hati. Sudahlah jangan basa-basi lagi personal ini. Kalau memang tidak ada maksud mengambil recehan dari tangan mereka-mereka untuk apa kalian letakan kotak hijau itu disamping meja kalian. Tidakkah itu kewajiban kalian? Tidakkah gaji kalian dibayar include untuk menangani masalah-masalah rakyat seperti ini.

Seluruh lapisan masyarakat hidup dalam kekurangan, kelaparan, dan kemiskinan. Sayur-mayur. Lauk-pauk hasil tangkapan mereka jatuh ketangan pedangang dengan harga yang tidak seberapa. Memang kehidupan disekitar mereka, hanya golongan pedagang yang dapat hidup baik dari kemiskinan dan kelaparan itu. Sedangkan, mereka para petani, nelayan dan semacam dari mereka. Masih butuh pekerjaan tambahan untuk sekedar mengisi perut dan melanjutkan hidup yang ekspektasinya dalam hitungan hari. Ada yang mencari tambahan dengan menjadi penenun batik, buruh, dan tukang cuci ditetangganya sendiri. Batik yang mereka buat dengan modal orang lain kualitasnya sangat terjamin. Sayangnya, mereka tak pernah punya cukup uang untuk membeli kain mori;bahan baku batik yang berbuat dari kapas; yang harganya tak pernah bisa mereka sanggupi. Untuk itu, mereka rela menjadi penenun batik dengan upah paling sepuluh ribu sehari. Padahal, kalau mereka buat sendiri dengan modal sendiri penghasilan yang mereka dapatkan bisa mencapai ratusan ribu.
Apa yang kalian rasakan wahai orang-orang berdasi yang tak pernah melirik kehidupan rakyat seperti mereka-mereka ini? Mengaku-aku bisa merasakan kehidupan mereka padahal mengalami secara langsung saja tidak pernah. Baiknya kalian tidak perlu banyak berorasi, segara buatkan mereka-mereka ini koperasi dengan persyaratan yang benar-benar dapat mereka sanggupi. Bukan dengan persyaratan yang menurut kalian;harus mereka sanggupi; Mengerti? Aku rasa ini solusi terbaik dalam menangangi permasalah rakyat kecil seperti mereka-mereka ini.


Andai saja, aku ini seorang wanita berusia matang dengan harta dan tahta ditangan seperti Ibu Megawati Soekarno Putri. Aku pasti sudah melaksanakan apa-apa saja yang bisa kulakukan untuk meringankan beban-beban mereka itu. Sayangnya, aku ini hanya wanita belia yang belum mempunyai harta dan tahta. Aku hanya hidup dengan rangkaian kata yang kubuat dari realita. Jangan tersingung mengapa aku menyebut satu nama seperti diatas tadi, aku ini wanita yang baru mencicipi kepala dua, yang aku tau sosok pemimpin wanita di negeri kita ini siapa lagi kalau bukan Kartini dan Megawati.  

Jakarta, 06 Juni 2015. Cerita ini dibuat atas pembicaraan kecil bersama Mas Lalu Hilman Afriandi staff ahli DPD RI. 

3 komentar: